Puisi: Dari Kamal ke Kalianget (Karya D. Zawawi Imron)

Puisi “Dari Kamal ke Kalianget” karya D. Zawawi Imron mengingatkan bahwa masa lalu tidak boleh dihapus, karena dari sanalah kesadaran dan harapan ...

Dari Kamal ke Kalianget

untuk Hadi

masih ada sisa sepatu
yang dulu menginjak kaki kakek sampai berdarah
tapi pulau
bersama lalat dan langau
telah melipat buku sejarah

sepanjang jalan
dari kamal ke kalianget
jejakmu merintih
di punggungnya yang hitam
ada nasib
ada perpacuan
tak jumpai pertemuan

kini
jika engkau kembali lewat di sini
mulai tampak
warna lantang melonjak dari kelam
tidak kausangka
tanahmu kerontang
meminta semacam cucuran hujan

1965

Sumber: Bantalku Ombak Selimutku Angin (1996)

Analisis Puisi:

Puisi “Dari Kamal ke Kalianget” karya D. Zawawi Imron merupakan karya yang kuat secara historis dan emosional. Dengan latar geografis Madura—dari Kamal hingga Kalianget—penyair menghadirkan lanskap perjalanan yang sarat jejak sejarah, luka kolektif, dan harapan akan perubahan. Puisi ini ditujukan “untuk Hadi”, sebagai sosok personal sekaligus simbol generasi penerus.

Tema

Tema puisi ini adalah sejarah luka dan harapan perubahan di tanah kelahiran. Penyair mengangkat memori kolektif tentang penderitaan masa lalu sekaligus menyinggung kemungkinan kebangkitan di masa kini.

Makna Tersirat

Puisi ini adalah kritik terhadap sejarah penindasan yang dialami masyarakat, sekaligus peringatan agar luka masa lalu tidak dihapus begitu saja. “Sisa sepatu” menjadi simbol kekuasaan atau penjajahan yang meninggalkan penderitaan.

Frasa “pulau telah melipat buku sejarah” dapat dimaknai sebagai kecenderungan masyarakat melupakan masa lalu, baik karena trauma maupun karena perubahan zaman.

Sementara itu, “tanahmu kerontang meminta semacam cucuran hujan” adalah metafora tentang kebutuhan akan pembaruan—baik secara sosial, ekonomi, maupun moral.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini cenderung muram dan reflektif pada bagian awal, kemudian bergerak menuju nada harapan di bagian akhir. Ada kesan getir dalam mengingat luka sejarah, namun juga optimisme terhadap kemungkinan perubahan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang disampaikan puisi ini adalah pentingnya mengingat sejarah sebagai bagian dari identitas kolektif. Luka masa lalu tidak boleh dilupakan, tetapi harus dijadikan pelajaran untuk membangun masa depan yang lebih baik. Puisi ini juga menyiratkan bahwa perubahan tidak datang dengan sendirinya; tanah yang kerontang memerlukan “hujan”—yakni usaha, kepedulian, dan kesadaran bersama.

Puisi “Dari Kamal ke Kalianget” karya D. Zawawi Imron merupakan refleksi mendalam tentang sejarah, luka kolektif, dan harapan perubahan di tanah Madura. Dengan bahasa simbolik dan imaji yang kuat, penyair menghadirkan perjalanan yang tidak hanya geografis, tetapi juga historis dan emosional. Puisi ini mengingatkan bahwa masa lalu tidak boleh dihapus, karena dari sanalah kesadaran dan harapan masa depan dapat tumbuh—seperti tanah kerontang yang menanti turunnya hujan.

Puisi D. Zawawi Imron
Puisi: Dari Kamal ke Kalianget
Karya: D. Zawawi Imron

Biodata D. Zawawi Imron:
  • D. Zawawi Imron lahir pada tanggal 1 Januari 1945 di desa Batang-batang, Kabupaten Sumenep, Provinsi Jawa Timur, Indonesia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.