Puisi: Bila Saja Selembar Daun (Karya Juniarso Ridwan)

Puisi “Bila Saja Selembar Daun” karya Juniarso Ridwan adalah kritik tajam terhadap modernitas yang melupakan akar ekologis dan kultural.
Bila Saja Selembar Daun
(ecological suicide)

hamparan pikiran telah terkoyak-koyak,
membuat denah-denah jalan keinginan,
mengikuti bisikan-bisikan gaib kalkulator:
bukit-bukit berguguran,
lembah-lembah merebah,
hanya tiang-tiang beton tumbuh subur,
ujung kaitnya menusuk langit.

bila saja selembar daun, ringkih melayang,
mencari pijakan di ranting-ranting kehidupan,
di sana tanah kehilangan ikatan hidup,
karena petak-petak yang terbentuk,
tak pernah memberi kesempatan daun singgah.

rumah-rumah seperti melayang di udara berabu,
kantor-kantor dan toko-toko bergelayutan di tepi pagi,
orang-orang sibuk menimbang umur,
sedangkan liang lahat menjadi benda asing yang langka:

para penggali kubur telah lama tersesat di butik-butik
pusat kota.

2004

Sumber: Airmata Membara (Kelir, 2014)
Catatan:
  • Tanah kehilangan ikatan hidup = di lingkungan masyarakat adat Sunda dikenal pembagian bidang tanah menurut urutan Tritangtu, atau di Bali dikenal juga Tri Hita Karana.

Analisis Puisi:

Puisi “Bila Saja Selembar Daun” karya Juniarso Ridwan menghadirkan gambaran kuat tentang kerusakan lingkungan dan keterasingan manusia modern. Dengan bahasa simbolik dan imaji yang kontras, puisi ini menjadi refleksi kritis terhadap pembangunan yang mengabaikan keseimbangan alam.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kerusakan lingkungan (ecological crisis) dan keterputusan hubungan manusia dengan alam.

Puisi ini bercerita tentang perubahan lanskap alam menjadi ruang modern yang didominasi beton, bangunan, dan logika perhitungan. Bukit dan lembah digambarkan hilang, digantikan oleh tiang-tiang beton yang “tumbuh subur”.

Di tengah situasi itu, selembar daun yang rapuh tidak lagi menemukan tempat untuk singgah. Tanah kehilangan “ikatan hidup”, yang merujuk pada hilangnya harmoni antara manusia, alam, dan nilai-nilai tradisional—seperti konsep keseimbangan dalam budaya lokal (misalnya Tritangtu atau Tri Hita Karana).

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa pembangunan yang tidak berimbang dapat menyebabkan “bunuh diri ekologis” (ecological suicide), di mana manusia secara perlahan merusak sumber kehidupannya sendiri.

Puisi ini juga mengkritik cara berpikir modern yang terlalu rasional dan mekanis (“bisikan kalkulator”), sehingga mengabaikan nilai-nilai spiritual dan ekologis. Akibatnya, manusia menjadi terasing, bahkan dari makna hidup dan kematian itu sendiri.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi ini terasa muram, kritis, dan penuh kegelisahan, dengan nuansa distopia yang kuat.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang dapat diambil adalah bahwa manusia perlu menjaga keseimbangan antara pembangunan dan kelestarian alam, serta tidak melupakan nilai-nilai tradisional yang menjaga harmoni kehidupan.

Puisi ini juga mengingatkan bahwa jika manusia terus mengabaikan alam, maka kehancuran bukan hanya terjadi pada lingkungan, tetapi juga pada eksistensi manusia itu sendiri.

Imaji

Puisi ini menghadirkan imaji yang tajam dan kontras, antara lain:
  • Imaji visual: bukit berguguran, tiang beton menusuk langit, rumah melayang.
  • Imaji abstrak: pikiran yang terkoyak, bisikan kalkulator.
  • Imaji simbolik: daun sebagai kehidupan yang rapuh.
  • Imaji suasana: kota modern yang asing dan tidak ramah.
Imaji tersebut memperkuat kesan kehancuran dan keterasingan.

Majas

Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini antara lain:
  • Metafora: tanah kehilangan ikatan hidup.
  • Personifikasi: tiang beton yang “tumbuh subur”.
  • Simbolisme: daun sebagai kehidupan alami, beton sebagai modernitas.
  • Hiperbola: gambaran ekstrem tentang hilangnya alam.
  • Ironi: penggali kubur tersesat di pusat kota.
Puisi “Bila Saja Selembar Daun” karya Juniarso Ridwan adalah kritik tajam terhadap modernitas yang melupakan akar ekologis dan kultural. Dengan pendekatan simbolik yang kuat, puisi ini mengajak pembaca untuk merenungkan kembali hubungan manusia dengan alam, serta pentingnya menjaga keseimbangan agar kehidupan tetap berkelanjutan.

Juniarso Ridwan
Puisi: Bila Saja Selembar Daun
Karya: Juniarso Ridwan

Biodata Juniarso Ridwan:
  • Juniarso Ridwan lahir di Bandung, Jawa Barat, pada tanggal 10 Juni 1955.
© Sepenuhnya. All rights reserved.