Dari La Chimere de Notre-Dame
Dari puncak menara
kulihat kota terbuka
kala musim panas mendera mega
kata-kata cair jadi ludah dusta
kala tiap makna
berputar seperti kepala ular
memuntahkan bisa
Dari puncak menara
kulihat kata
dengan mata binatang gila
kayal dan impian serakah
luka hidup yang makin parah
Di puncak gemalau suara
menara hilang ditelan keluh
semangat lumpuh
direndam peluh
pun sungai yang membelah kota
sarat bangkai kata-kata
Sumber: Horison (Juli, 1969)
Analisis Puisi:
Puisi “Dari La Chimere de Notre-Dame” karya Wing Kardjo menghadirkan sudut pandang simbolik dari puncak menara—yang merujuk pada chimera atau patung gargoyle di Katedral Notre-Dame. Dari ketinggian itu, penyair menatap kota dan menangkap krisis makna, kerusakan moral, serta kebobrokan bahasa yang tercemar dusta. Puisi ini bersifat reflektif sekaligus kritis terhadap realitas sosial.
Tema
Tema puisi ini adalah dekadensi moral dan krisis makna dalam kehidupan modern, terutama melalui penyalahgunaan bahasa dan kata-kata.
Puisi ini bercerita tentang sudut pandang penyair yang berdiri di puncak menara, memandang kota yang terbuka di bawah musim panas yang mendera. Dari ketinggian itu, ia menyaksikan kata-kata yang “cair jadi ludah dusta”, makna yang berputar seperti kepala ular dan memuntahkan bisa.
Pada bagian berikutnya, kata digambarkan memiliki “mata binatang gila”, dipenuhi khayal dan impian serakah, serta luka hidup yang semakin parah.
Di bagian akhir, gemuruh suara menelan menara, semangat menjadi lumpuh, dan sungai yang membelah kota justru sarat bangkai kata-kata. Gambaran ini menegaskan bahwa bahasa—yang seharusnya menjadi alat kebenaran—telah tercemar dan mati secara moral.
Makna Tersirat
Puisi ini adalah kritik terhadap manipulasi bahasa dalam kehidupan sosial dan politik. Kata-kata yang seharusnya menyampaikan kebenaran berubah menjadi alat dusta.
Chimera—makhluk mitologis penjaga katedral—dapat dimaknai sebagai simbol pengamat yang diam namun tajam, menyaksikan kehancuran moral manusia dari atas. Sungai yang sarat bangkai kata-kata melambangkan akumulasi kebohongan yang mencemari peradaban.
Puisi ini juga menyiratkan bahwa ketika bahasa kehilangan integritas, semangat kolektif pun menjadi lumpuh.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini muram, getir, dan penuh kegelisahan. Ada nuansa satiris dan pesimistis terhadap kondisi kota dan manusia yang diwakilinya.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Amanat yang disampaikan puisi ini adalah pentingnya menjaga integritas kata dan makna. Bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi fondasi moral dan peradaban. Puisi ini mengingatkan bahwa ketika kata-kata dipenuhi dusta dan keserakahan, kehancuran nilai akan mengikuti. Oleh karena itu, manusia perlu kembali pada kejujuran dan tanggung jawab dalam berbahasa.
Puisi “Dari La Chimere de Notre-Dame” karya Wing Kardjo adalah refleksi kritis tentang krisis bahasa dan moralitas dalam kehidupan modern. Dari ketinggian simbolik menara, penyair melihat kota yang dipenuhi kata-kata tanpa makna dan kebenaran yang tergerus.
Melalui citraan yang tajam dan metafora yang kuat, puisi ini mengajak pembaca untuk merenungkan kembali peran bahasa sebagai penyangga etika dan peradaban. Ketika kata kehilangan makna, manusia pun terancam kehilangan arah.
Karya: Wing Kardjo
Biodata Wing Kardjo:
- Wing Kardjo Wangsaatmadja lahir pada tanggal 23 April 1937 di Garut, Jawa Barat.
- Wing Kardjo Wangsaatmadja meninggal dunia pada tanggal 19 Maret 2002 di Jepang.
