Clotilde dari Apollinaire
Kembang ancun dan angkuli
tumbuh di kebun sunyi
dimana terbaring murung
antara kasih dan benci
Ke sana datang bayang-bayang kita
terpencar diusir malam
matahari yang membuatnya muram
bersama sama musna
Di sungai deras peri dan mambang
mengurai rambutnya panjang
lewatkan! burulah semata
bayang-bayang indah yang kaupuja
Sumber: Horison (Juni, 1967)
Analisis Puisi:
Puisi “Clotilde dari Apollinaire” karya Wing Kardjo merupakan puisi yang memperlihatkan nuansa simbolik dan romantik dengan latar suasana yang sunyi dan melankolis. Judulnya merujuk pada sosok “Clotilde” yang dalam tradisi sastra Prancis berkaitan dengan dunia liris yang puitis dan penuh bayangan perasaan. Dalam versi ini, penyair menghadirkan lanskap alam dan bayang-bayang sebagai metafora konflik batin.
Puisi ini singkat, tetapi padat dengan citraan dan simbol.
Tema
Tema utama puisi ini adalah pergulatan perasaan antara cinta dan kebencian, serta kefanaan kenangan. Konflik batin menjadi pusat narasi liris yang dibangun melalui gambaran alam.
Puisi ini bercerita tentang suasana kebun sunyi tempat “terbaring murung / antara kasih dan benci”. Bayang-bayang kenangan datang dan pergi, diusir malam, lalu musna bersama matahari. Pada akhirnya, penyair seakan diajak untuk memburu bayangan indah yang dipuja, meskipun ia hanya ilusi.
Makna Tersirat
Di balik gambaran alam dan makhluk mitologis, terdapat makna yang mendalam:
- Bayang-bayang sebagai simbol kenangan atau cinta masa lalu. Bayangan hadir, lalu hilang, menandakan ketidakabadian perasaan.
- Konflik batin antara kasih dan benci. Frasa “antara kasih dan benci” menunjukkan ambivalensi emosional—cinta yang tak sepenuhnya murni atau kebencian yang tak sepenuhnya lepas.
- Ilusi keindahan. Ajakan “burulah semata / bayang-bayang indah yang kaupuja” dapat dimaknai sebagai sindiran terhadap obsesi pada sesuatu yang tidak nyata.
Puisi ini menyiratkan bahwa perasaan manusia sering kali terperangkap dalam bayangan yang fana.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini terasa sunyi, muram, dan melankolis. “Kebun sunyi” dan “matahari yang membuatnya muram” membangun latar yang sepi dan sendu. Ada nuansa magis melalui kehadiran “peri dan mambang”, tetapi magis itu tidak cerah—justru terasa samar dan misterius.
Nada keseluruhan puisi bersifat reflektif dan puitis.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Amanat yang disampaikan puisi ini dapat dipahami sebagai:
- Kenangan dan bayangan masa lalu tidak selalu layak untuk dikejar.
- Cinta dan kebencian sering berjalan beriringan dalam batin manusia.
- Keindahan yang dipuja bisa jadi hanya ilusi yang fana.
Puisi ini mengajak pembaca untuk merenungkan kembali apa yang sebenarnya dikejar dalam hidup—realitas atau bayangan.
Imaji
Puisi ini kaya dengan Imaji, antara lain:
- Imaji visual: “kembang ancun dan angkuli”, “kebun sunyi”, “bayang-bayang”, “rambutnya panjang”.
- Imaji gerak: “terpencar diusir malam”, “mengurai rambutnya panjang”.
- Imaji mitologis: “peri dan mambang” yang menambah nuansa magis dan simbolik.
Imaji-imaji tersebut menciptakan lanskap yang indah sekaligus muram, memperkuat suasana liris.
Majas
Beberapa Majas yang tampak dalam puisi ini antara lain:
- Metafora: “Bayang-bayang kita” sebagai metafora kenangan atau sisi lain diri.
- Personifikasi: “matahari yang membuatnya muram” memberi sifat emosional pada matahari.
- Simbolisme: Kebun sunyi melambangkan ruang batin; sungai deras melambangkan arus waktu atau perasaan.
- Kontras: “kasih dan benci” sebagai pertentangan emosional yang memperkuat konflik batin.
Puisi “Clotilde dari Apollinaire” karya Wing Kardjo merupakan puisi liris yang memadukan simbol alam, bayangan, dan unsur magis untuk menggambarkan konflik batin antara cinta dan kebencian. Puisi ini menghadirkan refleksi tentang keindahan yang rapuh dan bayangan yang tak pernah benar-benar tinggal.
Puisi ini menempatkan pembaca dalam ruang sunyi batin—di antara kenyataan dan bayangan yang terus saling mengejar.
Karya: Wing Kardjo
Biodata Wing Kardjo:
- Wing Kardjo Wangsaatmadja lahir pada tanggal 23 April 1937 di Garut, Jawa Barat.
- Wing Kardjo Wangsaatmadja meninggal dunia pada tanggal 19 Maret 2002 di Jepang.
