Puisi: Bukit (Karya Suripan Sadi Hutomo)

Puisi "Bukit" karya Suripan Sadi Hutomo menggambarkan bukit yang gundul dan keras, dan mengajak pembaca untuk merenungkan makna yang ....
Bukit

Bukit tanpa pohonan dan rumputan
Bukit gundul tanpa aspal
Sebuah danau penuh kurcaci
Sebuah kapal ada di laci

Satu-satu tetes peluh dari pundak
Satu-satu tubuh rebah tanpa gerak
Seruling kereta malam yang sengak
Kita tak teringat bantal bau apak

Gatoloco berperang melawan Perjiwati
Inti hakekat kehidupan azali
Dan suluk demi suluk saling memeluk
Dalam singir pantai berteluk

Bukit tanpa pohonan dan rumputan
Bukit gundul tanpa aspal

1975

Sumber: Horison (Maret, 1977)

Analisis Puisi:

Puisi "Bukit" karya Suripan Sadi Hutomo adalah sebuah karya sastra yang memadukan gambaran alam dengan refleksi kehidupan manusia. Puisi ini menggambarkan bukit yang gundul dan keras, dan mengajak pembaca untuk merenungkan makna yang lebih dalam tentang kehidupan dan alam.

Gambaran Alam: Puisi ini menciptakan gambaran bukit yang tandus dan gundul tanpa pohonan dan rumputan. Ini adalah deskripsi yang cukup kering dan melankolis tentang alam. Tanpa tumbuhan atau kehidupan, bukit tersebut tampak sepi dan tak bernyawa. Deskripsi ini mungkin menciptakan atmosfer kesendirian dan kekosongan.

Simbolisme Danau dan Kapal: Dalam puisi ini, ada gambaran sebuah danau penuh kurcaci dan sebuah kapal di laci. Simbolisme di sini bisa berarti berbagai hal, seperti misteri, kehidupan batin, atau kenangan yang tersembunyi. Kapal yang ada di laci bisa merujuk pada impian yang tidak terwujud atau potensi yang terabaikan.

Kontras Kehidupan dan Kematian: Puisi ini menggambarkan tetes peluh dari pundak dan tubuh yang rebah tanpa gerak, menciptakan kontras antara kehidupan dan kematian. Ini bisa mencerminkan sisi keterbatasan manusia dalam menghadapi kematian dan kehilangan.

Gambaran Kereta Malam: Seruling kereta malam yang sengak menggambarkan citra kebisingan dan hiruk-pikuk kehidupan kota. Ini menciptakan kontras dengan gambaran alam yang sepi dan diam. Seruling kereta malam juga bisa menggambarkan perasaan kehilangan identitas atau orientasi dalam kehidupan yang sibuk.

Konflik dan Perdamaian: Gatoloco berperang melawan Perjiwati, dan puisi ini menciptakan gambaran konflik dan pertempuran. Namun, kontras ini diimbangi oleh suluk demi suluk yang saling memeluk dan pantai yang berteluk, menciptakan gambaran perdamaian dan keharmonisan.

Gaya Bahasa dan Struktur: Suripan Sadi Hutomo menggunakan bahasa yang sederhana namun efektif dalam puisi ini. Struktur puisi ini terdiri dari empat belas baris (soneta) yang menggambarkan gambaran alam, kemudian diikuti oleh empat bait yang menciptakan gambaran kehidupan manusia dan pertempuran, dan akhirnya, dua baris terakhir mengakhiri puisi dengan mengulang deskripsi bukit yang gundul.

Puisi "Bukit" karya Suripan Sadi Hutomo adalah karya sastra yang menggambarkan kontras antara alam yang sepi dan kehidupan manusia yang penuh dengan konflik dan perasaan. Puisi ini mengajak pembaca untuk merenungkan makna kehidupan, alam, dan perdamaian dalam konteks yang kompleks dan mendalam.

Puisi Bukit
Puisi: Bukit
Karya: Suripan Sadi Hutomo

Biodata Suripan Sadi Hutomo:
  1. Suripan Sadi Hutomo lahir pada tanggal 5 Februari 1940 di Ngawen, Blora.
  2. Suripan Sadi Hutomo meninggal dunia pada tanggal 23 Februari 2001 di Surabaya.
© Sepenuhnya. All rights reserved.