Puisi: Biara (Karya A. Muttaqin)

Puisi “Biara” karya A. Muttaqin menyiratkan bahwa perjalanan spiritual tidak hanya tentang pengorbanan fisik atau simbolik, tetapi juga tentang ...
Biara

Dulu, sebagai hambar, kubakar dupa supaya
pakaianku harum dan indah. Kini, sebagai musafir
kubakar wajahku untuk melupakan dunia.
Ryonen

Betul, Guru, telah kubakar wajahku
supaya kau mantap mengajariku, melupakan
asal nama dan sekerat daging gelap dalam tubuhku.

Kumasuki biaramu dengan bibir gosong dan mata kosong
supaya kau tunjukkan aku lelaku sebiji batu
yang telah menempuh bara dan abu/

Tidak. Bara dan abu telah ditempuh burung-burung getun
ketika mereka mengumpulkan daun-daun majnun
untuk menyusun unggun.

Ketika burung-burung getun itu
mencari terbang yang lebih tenang
seperti debu atau bulu tanpa diganduli gaung dan gurung.

Ketika burung-burung itu membubung
Seperti mengusir sisa mendung. Tahan kaki-kaki airmu
lantaran rintikmu tak sederas rancak sepiku/
Tidak. Tidak, Guru. Sepi dan semua amsal sedih
kini gosong, setelah kubakar wajahku
dengan batang besi merah marong itu.

Ketika batang besi marong itu menyentuh wajahku
wahai, Guru, kubayangkan itulah sang neraka
yang pertama dan terakhir untukku.

Kubayangkan juga jenglot, begejil, dan hantu-hantu
jadi gosong, seperti codot-codot tua yang berduka
tatkala menguntit langkahku:

wahai, lihatlah wujud kami, telah kami tanggalkan
takir terang, agar kami menjadi pembeda
seperti sisi malam dan sisi siang.

Tidak. Begejil dan hantu-hantu tahu
tak ada malam dan siang sebetulnya. Mereka
cukup tengil menangkal tipu-daya si matahari.

Seperti semut dan lumut yang tak terlipur oleh tidur:
semut-semut terus merambat, mencari serbuk malam
yang membuat kulitnya legam.

Sedang lumut-lumut tumbuh dengan lembut
seperti berbulu bulan yang berombak
memantulkan wajah si matahari retak.
Sementara anjing itu, Guru, terus menyalak ke luas arsy.

Namun, dengan begitu, anak-anak ayam kian awas
kucing-kucing juga kian mawas.

Beriring gunjing merekalah aku sampai di biaramu
untuk kali ketujuh. Tapi kenapa kau tetap bengong
menatap gosong wajahku, Guru?

Enam puluh kali mataku melihat alur musim gugur
kini ajari aku mendengar gemerisik pohon-pohon
saat angin tak terhambur…

2016

Analisis Puisi:

Puisi “Biara” karya A. Muttaqin adalah teks yang sarat simbol, spiritualitas, dan pergulatan batin. Mengambil latar biara serta dialog dengan sosok “Guru”, puisi ini menampilkan perjalanan asketik seorang musafir yang ingin menanggalkan identitas lamanya demi mencapai pencerahan.

Puisi ini bersifat reflektif, bahkan mistikal, dengan citraan api, gosong, neraka, burung, semut, hingga lumut yang membangun lanskap simbolik yang kompleks.

Tema

Tema puisi ini adalah pencarian spiritual dan penanggalkan ego.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang membakar wajahnya sebagai simbol pelepasan identitas duniawi. Ia memasuki biara dan menghadap Guru, berharap diajarkan jalan menuju ketenangan dan pencerahan. Namun, perjalanan tersebut tidak sederhana; ia harus melewati bara, abu, bayangan ketakutan, dan simbol-simbol kegelapan sebelum sampai pada pemahaman yang lebih dalam.

Tema asketisme dan transformasi diri sangat dominan dalam puisi ini.

Makna Tersirat

Secara literal, puisi ini menggambarkan seseorang yang membakar wajahnya lalu mendatangi Guru di biara. Namun, makna tersirat jauh lebih dalam: pembakaran wajah adalah simbol penghancuran ego, identitas, dan keterikatan duniawi.
  • “Kubakar wajahku” menyiratkan penghapusan diri lama demi kelahiran spiritual baru.
  • “Melupakan asal nama dan sekerat daging gelap” dapat dimaknai sebagai usaha meninggalkan latar belakang, dosa, atau identitas biologis.
  • Burung-burung getun, semut, lumut, anjing menjadi simbol berbagai aspek kehidupan: penyesalan, ketekunan, pertumbuhan sunyi, hingga kewaspadaan.
  • Ketika penyair berkata, “Kubayangkan itulah sang neraka”, ia memaknai penderitaan sebagai proses penyucian.
Puisi ini menyiratkan bahwa perjalanan spiritual tidak hanya tentang pengorbanan fisik atau simbolik, tetapi juga tentang kesadaran batin yang lebih halus.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi cenderung intens, gelap, dan kontemplatif. Ada nuansa asketis yang keras, terutama melalui citra bara, abu, dan wajah gosong. Namun, di balik itu terdapat suasana reflektif dan pencarian yang tulus.

Bagian akhir puisi menghadirkan suasana yang lebih tenang dan mendalam, ketika penyair meminta diajari mendengar “gemerisik pohon-pohon saat angin tak terhambur”. Ini menunjukkan kerinduan pada kesunyian yang autentik.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang disampaikan puisi ini adalah bahwa pencerahan tidak cukup dicapai dengan simbol-simbol pengorbanan lahiriah. Membakar wajah atau menyiksa diri bukanlah akhir perjalanan; yang lebih penting adalah kemampuan untuk mendengar, memahami, dan menyadari. Puisi ini mengingatkan bahwa spiritualitas sejati terletak pada kepekaan batin, bukan sekadar tindakan ekstrem.

Puisi “Biara” karya A. Muttaqin merupakan refleksi mendalam tentang perjalanan spiritual dan penghancuran ego. Puisi ini menegaskan bahwa spiritualitas sejati bukan hanya tentang pengorbanan fisik, tetapi tentang kesadaran batin yang mampu mendengar “gemerisik pohon-pohon saat angin tak terhambur.”

A. Muttaqin
Puisi: Biara
Karya: A. Muttaqin

Biodata A. Muttaqin:
  • A. Muttaqin lahir pada tanggal 11 Maret 1983 di Gresik, Jawa Timur.
© Sepenuhnya. All rights reserved.