Puisi: Anak Pasar (Karya M. Balfas)

Puisi “Anak Pasar” karya M. Balfas merupakan potret sosial yang keras dan realistis tentang kehidupan masyarakat kecil yang terhimpit oleh kondisi ...
Anak Pasar

Gang sudah tersumbat:
mau terus mesti meloncat
dari manusia berbondong-bondong.
Rebut cepat, karcis kelas empat,
kalau mau nonton lanjutan berita perang.
Tapi awas, kaki jangan patah,
Kau nanti nangis sendirian
Di bawah telapak yang mau lewat.

Kalau malam sudah sepi
pergi tidur di atas rel kereta api
Ah, dingin besi sudah cukup ngeri
jangan lagi kasi mimpi,
ke mana ini rel pergi.
Dan jangan lagi ada ulangan
cerita tadi:
Orang tua tidak punya hari
bersandar pada tembok.
Dan mereka yang masih cukup punya hati
tembak dia sampai mati.

Senin, 2 Februari 1953

Sumber: Zenith (April, 1953)

Analisis Puisi:

Puisi “Anak Pasar” karya M. Balfas menggambarkan kehidupan keras di ruang publik yang padat dan tidak manusiawi, dengan latar pasar, kerumunan, serta situasi sosial yang penuh tekanan. Melalui bahasa yang lugas dan cenderung getir, penyair menyoroti realitas sosial yang keras dan sering kali mengabaikan kemanusiaan.

Tema

Tema puisi ini adalah kemiskinan, ketidakadilan sosial, dan kerasnya kehidupan masyarakat kelas bawah di ruang urban.

Puisi ini bercerita tentang kehidupan orang-orang kecil yang berdesakan di ruang publik seperti pasar dan stasiun, serta penderitaan mereka dalam menghadapi realitas hidup yang keras, termasuk kekerasan dan ketidakpedulian sosial.

Makna Tersirat

Puisi ini adalah kritik sosial terhadap kondisi masyarakat yang tidak adil, di mana manusia diperlakukan seperti bagian dari kerumunan tanpa nilai individual. Adegan “berebut karcis kelas empat” dan “berita perang” dapat dimaknai sebagai gambaran bagaimana penderitaan dan konflik menjadi tontonan, bukan empati. Sementara bagian akhir memperkuat kritik terhadap hilangnya rasa kemanusiaan, bahkan sampai pada tindakan kekerasan ekstrem.

Imaji

  • Imaji visual: “gang sudah tersumbat”, “manusia berbondong-bondong”, “di bawah telapak yang mau lewat”.
  • Imaji kinestetik: “mesti meloncat”, “rebut cepat”, menunjukkan gerak cepat dan penuh tekanan.
  • Imaji taktil: “dingin besi sudah cukup ngeri” memberikan kesan fisik yang dingin dan tidak nyaman.
  • Imaji auditif: “jangan lagi ada ulangan cerita tadi” seolah menghadirkan suara narasi yang berulang dan menekan.

Majas

  • Hiperbola: “gang sudah tersumbat” menggambarkan kepadatan ekstrem yang berlebihan.
  • Metafora: “di bawah telapak yang mau lewat” sebagai simbol kekuasaan yang menginjak kaum lemah.
  • Personifikasi: “dingin besi sudah cukup ngeri” memberikan sifat emosional pada benda.
  • Ironi sosial: situasi “nonton lanjutan berita perang” menandakan penderitaan yang justru menjadi konsumsi publik.
Puisi “Anak Pasar” karya M. Balfas merupakan potret sosial yang keras dan realistis tentang kehidupan masyarakat kecil yang terhimpit oleh kondisi ekonomi dan sosial. Dengan bahasa yang tajam dan gambaran yang suram, puisi ini menegaskan kritik terhadap dehumanisasi manusia dalam ruang publik modern.

M. Balfas
Puisi: Anak Pasar
Karya: M. Balfas
    Biodata M. Balfas:
    • Nama lengkap Muhammad Balfas.
    • M. Balfas lahir di Krukut, Taman Sari, Jakarta Barat, 25 Desember 1922.
    • M. Balfas meninggal dunia di Jakarta, 5 Juni 1975 (pada umur 52 tahun).
    • M. Balfas termasuk dalam Angkatan '45.
    © Sepenuhnya. All rights reserved.