Sumber: Pidato Akhir Tahun Seorang Germo (1997)
Analisis Puisi:
Puisi “Apakah yang akan Dilakukan oleh Seorang Laki-Laki Bila Bertemu dengan Seorang Wanita” karya F. Rahardi menghadirkan refleksi satiris tentang relasi laki-laki dan perempuan dalam berbagai konteks kehidupan. Dengan pendekatan naratif-argumentatif, puisi ini membangun serangkaian kemungkinan situasi—keluarga, agama, sosial, biologis, bahkan kosmik—untuk mempertanyakan hakikat pertemuan dua jenis kelamin tersebut.
Tema
Tema utama puisi ini adalah relasi laki-laki dan perempuan dalam dimensi kodrat, sosial, moral, dan eksistensial. Penyair tidak membatasi relasi itu pada cinta atau nafsu semata, melainkan membentangkannya dalam spektrum luas: hubungan anak–ibu, relasi religius, transaksi ekonomi, kebutuhan biologis, kerja profesional, hingga perjuangan hidup dan mati.
Tema besar lainnya adalah ironi kehidupan modern—bagaimana norma, moralitas, kebutuhan ekonomi, dan hasrat biologis saling bertabrakan.
Makna Tersirat
Makna tersirat puisi ini terletak pada kritik terhadap pandangan deterministik tentang kodrat laki-laki dan perempuan. Larik:
“Laki-laki memang ditakdirkan untuk menggauli perempuan…”
dan pengulangannya kemudian bukan sekadar pernyataan biologis, tetapi ironi yang mempertanyakan reduksi relasi manusia menjadi sekadar hubungan seksual.
Selain itu, puisi ini menyiratkan:
- Kritik terhadap moralitas yang sering kali tidak relevan bagi mereka yang terdesak kebutuhan ekonomi.
- Sindiran terhadap kehidupan modern yang sibuk, penuh prestasi, tetapi kehilangan makna.
- Gagasan bahwa manusia membutuhkan konflik, godaan, bahkan “musuh” untuk merasakan kebermaknaan hidup.
Dengan demikian, puisi ini bukan hanya soal gender, melainkan tentang eksistensi manusia secara umum.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini cenderung satiris, ironis, dan provokatif. Nada yang digunakan terasa lugas, bahkan vulgar di beberapa bagian, tetapi justru di situlah kekuatan kritik sosialnya.
Pada bagian rumah sakit, suasana berubah menjadi lebih pasrah dan reflektif. Sedangkan pada bagian tempat kerja, muncul nuansa pemberontakan dan kegelisahan eksistensial.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Amanat yang dapat ditangkap antara lain:
- Relasi laki-laki dan perempuan tidak bisa direduksi menjadi satu makna tunggal.
- Moralitas sering kali berhadapan dengan realitas sosial-ekonomi yang kompleks.
- Kehidupan modern yang hanya berisi kerja keras, prestasi, dan kehormatan dapat menjadi hampa.
- Manusia membutuhkan dinamika—tantangan, godaan, bahkan konflik—untuk merasakan makna hidup.
Puisi ini mengajak pembaca merenungkan kembali apa yang sebenarnya dicari manusia dalam relasi dan kehidupan.
Puisi karya F. Rahardi ini merupakan eksplorasi mendalam tentang hubungan laki-laki dan perempuan dalam berbagai dimensi kehidupan. Dengan gaya yang lugas dan satiris, penyair mempertanyakan asumsi kodrati, norma moral, serta makna eksistensi manusia di tengah realitas sosial yang kompleks.
Pada akhirnya, pertanyaan dalam judul tidak benar-benar menuntut satu jawaban pasti. Justru melalui rangkaian kemungkinan itulah pembaca diajak menyadari bahwa tindakan manusia selalu kontekstual—dan makna hidup tidak pernah sesederhana yang dibayangkan.
Karya: F. Rahardi
Biodata F. Rahardi:
- F. Rahardi (Floribertus Rahardi) lahir pada tanggal 10 Juni 1950 di Ambarawa, Jawa Tengah.
