Puisi: Berjaga-jaga (Karya Remy Sylado)

Puisi “Berjaga-jaga” karya Remy Sylado merupakan refleksi filosofis dan spiritual tentang kesiapan manusia menghadapi kehidupan dan kematian.
Berjaga-jaga

Saat menjelang tidur adalah pelajaran pasrah
batin yang menanggung lapar, diancam gamang
kalau matari besok tak hadir di jala mata
sudahkah kau siap dipanggil pencipta-Mu
dimaafkan orang terkasih atau musuh
kerna hasrat badan yang kemarin meluka
berhubung dalam perkara insani kita berpacu
meniru etika hewan: memakan sebelum dimakan.

Jangan sedia obat setelah kau diserang sakit
Percaya, hai sukmaku, bahkan di Jakarta
kau tak bisa menjamin waktu kedatangan teman
sebab semua jalan macet oleh pameran keakuan
apalagi arah langkahmu dalam pelajaran pasrah.

Kita sedia obat dan menjaga untuk jangan sakit
memahami kias yang tersimpan dalam peringatannya
berjaga-jaga selalu adalah padan emunah iman.

Sumber: Kerygma & Martyria (Gramedia Pustaka Utama, 2004)
Catatan:
Emunah = bahasa Ibrani untuk mengartikan sesuatu yang bersifat ketetapan, kesungguhan, stabilitas, kebenaran--banyak digunakan Daud dalam Zabur, khususnya di Mazmur 89.

Analisis Puisi:

Puisi “Berjaga-jaga” karya Remy Sylado merupakan refleksi filosofis dan spiritual tentang kesiapan manusia menghadapi kehidupan dan kematian. Dengan bahasa yang komunikatif namun sarat makna, penyair menggabungkan kritik sosial, perenungan batin, serta nilai-nilai religius dalam satu kesatuan yang utuh.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kesiapsiagaan spiritual dan kesadaran akan kefanaan hidup. Selain itu, terdapat tema tentang introspeksi diri, etika manusia, dan kritik terhadap sikap egois dalam kehidupan modern.

Puisi ini bercerita tentang momen menjelang tidur sebagai simbol perenungan diri, di mana manusia diajak bertanya: apakah ia sudah siap jika dipanggil oleh Sang Pencipta? Penyair juga menyoroti perilaku manusia yang sering kali bertindak egois dan kehilangan nilai kemanusiaan, bahkan menyerupai naluri hewan.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini antara lain:
  • Tidur dianalogikan sebagai latihan menghadapi kematian, sehingga setiap manusia perlu siap secara batin.
  • Kritik terhadap manusia modern yang hidup dalam “pameran keakuan”, terutama dalam konteks kehidupan kota seperti Jakarta.
  • Ungkapan “memakan sebelum dimakan” menunjukkan bahwa manusia sering hidup dalam kompetisi yang tidak sehat dan kehilangan nilai moral.
  • Konsep “emunah” (iman yang teguh, kesungguhan, dan kebenaran) menegaskan bahwa berjaga-jaga bukan sekadar kewaspadaan fisik, tetapi juga kesiapan spiritual yang mendalam.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi ini cenderung reflektif, serius, dan kontemplatif, dengan sentuhan kritis terhadap realitas sosial.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang dapat dipetik dari puisi ini adalah:
  • Manusia perlu senantiasa introspeksi dan mempersiapkan diri secara spiritual.
  • Jangan menunda kebaikan atau perbaikan diri, karena hidup tidak dapat dipastikan.
  • Hindari sikap egois dan kembalilah pada nilai kemanusiaan dan keimanan yang sejati.
  • Berjaga-jaga dalam hidup adalah bentuk iman yang kuat (emunah).
Puisi ini menekankan pentingnya kesadaran diri dan kesiapan spiritual dalam menghadapi ketidakpastian hidup. Dengan mengaitkan konsep emunah sebagai landasan iman yang kokoh, Remy Sylado mengajak pembaca untuk tidak lengah, melainkan terus berjaga-jaga dalam menjalani kehidupan yang penuh dinamika.

"Puisi Remy Sylado"
Puisi: Berjaga-jaga
Karya: Remy Sylado
© Sepenuhnya. All rights reserved.