Ada Julur-Julur Putih Berwarna dari Takikan-Takikan Menetes Satu Dua Merambati Sepi yang Senantiasa bagai Bunga
Bagai bunga yang dirambati sepi yang senantiasa
menetes satu dua takikan-takikan
berwarna julur-julur putih seperti julur rama-rama
yang senantiasa dirambati sepi yang senantiasa.
Bagai bunga: sepi merambati tanpa angin yang goyangkan
mahkotanya. Takikan-takikan yang menetes satu dua
dengan hitungan yang terbata-bata seperti kanak dengan
gembiranya belajar mengucapkan: Alifbata.
Julur-julur warna putih seperti julur rama-rama
yang sok sibuk bekerja tanpa pulpen
bermula dari tangkai merambati keseluruhannya
menjamahi bunga yang bersedia dicumbu tanpa tawaran.
1973
Sumber: Horison (Maret, 1975)
Analisis Puisi:
Puisi dengan judul panjang karya Adri Darmadji Woko ini menghadirkan komposisi bahasa yang repetitif, simbolik, dan sangat imajinatif. Struktur lariknya menekankan pengulangan frasa “merambati sepi yang senantiasa” serta citraan “julur-julur putih”, “takikan-takikan”, dan “bunga”. Seluruh elemen ini membentuk lanskap puitik yang bergerak perlahan, intim, dan kontemplatif.
Puisi ini tidak bergerak secara naratif, melainkan membangun suasana dan pengalaman batin melalui metafora yang padat.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kesunyian yang merambat dalam diri atau kehidupan, serta proses pertumbuhan atau perubahan yang berlangsung perlahan. Sepi bukan digambarkan sebagai kekosongan, melainkan sebagai sesuatu yang aktif—ia merambati, menjalar, dan menjamah.
Selain itu, puisi ini juga menyentuh tema kepolosan, proses belajar, dan pengalaman awal kehidupan, yang tampak dalam perbandingan dengan “kanak dengan gembiranya belajar mengucapkan: Alifbata.”
Makna Tersirat
Makna Tersirat dalam puisi ini dapat ditafsirkan sebagai gambaran pengalaman batin yang halus dan personal. “Sepi” mungkin melambangkan kesadaran diri, kontemplasi, atau bahkan luka yang tumbuh perlahan.
“Julur-julur putih” bisa dimaknai sebagai simbol pikiran, ide, kenangan, atau bahkan waktu yang menetes perlahan. Takikan-takikan yang menetes satu dua memberi kesan proses yang tidak sekaligus, melainkan bertahap dan penuh jeda.
Perbandingan dengan anak kecil yang belajar mengucapkan “Alifbata” menyiratkan proses awal—sebuah fase pembelajaran, kepolosan, atau kelahiran makna. Dengan demikian, puisi ini bisa dimaknai sebagai metafora tentang pertumbuhan kesadaran atau pengalaman emosional yang berkembang dalam keheningan.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi terasa hening, intim, dan reflektif. Tidak ada gerak yang riuh; bahkan disebutkan “tanpa angin yang goyangkan mahkotanya”. Segala sesuatu bergerak dalam kesunyian yang pelan dan mendalam.
Nuansa kontemplatif sangat kuat, seolah pembaca diajak masuk ke ruang batin yang sunyi namun penuh getaran halus.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Amanat yang disampaikan puisi ini dapat dipahami sebagai ajakan untuk menerima proses—baik itu pertumbuhan, kesunyian, maupun pengalaman batin—yang berlangsung perlahan. Puisi ini juga mengisyaratkan bahwa sepi bukan semata-mata kekosongan, melainkan ruang tempat sesuatu bertumbuh. Dalam keheningan, terdapat gerak yang halus namun bermakna.
Puisi ini merupakan komposisi liris yang menekankan proses dan kesunyian sebagai ruang pertumbuhan. Dengan citraan bunga, julur-julur putih, dan takikan yang menetes perlahan, penyair membangun metafora tentang pengalaman batin yang berkembang secara bertahap.
Melalui bahasa yang repetitif dan simbolik, puisi ini menegaskan bahwa dalam sepi terdapat gerak—perlahan, lembut, namun penuh makna.
Karya: Adri Darmadji Woko
Biodata Adri Darmadji Woko:
- Adri Darmadji Woko lahir pada tanggal 28 Juni 1951 di Yogyakarta.
