Puisi: Bumiayu (Karya Piek Ardijanto Soeprijadi)

Puisi “Bumiayu” karya Piek Ardijanto Soeprijadi merupakan potret puitis tentang keindahan alam pedesaan sekaligus ruang batin yang dipenuhi rasa ...
Bumiayu (1)

Jamilah
Bumiayu betapa indah
bumimu terbentang hijau muda
selalu merangsang hidup bercinta

bangun subuh temerang timur
harapan tumbuh sawah subur
mata terpenuhi padi bunting pagi bening
mandang gunung luka hilang lari ke tebing

menatap perempuan bukit berkulit lembut
turun ke kota nggendong daun berkerudung kabut
sepanjang jalan berbatu gunung tertapis lempung
degup hidup sendu desa terus tersenandung

Sendiri menyusuri pinggir sawah
sampai senja pun aku betah
ah angin pagi mengusap hati
bergoyang girang bulir padi


Bumiayu (2)

Jamilah
Bumiayu betapa manis
bumimu berpayung langit biru
lelah menerawang rindu

bangun subuh segar udara
angin gunung menusuk batas kota
harapan mekar padi tua sawah mengemas
ke sekitar luas tersebar beras mengapas

sepi menyusuri jalan raya dari utara
gedung-gedung masih bisu di pagi buta
sebentar kusilangkan lengan atas jembatan
gericik kali menceritakan hangatnya kehidupan

sendiri di muka masjid kau lewat berbaju kuning
bandul kalung emas manis menghias dadamu gading
ah gadis gunung berwajah sumringah
mau menyapamu dadaku retak rengkah

Sumber: Biarkan Angin Itu (Grasindo, 1996)

Analisis Puisi:

Puisi “Bumiayu” karya Piek Ardijanto Soeprijadi merupakan potret puitis tentang keindahan alam pedesaan sekaligus ruang batin yang dipenuhi rasa rindu dan kekaguman. Melalui dua bagian puisi, penyair memadukan lanskap alam yang subur dengan kehadiran sosok “Jamilah” sebagai pusat emosi dan daya tarik.

Tema

Tema utama puisi ini adalah keindahan alam pedesaan dan perasaan rindu yang lembut.

Puisi ini bercerita tentang kekaguman seseorang terhadap daerah Bumiayu yang digambarkan subur, hijau, dan penuh kehidupan. Sawah, gunung, angin pagi, serta suasana desa menjadi latar utama yang menenangkan.

Di tengah keindahan tersebut, muncul sosok “Jamilah” yang memperkuat nuansa personal. Ia tidak hanya menjadi bagian dari lanskap, tetapi juga sumber rasa rindu dan ketertarikan yang mendalam bagi penyair.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa alam dan perasaan manusia saling berkaitan erat.

Keindahan alam Bumiayu tidak hanya dilihat secara fisik, tetapi juga dirasakan secara emosional. Kehadiran Jamilah memperlihatkan bahwa cinta dan rindu dapat tumbuh subur di lingkungan yang damai. Namun, ada pula kesan keterjarakan—rasa ingin menyapa yang justru berakhir dengan “retak rengkah” di dada.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi ini terasa tenang, indah, romantis, dan sedikit sendu, terutama ketika rindu tidak tersampaikan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang dapat diambil adalah bahwa keindahan alam dapat memperhalus perasaan manusia, namun tidak semua rasa dapat terungkap dengan mudah. Puisi ini juga mengajarkan untuk menghargai momen sederhana yang menyatu antara alam dan perasaan.

Imaji

Puisi ini sangat kaya akan imaji yang hidup dan detail, antara lain:
  • Imaji visual: sawah hijau, padi bunting, gunung, langit biru, gadis berbaju kuning.
  • Imaji gerak: angin mengusap hati, bulir padi bergoyang.
  • Imaji suasana: pagi hari yang segar, desa yang tenang, kota yang masih sepi.
Imaji tersebut menghadirkan pengalaman yang hampir nyata bagi pembaca.

Majas

Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini antara lain:
  • Personifikasi: angin yang “mengusap hati”, kali yang “menceritakan kehidupan”.
  • Metafora: alam sebagai cerminan perasaan cinta dan rindu.
  • Simbolisme: padi dan sawah sebagai lambang kehidupan dan harapan.
  • Hiperbola: “dadaku retak rengkah” untuk menggambarkan gejolak emosi.
Puisi “Bumiayu” karya Piek Ardijanto Soeprijadi adalah perpaduan harmonis antara keindahan alam dan kedalaman perasaan manusia. Dengan bahasa yang puitis dan imaji yang kuat, puisi ini mengajak pembaca untuk merasakan bagaimana alam dapat menjadi ruang tumbuhnya cinta, rindu, dan kenangan yang tak terlupakan.

Puisi: Bumiayu
Puisi: Bumiayu
Karya: Piek Ardijanto Soeprijadi

Biodata Piek Ardijanto Soeprijadi:
  • Piek Ardijanto Soeprijadi (EyD Piek Ardiyanto Supriyadi) lahir pada tanggal 12 Agustus 1929 di Magetan, Jawa Timur.
  • Piek Ardijanto Soeprijadi meninggal dunia pada tanggal 22 Mei 2001 (pada umur 71 tahun) di Tegal, Jawa Tengah.
  • Piek Ardijanto Soeprijadi adalah salah satu sastrawan angkatan 1966.
© Sepenuhnya. All rights reserved.