Air Mata Bunda
Di lumbung maut angin kembara
Mengirim percik cahaya di dadamu
Melesat, menghunjam dipacu waktu
Isakmu beriak duka, luka ini begitu tanak
Saat rumah serupa ampas kopi, retak
dan puntung rokok berteman sunyi,
Beku dari sapa, romansa dan amarah
Air mata bunda
Di jejak sejarah, berdarah
Menggenang di kolam jantung
Ketika azan melecut nafas
Mengulang degup gelisah bertarung
Membidik zaman yang kian parah
Maret, 2010
Analisis Puisi:
Puisi "Air Mata Bunda" karya Weni Suryandari menciptakan gambaran yang mendalam dan penuh emosi tentang penderitaan dan kepedihan seorang ibu.
Gambaran Penderitaan dan Keberanian: Puisi ini membawa pembaca ke dalam lumbung maut di mana angin kembara menerpa. Gambaran ini menunjukkan keberanian dan ketabahan dalam menghadapi cobaan hidup, bahkan ketika berada dalam situasi sulit.
Percikan Cahaya di Dadamu: Percikan cahaya di dadamu menciptakan kontras antara kegelapan dan harapan. Ini dapat diartikan sebagai tanda-tanda kehidupan dan kemungkinan kebaikan yang masih ada di tengah-tengah kesulitan.
Rumah Serupa Ampas Kopi yang Retak: Metafora "rumah serupa ampas kopi, retak" menciptakan citra rumah yang hancur dan tidak utuh. Ini dapat merepresentasikan kondisi kehidupan yang sulit dan penuh dengan kepahitan.
Puntung Rokok dan Sunyi: Puntung rokok berteman sunyi menunjukkan kesendirian dan kesepian yang mungkin dirasakan oleh ibu. Keberadaan sunyi di dalam rumah dapat mengeksplorasi rasa kehilangan dan kekosongan.
Air Mata Bunda di Jejak Sejarah: Air mata bunda di jejak sejarah yang berdarah menciptakan citra dramatis dan menggambarkan penderitaan yang telah berlangsung lama. Jejak sejarah dan darah menggambarkan beban sejarah dan keturunan yang diwariskan.
Azan dan Degup Gelisah: Azan dan degup gelisah yang bertarung menciptakan suasana religius dan spiritual. Hal ini menyoroti peran agama dan keimanan dalam menghadapi penderitaan dan tantangan hidup.
Mengulang Degup Gelisah Bertarung: Pengulangan degup gelisah yang bertarung memberikan kesan intensitas dan perjuangan yang berkelanjutan. Ini menciptakan nada emosional yang mendalam.
Membidik Zaman yang Kian Parah: Membidik zaman yang kian parah menyiratkan perasaan kekhawatiran terhadap masa depan yang semakin sulit dan berat. Ini menciptakan kesadaran akan tantangan dan ketidakpastian yang dihadapi.
Puisi "Air Mata Bunda" membawa pembaca ke dalam perjalanan emosional dan penuh makna. Dengan menggunakan bahasa metaforis dan imajinatif, penyair berhasil menyampaikan pesan kepedihan dan keberanian seorang ibu dalam menghadapi berbagai cobaan hidup. Puisi ini mengajak pembaca untuk merenung tentang kekuatan perjuangan dan arti kehidupan yang penuh dengan ujian.
Karya: Weni Suryandari
Biodata Weni Suryandari:
- Weni Suryandari lahir pada tanggal 4 Februari 1966 di Surabaya, Indonesia.
