Puisi: Burung-Burung Melayat (Karya Dorothea Rosa Herliany)

Puisi “Burung-Burung Melayat” karya Dorothea Rosa Herliany menggambarkan dunia yang berkabung, sekaligus mengajak pembaca untuk merenungkan peran ...
Burung-Burung Melayat

langit seperti terbuka untukku. burung-burung
bertumpahan, menanggalkan sayap dan bulu-bulu yang
bergetar. laut di seberang gurun dan gubuk-gubuk
nelayan di pantai. semua mengirimkan angin dan pasir
untukku. aku sendiri tak pernah berziarah pada tanah
yang berkabung, atas kematian orang-orang dalam
pelupuk mataku. orang-orang mengukir keranda bagi
dirinya sendiri. menggali kubur sendiri dan
menguruknya. dengan sejarah dan peradaban.

bumi seperti terbuka untukku. bukit-bukit,
sawah-sawah dan sungai yang telah mati. semuanya
mengirimkan bau daun tunas-tunas yang tak tumbuh.
burung-burung terbang kepadaku. dan aku seperti
menangkap gelagat musim. seperti terompet yang
dibunyikan, memanggil orang-orang gemetar. dan
kalender-kalender harus dilepas.

burung-burung melayat kepadaku. burung-burung
melayat kepadaku. orang-orang telah mengirimkan
ringkik kematian. jaman yang berkabung. pada sejarah
yang telah disulap catatan-catatan pejalan kaki yang
bimbang. burung-burung melayat kepadaku.

1987

Sumber: Nikah Ilalang (1995)

Analisis Puisi:

Puisi “Burung-Burung Melayat” merupakan karya yang kompleks dan penuh simbolisme. Dengan bahasa yang padat serta citraan yang kuat, penyair menghadirkan refleksi tentang kematian, sejarah, dan kondisi manusia dalam peradaban.

Tema

Tema utama dalam puisi ini adalah kematian dan duka kolektif dalam kehidupan manusia. Selain itu, terdapat pula tema tentang kehancuran peradaban, ingatan, dan keterasingan individu di tengah sejarah.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang seolah menjadi pusat dari peristiwa berkabung yang luas. Alam—langit, bumi, burung, angin—digambarkan ikut merespons kematian dan kehancuran yang terjadi. Burung-burung hadir sebagai pelayat, sementara manusia digambarkan mengurus kematian mereka sendiri, bahkan “mengukir keranda” dan “menggali kubur sendiri”. Puisi ini tidak bercerita secara linear, melainkan melalui rangkaian citra yang menggambarkan kondisi dunia yang sedang berduka.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini antara lain:
  • “Burung-burung melayat” melambangkan tanda-tanda kematian atau duka yang meluas.
  • Manusia yang “menggali kubur sendiri” menunjukkan kritik terhadap peradaban yang justru menghancurkan dirinya sendiri.
  • Sejarah dan peradaban digambarkan sebagai sesuatu yang rapuh dan bisa berubah menjadi sumber kehancuran.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini sangat kelam, mencekam, dan penuh duka. Ada nuansa apokaliptik (seolah-olah dunia sedang menuju kehancuran) yang kuat.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang dapat ditafsirkan:
  • Manusia perlu menyadari dampak dari tindakannya terhadap kehidupan dan peradaban.
  • Jangan sampai peradaban yang dibangun justru membawa kehancuran bagi manusia itu sendiri.
  • Pentingnya refleksi terhadap sejarah agar kesalahan tidak terus berulang.

Imaji

Puisi ini sangat kaya imaji:
  • Imaji visual: “burung-burung bertumpahan”, “keranda”, “kubur”, “bukit-bukit dan sawah”.
  • Imaji auditif: “ringkik kematian”, “terompet yang dibunyikan”.
  • Imaji penciuman: “bau daun tunas-tunas yang tak tumbuh”.
  • Imaji gerak: burung-burung yang terbang dan melayat.

Majas

Beberapa majas yang digunakan:
  • Simbolisme: burung sebagai lambang duka atau kematian.
  • Personifikasi: alam (langit, bumi) seolah-olah bereaksi dan “mengirimkan” sesuatu.
  • Repetisi: “burung-burung melayat kepadaku” untuk menegaskan suasana berkabung.
  • Paradoks: manusia membangun peradaban tetapi sekaligus menghancurkannya.
Puisi “Burung-Burung Melayat” karya Dorothea Rosa Herliany merupakan refleksi mendalam tentang kematian dan krisis peradaban. Dengan simbol-simbol yang kuat dan imaji yang intens, puisi ini menggambarkan dunia yang berkabung, sekaligus mengajak pembaca untuk merenungkan peran manusia dalam membentuk—atau menghancurkan—sejarahnya sendiri.

Dorothea Rosa Herliany
Puisi: Burung-Burung Melayat
Karya: Dorothea Rosa Herliany

Biodata Dorothea Rosa Herliany:
  • Dorothea Rosa Herliany lahir pada tanggal 20 Oktober 1963 di Magelang, Jawa Tengah, Indonesia. Ia adalah seorang penulis (puisi, cerita pendek, esai, dan novel) yang produktif.
  • Dorothea sudah menulis sejak tahun 1985 dan mengirim tulisannya ke berbagai majalah dan surat kabar, antaranya: Horison, Basis, Kompas, Media Indonesia, Sarinah, Suara Pembaharuan, Mutiara, Citra Yogya, Dewan Sastra (Malaysia), Kalam, Republika, Pelita, Pikiran Rakyat, Surabaya Post, Jawa Pos, dan lain sebagainya.
© Sepenuhnya. All rights reserved.