Dari Pont Neuf
Seperti bunga-bunga awan-senja merah
bercermin di sungai seine
terapung dalam ayunan alun
kemudian hanyut
dalam air kelabu yang ikut terharu
sebab saat-saat indah yang berlaku
Seperti cinta yang hilang
air mata kuraih dari awan muram
kuteguk dari mangkuk garam
pahitnya racun: kembang asmara yang busuk
Cintaku: kota berlian
di malam panjang
lesu sebab berjalan mencari perjumpaan
yang tak terjumpa
wajahmu bisu
sebab kata-kata pun sudah lama kakinya
mendekati lumpuh — jemu menyeret-nyeret
muatan tubuh
jauh — sampai-sampai di pagi lusuh
Sumber: Horison (Juli, 1969)
Analisis Puisi:
Puisi “Dari Pont Neuf” karya Wing Kardjo menghadirkan lanskap Paris sebagai ruang perenungan cinta dan kehilangan. Pont Neuf—jembatan tertua di Paris yang melintasi Sungai Seine—menjadi titik pijak simbolik bagi penyair untuk merefleksikan kenangan, keindahan, dan kepahitan asmara.
Melalui gambaran senja, sungai, dan kota, puisi ini memadukan keindahan visual dengan kedalaman emosional.
Tema
Tema puisi ini adalah cinta dan kehilangan dalam balutan suasana kota yang romantik namun melankolis.
Puisi ini bercerita tentang pengalaman batin seseorang yang mengenang cinta yang telah hilang. Keindahan senja di atas Sungai Seine menjadi latar kontras bagi kepedihan perasaan. Cinta digambarkan pernah indah, namun akhirnya membusuk dan menyisakan kepahitan.
Makna Tersirat
Secara eksplisit, puisi ini memotret pemandangan senja di Sungai Seine dan suasana kota pada malam hari. Namun, makna tersirat yang muncul adalah bahwa keindahan luar tidak selalu sejalan dengan kebahagiaan batin.
- “Awan-senja merah bercermin di sungai” menyiratkan momen indah yang sementara.
- “Kembang asmara yang busuk” menunjukkan cinta yang telah rusak dan kehilangan makna.
- “Kata-kata mendekati lumpuh” menyiratkan kebuntuan komunikasi dalam hubungan.
Pont Neuf sebagai latar dapat dimaknai sebagai simbol penghubung—antara dua tepi sungai, antara masa lalu dan masa kini—namun dalam puisi ini, jembatan itu tidak mampu mempertemukan kembali cinta yang telah hilang.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi didominasi nuansa melankolis, sendu, dan reflektif. Pada bagian awal, terdapat keindahan visual senja yang puitis. Namun, suasana berubah menjadi getir dan pahit ketika cinta digambarkan sebagai “racun” dan “kembang asmara yang busuk”.
Menjelang akhir, suasana terasa lelah dan lesu, tercermin dalam frasa seperti “malam panjang” dan “pagi lusuh”.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Amanat yang disampaikan puisi ini adalah bahwa cinta yang tidak terpelihara dapat berubah menjadi kepahitan. Keindahan dan romantisme tidak menjamin kebahagiaan abadi. Puisi ini juga menyiratkan pentingnya komunikasi dalam hubungan. Ketika kata-kata “mendekati lumpuh”, hubungan pun kehilangan daya hidupnya.
Puisi “Dari Pont Neuf” karya Wing Kardjo merupakan refleksi mendalam tentang cinta yang hilang di tengah lanskap romantik kota Paris. Puisi ini menghadirkan kontras tajam antara gemerlap kota dan kehampaan hati. Keindahan senja dan sungai menjadi saksi bisu atas perjalanan cinta yang tak lagi menemukan perjumpaan.
Karya: Wing Kardjo
Biodata Wing Kardjo:
- Wing Kardjo Wangsaatmadja lahir pada tanggal 23 April 1937 di Garut, Jawa Barat.
- Wing Kardjo Wangsaatmadja meninggal dunia pada tanggal 19 Maret 2002 di Jepang.
