Bendungan Tua
Kaubendung semua yang masuk ke tubuhmu,
tubuh yang mulai retak.
Riwayat air dan perjalanan hujan, yang mencemaskan.
Tapi tanpa banyak bicara, kauyakinkan
pada kami tentang kerja dinding batu
dan kayu-kayu balok.
Sebab palang pintumu adalah pengatur yang tahu,
kapan waktu menyimpan dan memberi.
Alirkan pada kebaikan,
bagi kebun dan tanah sawah.
Ketika luapan menyapa, pintu-pintumu terbuka
— bermain Pascal.
Di situ kami mengagumimu, yang terus menjaga
kehidupan.
Indramayu, 2021
Analisis Puisi:
Puisi “Bendungan Tua” karya Faris Al Faisal menghadirkan metafora yang kuat tentang pengendalian, ketahanan, dan kebijaksanaan dalam mengatur aliran kehidupan. Melalui citra bendungan yang menahan dan mengalirkan air, penyair menyampaikan refleksi filosofis tentang tanggung jawab dan keseimbangan.
Tema
Tema puisi ini adalah ketahanan dan kebijaksanaan dalam mengelola kekuatan besar demi kebaikan bersama. Bendungan menjadi simbol figur atau sistem yang menanggung beban, mengatur arus, serta menjaga keberlangsungan hidup. Tema lain yang muncul adalah keseimbangan antara menahan dan melepaskan.
Puisi ini bercerita tentang sebuah bendungan tua yang menahan segala sesuatu yang masuk ke tubuhnya—air hujan, aliran sungai, dan luapan yang mencemaskan. Meski tubuhnya mulai retak, bendungan tetap menjalankan fungsinya tanpa banyak bicara.
Ia meyakinkan masyarakat akan kekuatan “dinding batu dan kayu-kayu balok”. Palang pintunya berfungsi sebagai pengatur: mengetahui kapan harus menyimpan air dan kapan harus mengalirkannya demi kebun dan sawah.
Ketika luapan datang, pintu-pintu dibuka dengan prinsip yang diibaratkan “bermain Pascal”, merujuk pada hukum fisika tentang tekanan dan keseimbangan fluida. Di situlah masyarakat mengagumi perannya dalam menjaga kehidupan.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa setiap kekuatan besar memerlukan kendali dan kebijaksanaan. Bendungan tua dapat dimaknai sebagai simbol pemimpin, orang tua, atau sistem sosial yang menanggung tekanan demi kesejahteraan banyak orang.
“Tubuh yang mulai retak” menyiratkan kelelahan atau keterbatasan, namun tetap ada komitmen untuk bertahan. Frasa “kapan waktu menyimpan dan memberi” menunjukkan pentingnya pengendalian diri dan pengaturan sumber daya secara arif.
Rujukan pada Pascal mempertegas bahwa kehidupan memiliki hukum keseimbangan; tekanan yang dikelola dengan benar akan menghasilkan manfaat.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini cenderung reflektif dan penuh penghormatan. Ada ketegangan halus dalam gambaran “riwayat air dan perjalanan hujan yang mencemaskan”, tetapi juga kekaguman dan rasa percaya terhadap bendungan yang tetap kokoh menjaga kehidupan.
Nuansa apresiatif terasa kuat pada bagian akhir.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Amanat yang disampaikan puisi ini adalah pentingnya pengendalian diri, kebijaksanaan, dan tanggung jawab dalam mengelola kekuatan atau amanah. Tidak semua yang datang harus langsung diluapkan; ada waktu untuk menyimpan dan waktu untuk memberi. Puisi ini juga mengingatkan bahwa peran menjaga kehidupan sering kali dilakukan dalam diam, tanpa banyak pengakuan, tetapi berdampak besar bagi banyak orang.
Puisi “Bendungan Tua” adalah puisi metaforis yang memaknai bendungan sebagai simbol ketahanan dan kebijaksanaan dalam mengelola kehidupan. Melalui citra air, dinding batu, dan prinsip keseimbangan, penyair menyampaikan pesan tentang tanggung jawab dan pengendalian diri.
Puisi ini mengajak pembaca untuk belajar dari bendungan tua: tetap teguh meski retak, bijak dalam menahan dan memberi, serta setia menjaga kehidupan tanpa banyak bicara.
Karya: Faris Al Faisal
Biodata Faris Al Faisal:
Faris Al Faisal lahir dan berdikari d(ar)i Indramayu, Jawa Barat, Indonesia. Bergiat di Komite Sastra, Dewan Kesenian Indramayu (DKI) dan Lembaga Kebudayaan Indramayu (LKI). Namanya masuk buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia” Yayasan Hari Puisi. Pada “World Poetry Day March 21” menuntaskan 1 Jam Baca Puisi Dunia di Gedung Kesenian Mama Soegra Dewan Kesenian Indramayu (2021).
Puisinya mendapat Hadiah Penghargaan dalam Sayembara Menulis Puisi Islam ASEAN Sempena Mahrajan Persuratan dan Kesenian Islam Nusantara ke-9 Tahun 2020 di Membakut, Sabah, Malaysia, Juara 1 Lomba Cipta Puisi Anugerah RD. Dewi Sartika dan mendapat Piala bergilir Anugerah RD. Dewi Sartika, Bandung (2019), mendapatkan juga Anugerah “Puisi Umum Terbaik” Disparbud DKI 2019 dalam Perayaan 7 Tahun Hari Puisi Indonesia Yayasan Hari Puisi, dan pernah Juara 1 Lomba Cipta Puisi Kategori Umum Tingkat Asia Tenggara Pekan Bahasa dan Sastra 2018 Universitas Sebelas Maret, Surakarta.
Tersiar pula puisi-puisinya di surat kabar Indonesia dan Malaysia. Buku puisi keduanya “Dari Lubuk Cimanuk ke Muara Kerinduan ke Laut Impian” penerbit Rumah Pustaka (2018).
