Aku Cari
Betapa Aku cari
Rumput-rumput hijau
Kepak burung
Mengejar surya
Di atas bukit ini!
Menguak sepi demi sepi
Di sela semak kering
Yang tandus dan keras
Jalan setapak mendaki!
Tak juga
Desir angin
Gerak bayangan
Dirimu yang terus
Melebarkan angan-angan
Ikut menanjak tinggi!
Betapa Aku cari
Di sela batu-batu
Gumpalan nasibmu
Merenungi! Engkau yang terhantar
Jauh di bawah
kaki dan lembah!
Ngrayun — Ponorogo, Mei 1983
Sumber: Horison (Oktober, 1984)
Analisis Puisi:
Puisi “Aku Cari” karya Slamet Sukirnanto menghadirkan perjalanan batin yang dilukiskan melalui lanskap alam. Dengan diksi yang sederhana namun simbolik, puisi ini memadukan pencarian fisik di ruang terbuka dengan pencarian makna dan keberadaan seseorang yang terasa jauh.
Tema
Tema puisi ini adalah pencarian—baik pencarian makna, harapan, maupun sosok yang dirindukan—di tengah kesunyian dan keterasingan.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah perjuangan mencari harapan atau makna hidup di tengah kondisi yang keras dan tidak ramah.
“Rumput-rumput hijau” dan “kepak burung mengejar surya” dapat dimaknai sebagai simbol kehidupan dan kebebasan, sedangkan “semak kering”, “tandus dan keras” melambangkan kenyataan pahit atau kesulitan hidup.
Frasa “gumpalan nasibmu” menyiratkan bahwa yang dicari bukan sekadar sosok fisik, melainkan takdir atau keadaan hidup seseorang yang terpuruk “jauh di bawah kaki dan lembah”. Ada jarak sosial, emosional, atau eksistensial yang coba dijembatani oleh penyair.
Suasana dalam Puisi
Suasana puisi ini terasa hening, kontemplatif, dan penuh kerinduan. Ada keteguhan dalam langkah mendaki, tetapi juga rasa sepi yang kuat.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Amanat yang dapat ditangkap adalah pentingnya ketekunan dalam mencari harapan dan tidak menyerah meski menghadapi kondisi yang tandus. Puisi ini juga mengisyaratkan empati terhadap mereka yang “terhantar” atau terpinggirkan oleh nasib.
Imaji
- Imaji visual: “rumput-rumput hijau”, “semak kering”, “batu-batu”, “jalan setapak mendaki”, “lembah”.
- Imaji gerak (kinestetik): “mengejar surya”, “menanjak tinggi”, “mendaki”.
- Imaji auditif halus: “desir angin” yang justru terasa absen.
- Imaji simbolik: bukit dan lembah sebagai lambang perbedaan posisi atau kondisi hidup.
Majas
- Metafora: “gumpalan nasibmu” sebagai lambang keadaan hidup yang terhimpit.
- Personifikasi: “bayangan dirimu… melebarkan angan-angan” memberi sifat aktif pada bayangan.
- Repetisi: pengulangan frasa “Betapa Aku cari” menegaskan intensitas pencarian.
- Simbolisme: surya sebagai lambang harapan; jalan mendaki sebagai simbol perjuangan.
Puisi “Aku Cari” karya Slamet Sukirnanto adalah refleksi puitik tentang pencarian di tengah lanskap yang keras. Melalui gambaran alam yang tandus dan perjalanan mendaki, penyair menghadirkan simbol perjuangan batin untuk menemukan harapan atau menjangkau sosok yang terhantar. Puisi ini menegaskan bahwa pencarian, betapapun sunyi dan berat, merupakan bagian dari proses memahami makna hidup.
Karya: Slamet Sukirnanto
Biodata Slamet Sukirnanto:
- Slamet Sukirnanto lahir pada tanggal 3 Maret 1941 di Solo.
- Slamet Sukirnanto meninggal dunia pada tanggal 23 Agustus 2014 (pada umur 73 tahun).
- Slamet Sukirnanto adalah salah satu Sastrawan Angkatan 66.