Puisi: Anak-Anak (Karya Gunoto Saparie)

Puisi “Anak-Anak” karya Gunoto Saparie mengingatkan bahwa dalam kesederhanaan anak-anak terdapat kebijaksanaan yang kadang tak disadari orang dewasa.
Anak-Anak

anak-anak di beranda menyanyi
lagu tentang matahari pagi
ketika sarapan pun kumulai
ketika sinyal internet tak sampai

mungkin isyarat bahwa kita
pernah melewati masa kecil
kepolosan dan kejujuran hanya fana
kedewasaan ternyata justru makin labil

anak-anak mungkin hanya bermimpi
tentang nikmat es-krim di ujung hari
anak-anak tak mungkin semadi
namun ia barangkali mencari arti puisi

2021

Analisis Puisi:

Puisi “Anak-Anak” karya Gunoto Saparie menghadirkan potret keseharian yang sederhana namun sarat refleksi. Melalui gambaran anak-anak yang bernyanyi di beranda, penyair mengontraskan dunia kepolosan dengan realitas orang dewasa yang penuh kegelisahan dan ketidakstabilan.

Puisi ini tampak ringan, tetapi menyimpan renungan tentang waktu, pertumbuhan, dan makna kedewasaan.

Tema

Tema puisi ini adalah refleksi tentang kepolosan masa kecil dan ironi kedewasaan.

Puisi ini bercerita tentang anak-anak yang menjalani hari dengan sederhana—menyanyi, bermimpi tentang es krim—sementara orang dewasa justru terjebak dalam rutinitas dan ketergantungan teknologi. Ada kontras antara dunia anak-anak yang jujur dan dunia orang dewasa yang kompleks serta labil.

Makna Tersirat

Secara eksplisit, puisi ini menggambarkan suasana pagi dengan anak-anak yang bernyanyi dan realitas gangguan sinyal internet. Namun, makna tersirat yang dapat dipahami adalah kritik halus terhadap kehidupan modern yang semakin jauh dari kepolosan.
  • “Sinyal internet tak sampai” dapat dimaknai sebagai simbol keterputusan komunikasi modern.
  • “Kepolosan dan kejujuran hanya fana” menyiratkan bahwa nilai-nilai murni masa kecil sering memudar saat dewasa.
  • “Kedewasaan ternyata justru makin labil” menjadi ironi bahwa usia tidak selalu sejalan dengan kematangan.
Puisi ini mengajak pembaca untuk menengok kembali masa kecil sebagai sumber kejujuran dan makna.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi cenderung hangat dan reflektif pada awalnya, kemudian berubah menjadi kontemplatif dan sedikit ironis pada bait kedua. Pada bagian akhir, suasana menjadi lembut dan filosofis, terutama ketika anak-anak dikaitkan dengan “mencari arti puisi”.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang disampaikan puisi ini adalah agar manusia dewasa tidak kehilangan nilai kepolosan dan kejujuran yang pernah dimiliki saat kecil. Kedewasaan seharusnya membawa kematangan, bukan justru kegamangan. Puisi ini juga mengingatkan bahwa dalam kesederhanaan anak-anak terdapat kebijaksanaan yang kadang tak disadari orang dewasa.

Puisi “Anak-Anak” karya Gunoto Saparie merupakan refleksi sederhana namun mendalam tentang perjalanan hidup manusia. Puisi ini mengajak pembaca untuk kembali menghargai kesederhanaan, kejujuran, dan makna yang mungkin justru lebih mudah ditemukan dalam dunia anak-anak.

Gunoto Saparie
Puisi: Anak-Anak
Karya: Gunoto Saparie


Biodata Gunoto Saparie:

Gunoto Saparie lahir di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955. Pendidikan formal yang ditempuh adalah Sekolah Dasar Negeri Kadilangu, Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Pertama Negeri Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Ekonomi Atas Negeri Kendal, Akademi Uang dan Bank Yogyakarta, dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang. Sedangkan pendidikan nonformal Madrasah Ibtidaiyyah Islamiyyah Tlahab, Gemuh, Kendal dan Pondok Pesantren KH Abdul Hamid Tlahab, Gemuh, Kendal.

Selain menulis puisi, ia juga mencipta cerita pendek, kritik sastra, esai, kolom, dan artikel tentang kesenian, ekonomi, politik, dan agama, yang dimuat di sejumlah media cetak terbitan Semarang, Solo, Yogyakarta, Surabaya, Jakarta, Brunei Darussalam, Malaysia, Australia, dan Prancis. Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Melancholia (Damad, Semarang, 1979), Solitaire (Indragiri, Semarang, 1981), Malam Pertama (Mimbar, Semarang, 1996), Penyair Kamar (Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Semarang, 2018), Mendung, Kabut, dan Lain-Lain (Cerah Budaya Indonesia, Jakarta, 2019), dan Lirik (Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, 2020).

Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004).

Novelnya Selamat Siang, Kekasih dimuat secara bersambung di Mingguan Bahari, Semarang (1978) dan Bau (Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, 2019) yang menjadi nomine Penghargaan Prasidatama 2020 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.

Ia juga pernah menerbitkan antologi puisi bersama Korrie Layun Rampan berjudul Putih! Putih! Putih! (Yogyakarta, 1976) dan Suara Sendawar Kendal (Karawang, 2015). Sejumlah puisi, cerita pendek, dan esainya termuat dalam antologi bersama para penulis lain.

Puisinya juga masuk dalam buku Manuel D'Indonesien Volume I terbitan L'asiatheque, Paris, Prancis, Januari 2012. Ia juga menulis puisi berbahasa Jawa (geguritan) di Panjebar Semangat dan Jaya Baya. Ia pernah menjabat Pemimpin Redaksi Kampus Indonesia (Jakarta), Tanahku (Semarang), Delik Hukum Jateng (Semarang) setelah sebelumnya menjabat Redaktur Pelaksana dan Staf Ahli Pemimpin Umum Koran Wawasan (Semarang), Pemimpin Redaksi Radio Gaya FM (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Faktual (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Otobursa Plus (Semarang), dan Redaktur Legislatif (Jakarta). Kini ia masih aktif menjadi Redaktur Pelaksana Majalah Info Koperasi (Kendal), Majalah Justice News (Semarang), dan Majalah Opini Publik (Blora).

Saat ini Gunoto Saparie menjabat Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Jawa Tengah, Ketua III Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Jawa Tengah, Ketua Umum Perkumpulan Penulis Indonesia ‘Satupena’ Jawa Tengah, dan Ketua Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah. Sebelumnya ia pernah menjabat Ketua Kelompok Studi Seni Remaja (KSSR) Kendal, Ketua Pelaksana Dewan Teater Kendal, Sekretaris Forum Komunikasi Studi Mahasiswa Kekaryaan (Fokusmaker) Jawa Tengah, Wakil Ketua Ormas MKGR Jawa Tengah, Fungsionaris DPD Partai Golkar Jawa Tengah, Sekretaris DPD Badan Informasi dan Kehumasan Partai Golkar Jawa Tengah, dan Sekretaris Bidang Kehumasan DPW Partai Nasdem Jawa Tengah.

Sejumlah penghargaan di bidang sastra, kebudayaan, dan jurnalistik telah diterimanya, antara lain dari Kepala Perwakilan PBB di Jakarta dan Nairobi, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Pusat, Menteri Perumahan Rakyat, Menteri Penerangan, Menteri Luar Negeri, Menteri Lingkungan Hidup, Pangdam IV/ Diponegoro, dan Kepala Balai Bahasa Jawa Tengah. Selain itu, di tengah kesibukannya menulis, ia kadang diundang untuk membaca puisi, menjadi juri lomba kesenian, pemakalah atau pembicara pada berbagai forum kesastraan dan kebahasaan, dan mengikuti sejumlah pertemuan sastrawan di Indonesia dan luar negeri. Tinggal di Jalan Taman Karonsih 654, Ngaliyan, Semarang.
© Sepenuhnya. All rights reserved.