Puisi: Au Revoir (Karya Soni Farid Maulana)

Puisi “Au Revoir” karya Soni Farid Maulana menghadirkan kehangatan sekaligus kegelisahan, mengingatkan bahwa setiap pertemuan selalu membawa ...
Au Revoir

Angin mengalir
Lewat kisi jendela
Membaringkan dingin yang letih
Di tubuhku. Lalu bau vicks. Hangat tangan dara
Bibir padat merekah – mengekalkan birahi
Menggulirkan malam lebih bermakna!

"Adakah kaudengar, sebuah musik
Mengalun dari tik-tok jam?" (Suara cengkrik
Begitu nyaring dalam pendengaran) "Jam berapa?"
Bisikmu. Sunyi. (Lalu hujan  menggeliat di tangkai
Daun) Menangisi kemarau yang akan segera berlabuh
Di bunga kecubung! "Jam berapa?" bisikmu.

1983-1984

Sumber: Para Penziarah (1987)

Analisis Puisi:

Puisi “Au Revoir” karya Soni Farid Maulana menghadirkan suasana yang intim sekaligus reflektif melalui pengalaman malam yang sarat perasaan. Dengan diksi yang peka dan imaji yang kuat, puisi ini menggambarkan pertemuan yang hangat, namun dibayangi oleh kesadaran akan waktu dan kemungkinan perpisahan.

Tema

Tema utama puisi ini adalah intimasi cinta, kesadaran waktu, dan bayang-bayang perpisahan.

Puisi ini bercerita tentang dua sosok yang berada dalam suasana malam yang sunyi dan intim. Kehadiran angin, dingin, serta sentuhan fisik menciptakan kedekatan emosional dan sensual antara keduanya.

Di tengah suasana tersebut, muncul percakapan sederhana tentang waktu—“jam berapa?”—yang justru menjadi penanda kesadaran akan berjalannya waktu. Suara jam, cengkrik, dan hujan memperkuat latar malam yang hidup sekaligus hening.

Momen kebersamaan ini terasa singkat, seolah menjadi jeda sebelum perpisahan yang tersirat dalam judul “Au Revoir” (yang berarti “sampai jumpa”).

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah bahwa setiap momen kebersamaan, seindah apa pun, selalu berada dalam bayang-bayang waktu yang terus berjalan menuju perpisahan.

Puisi ini juga menyiratkan bahwa keintiman tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga emosional—terbangun dari kesadaran bersama akan kefanaan waktu. Pertanyaan tentang waktu menjadi simbol kegelisahan akan berakhirnya momen tersebut.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi ini terasa intim, hening, dan sedikit melankolis, dengan sentuhan hangat yang perlahan diselimuti kesadaran akan perpisahan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang dapat dipetik adalah bahwa manusia perlu menghargai setiap momen kebersamaan, karena waktu akan terus berjalan dan membawa perubahan, termasuk perpisahan.

Puisi ini juga mengingatkan bahwa keindahan suatu pertemuan sering kali justru terasa karena sifatnya yang sementara.

Imaji

Puisi ini kaya akan imaji yang halus dan mendalam, antara lain:
  • Imaji peraba: dingin yang membaringkan tubuh, hangat tangan.
  • Imaji penciuman: bau vicks.
  • Imaji pendengaran: tik-tok jam, suara cengkrik, hujan.
  • Imaji visual: hujan di daun, suasana malam.
Imaji-imaji tersebut menciptakan pengalaman yang intim dan hidup bagi pembaca.

Majas

Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini meliputi:
  • Personifikasi: angin yang “mengalir”, hujan yang “menggeliat”.
  • Metafora: malam sebagai ruang keintiman dan makna.
  • Simbolisme: jam sebagai lambang waktu, hujan sebagai emosi.
  • Repetisi: pertanyaan “jam berapa?” untuk menegaskan kegelisahan waktu.
Puisi “Au Revoir” karya Soni Farid Maulana adalah potret puitis tentang keintiman yang tidak lepas dari kesadaran akan waktu. Dalam kesunyian malam, puisi ini menghadirkan kehangatan sekaligus kegelisahan, mengingatkan bahwa setiap pertemuan selalu membawa kemungkinan perpisahan—dan justru di situlah maknanya menjadi begitu dalam.

Soni Farid Maulana
Puisi: Au Revoir
Karya: Soni Farid Maulana

Biodata Soni Farid Maulana:
  • Soni Farid Maulana lahir pada tanggal 19 Februari 1962 di Tasikmalaya, Jawa Barat.
  • Soni Farid Maulana meninggal dunia pada tanggal 27 November 2022 (pada usia 60 tahun) di Ciamis, Jawa Barat.
© Sepenuhnya. All rights reserved.