Cerita untuk Marga
Ke arah senja
Ada selingkar jalan
Tebing rendah
Remang warung dan ruap kopi
Di udara
Seorang lelaki
Berjalan sendiri
Lelaki itu
Bernama melankoli
Berjalan, berjalan
Terus, terus
Ke pusat malam
Tak ada percakapan
Hanya sentuhan jemari angin
Dingin yang berembun
Pada telapak tangan
Peruntungannya
Tak ada
Kenangan yang dirancang
Pada jalan berbatu
Kesepiannya. Kenangan
Semakin menjauh
Bersama lenguh
Adzan subuh
Dan hotel menunggu
Seperti unggun api
Di hutan. Tapi lelaki itu
Si melankoli itu
Terus saja berjalan, berjalan
Melewati pertigaan
Meninggalkan perempatan
"Aku sudah menunggumu sejak tadi
Dengan kaos merah dan celana hitam
Yang sobek di lutut kanan"
Lelaki itu seperti mendengar suara merdu
Tapi tak mau peduli
Berjalan, berjalan
Terus, terus
Menuju pagi
"Aku menunggumu sendirian
Dengan secangkir teh di tangan"
Lelaki itu tak mau mendengar
Suaranya sendiri
Berjalan, berjalan
Terus, terus
Melengkapkan sepi
2006
Sumber: Menjadi Penyair Lagi (2007)
Analisis Puisi:
Puisi “Cerita untuk Marga” karya Acep Zamzam Noor menghadirkan potret kesendirian yang intens dalam lanskap senja hingga pagi. Melalui tokoh “lelaki bernama melankoli”, penyair merangkai perjalanan batin yang sunyi, penuh jarak, dan enggan kembali pada suara yang memanggilnya.
Puisi ini bergerak perlahan, dari senja menuju pagi, namun tanpa benar-benar menemukan pertemuan.
Tema
Tema puisi ini adalah kesepian dan penolakan terhadap pertemuan.
Puisi ini bercerita tentang seorang lelaki yang berjalan sendirian dari senja menuju pagi. Ia dipersonifikasikan sebagai “melankoli”, sehingga perjalanan fisiknya sekaligus menjadi perjalanan batin. Ada suara yang memanggil dan menunggunya, namun ia memilih untuk terus berjalan dan mengabaikan panggilan itu.
Tema kesendirian yang disengaja dan keterasingan dari diri sendiri sangat dominan dalam puisi ini.
Makna Tersirat
Secara naratif, puisi ini menggambarkan seorang lelaki yang terus berjalan tanpa mengindahkan panggilan seseorang yang menunggunya. Namun, makna tersirat yang dapat dibaca lebih dalam adalah konflik batin antara keinginan untuk terhubung dan dorongan untuk mengasingkan diri.
- “Lelaki itu bernama melankoli” menyiratkan bahwa tokoh tersebut adalah simbol perasaan murung itu sendiri.
- Suara yang memanggil dengan detail pakaian dan secangkir teh dapat dimaknai sebagai simbol kehangatan, cinta, atau kesempatan untuk kembali.
- “Tak mau mendengar suaranya sendiri” mengisyaratkan bahwa panggilan itu mungkin berasal dari dalam dirinya sendiri—suara hati yang diabaikan.
Puisi ini menyiratkan bahwa kesepian kadang bukan karena tidak ada yang menunggu, melainkan karena seseorang memilih untuk terus berjalan menjauhi kemungkinan pertemuan.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi cenderung sunyi, sendu, dan kontemplatif. Nuansa senja, malam, hingga subuh memperkuat kesan waktu yang bergerak lambat dan penuh perenungan.
Ada rasa dingin dan jarak emosional, terutama pada bagian ketika tokoh mengabaikan suara yang memanggilnya. Repetisi “berjalan, berjalan / terus, terus” menambah kesan monoton dan hampa.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Amanat yang disampaikan puisi ini dapat dimaknai sebagai refleksi tentang pentingnya keberanian untuk menghadapi perasaan sendiri. Menghindar dari panggilan hati hanya akan memperpanjang kesepian. Puisi ini juga mengingatkan bahwa kesempatan untuk bertemu—baik dengan orang lain maupun dengan diri sendiri—tidak selalu datang dua kali.
Puisi “Cerita untuk Marga” karya Acep Zamzam Noor merupakan refleksi puitis tentang kesepian yang dipilih dan suara hati yang diabaikan. Puisi ini menyuguhkan perjalanan batin yang lirih namun menggugah—sebuah potret tentang manusia yang melengkapkan sepinya sendiri.
Biodata Acep Zamzam Noor:
- Acep Zamzam Noor (Muhammad Zamzam Noor Ilyas) lahir pada tanggal 28 Februari 1960 di Tasikmalaya, Jawa Barat, Indonesia. Ia adalah salah satu sastrawan yang juga aktif melukis dan berpameran.
