Puisi: Ada Jarak (Karya Piek Ardijanto Soeprijadi)

Puisi “Ada Jarak” karya Piek Ardijanto Soeprijadi merupakan refleksi mendalam tentang keterbatasan manusia dalam menghadapi jarak—baik ruang, ...
Ada Jarak

Berdiri di pinggang bukit meniti garis alit
pertemuan bumi dengan langit
sadar ada jarak antara sini dengan sana
tapi entah berapa jauhnya
mungkinkah kita meraih satu titik di cakrawala.

Berdiri di pinggang bukit meniti jalan jarum jam
sementara bernapas lepas dalam-dalam
sadar ada jarak antara kini dengan nanti
tapi entah berapa lamanya
mungkinkah kita menangkap satu detik di ujung waktu

Berdiri di pinggang bukit kini di sini
berdampingan tersaput sepi
siapa tahu pasti
berapa panjang jarak hati kita
berapa lama tegangan rasa tahan menanti putusnya.

Solo, 1984

Sumber: Lagu Bening dari Rawa Pening (Tiga Serangkai, 1984)

Analisis Puisi:

Puisi “Ada Jarak” menyajikan perenungan mendalam tentang jarak—baik secara fisik, waktu, maupun perasaan. Dengan latar alam berupa bukit dan cakrawala, penyair membangun metafora yang kuat tentang keterpisahan dan ketidakpastian dalam kehidupan manusia.

Tema

Tema utama dalam puisi ini adalah jarak dan keterpisahan dalam kehidupan dan hubungan manusia. Selain itu, terdapat tema tentang waktu, harapan, dan ketidakpastian.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang berdiri di sebuah bukit, memandang cakrawala dan menyadari adanya jarak antara berbagai hal: antara “sini dan sana”, “kini dan nanti”, hingga “hati dan perasaan”. Penyair merenungkan apakah jarak-jarak itu dapat dijangkau atau dipahami. Dalam bagian akhir, puisi menjadi lebih personal dengan mempertanyakan jarak emosional antara dua insan yang berdampingan namun tetap diselimuti sepi.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini antara lain:
  • Jarak tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga waktu dan emosional.
  • Manusia sering berada dalam ketidakpastian, tidak mengetahui seberapa jauh atau lama sesuatu dapat dicapai.
  • Kedekatan secara fisik tidak menjamin kedekatan secara batin.
  • Harapan untuk “meraih” atau “menangkap” sesuatu mencerminkan keinginan manusia mengatasi keterbatasan.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini terasa hening, reflektif, dan melankolis, dengan nuansa kesepian yang halus.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang dapat ditafsirkan:
  • Manusia perlu menyadari dan menerima adanya jarak dalam kehidupan.
  • Kedekatan sejati membutuhkan lebih dari sekadar keberadaan fisik.
  • Penting untuk memahami perasaan dan menjaga hubungan agar tidak terputus oleh jarak batin.

Imaji

Puisi ini memiliki imaji yang kuat:
  • Imaji visual: “pinggang bukit”, “cakrawala”, “pertemuan bumi dan langit”.
  • Imaji gerak: “meniti garis alit”, “meniti jalan jarum jam”.
  • Imaji suasana: kesunyian di ketinggian.
  • Imaji perasaan: sepi, ragu, dan harapan.

Majas

Beberapa majas yang digunakan:
  • Metafora: jarak sebagai simbol keterpisahan fisik, waktu, dan batin.
  • Simbolisme: bukit dan cakrawala sebagai lambang tujuan atau harapan yang jauh.
  • Paradoks: berdampingan tetapi tetap berjarak secara perasaan.
  • Retoris: pertanyaan tentang jarak dan waktu yang tidak membutuhkan jawaban pasti.
  • Personifikasi: waktu digambarkan seperti sesuatu yang bisa “ditangkap”.
Puisi “Ada Jarak” karya Piek Ardijanto Soeprijadi merupakan refleksi mendalam tentang keterbatasan manusia dalam menghadapi jarak—baik ruang, waktu, maupun perasaan. Dengan bahasa yang sederhana namun penuh makna, puisi ini mengajak pembaca untuk merenungkan hubungan, harapan, dan kesepian yang sering hadir dalam kehidupan.

Piek Ardijanto Soeprijadi
Puisi: Ada Jarak
Karya: Piek Ardijanto Soeprijadi

Biodata Piek Ardijanto Soeprijadi
  • Piek Ardijanto Soeprijadi (EyD Piek Ardiyanto Supriyadi) lahir pada tanggal 12 Agustus 1929 di Magetan, Jawa Timur.
  • Piek Ardijanto Soeprijadi meninggal dunia pada tanggal 22 Mei 2001 (pada umur 71 tahun) di Tegal, Jawa Tengah.
  • Piek Ardijanto Soeprijadi adalah salah satu sastrawan angkatan 1966.
© Sepenuhnya. All rights reserved.