Puisi: Denpasar Selatan, dari Sebuah Lorong (Karya Umbu Landu Paranggi)

Puisi “Denpasar Selatan, dari Sebuah Lorong” karya Umbu Landu Paranggi menghadirkan benturan antara tradisi Bali dan modernitas metropolitan, ...
Denpasar Selatan, dari Sebuah Lorong

anak angin ruh
           sembunyikan sajak airmatamu
hanya cakrawala sepagar halaman
           kali ini menyibak rahasia semesta
begitulah senantiasa perempuan
           ibunda setiap yang bertanda laki-laki
sigaran nyawa
           pecandu laknat air dewi kata-katamu

bibit cahaya rumpun perdu
inilah perjalanan penemuan siang-malammu
           saban kali kau mengidung menembang
dan melabuh bara para kekasih dewata
           terowongan penjor nun
di dusun dusun jagatraya Bali
           resah menanti lalu menyulingmu kembali
memasuki gerbang kotamu tergesa metropolitan

ada juga titipan jalan pasir
           gubug ladang garam masa kecilmu
kaligrafi sungai payau, gaib aksara
terbungkus puja-pujimu, mutlak laguan kawi
           kembali kau menyuruk ingatan
limbung mengguruk tanah kuru dengan darah cinta
           kesuir atau sipongang segara gunungkah itu
gagu merafal, mengeja eja mantra purba...

Sumber: Bali Post (Minggu, 23 Februari 1997)

Analisis Puisi:

Puisi “Denpasar Selatan, dari Sebuah Lorong” karya Umbu Landu Paranggi menampilkan lanskap spiritual dan kultural yang kental dengan nuansa Bali. Melalui diksi simbolik dan metaforis, penyair merangkai pengalaman personal, ingatan masa kecil, serta pergulatan identitas dalam ruang yang bergerak dari lorong kecil menuju cakrawala semesta. Puisi ini padat, sugestif, dan sarat dengan lapisan makna.

Tema

Tema utama puisi ini adalah pencarian jati diri dan perjalanan spiritual dalam ruang budaya. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema ingatan, asal-usul, serta hubungan antara tradisi dan modernitas.

Puisi ini bercerita tentang sosok yang bergerak dalam ruang batin dan geografis: dari lorong di Denpasar Selatan menuju cakrawala yang lebih luas. Ada figur perempuan yang disebut sebagai “ibunda setiap yang bertanda laki-laki,” menghadirkan simbol asal kehidupan.

Penyair menyinggung “penjor,” “dewata,” “laguan kawi,” dan lanskap Bali, yang mempertegas konteks budaya. Di sisi lain, muncul juga gambaran metropolitan yang tergesa, menandakan benturan antara dunia tradisi dan dunia modern.

Ingatan masa kecil—“gubug ladang garam,” “kaligrafi sungai payau”—menjadi sumber refleksi. Semua itu berpadu dalam perjalanan batin yang seperti mantra purba, mencoba merafal kembali identitas yang hampir limbung.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah kerinduan pada akar budaya dan spiritualitas di tengah arus modernitas. Lorong dapat dimaknai sebagai ruang sempit namun intim—tempat awal perenungan. Dari sana, perjalanan menuju cakrawala dan kota metropolitan menunjukkan pergerakan manusia dari tradisi menuju dunia yang lebih kompleks.

Figur perempuan sebagai “ibunda” menyimbolkan sumber penciptaan dan asal-usul. Sementara itu, unsur-unsur seperti penjor dan dewata mengisyaratkan kesakralan hidup yang terancam tergerus zaman.

Puisi ini juga menyiratkan bahwa identitas bukan sesuatu yang statis, melainkan terus dirafal ulang melalui ingatan dan pengalaman.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi ini cenderung kontemplatif, mistis, dan kadang limbung. Ada nuansa sakral dalam penyebutan dewata dan mantra purba, tetapi juga kegelisahan ketika memasuki gerbang kota metropolitan. Perpaduan ini menciptakan atmosfer reflektif sekaligus resah.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat puisi ini dapat dipahami sebagai ajakan untuk tidak melupakan akar budaya dan spiritual di tengah perubahan zaman. Modernitas boleh saja hadir, tetapi ingatan, tradisi, dan nilai-nilai sakral tetap menjadi fondasi identitas. Puisi ini juga mengingatkan pentingnya menafsir ulang perjalanan hidup sebagai proses penemuan diri.

Puisi “Denpasar Selatan, dari Sebuah Lorong” merupakan puisi reflektif yang merajut ruang, budaya, dan spiritualitas dalam satu perjalanan batin. Umbu Landu Paranggi menghadirkan benturan antara tradisi Bali dan modernitas metropolitan, sekaligus menunjukkan bahwa identitas sejati lahir dari ingatan dan akar budaya. Puisi ini menegaskan bahwa perjalanan hidup adalah proses merafal kembali mantra asal-usul, agar manusia tidak tercerabut dari tanah kelahirannya sendiri.

Umbu Landu Paranggi dan Emha Ainun Nadjib
Puisi: Denpasar Selatan, dari Sebuah Lorong
Karya: Umbu Landu Paranggi

Biodata Umbu Landu Paranggi:
  • Umbu Landu Paranggi lahir pada tanggal 10 Agustus 1943 di Kananggar, Paberiwai, Sumba Timur.
  • Umbu Landu Paranggi meninggal dunia pada tanggal 6 April 2021, pukul 03.55 WITA, di RS Bali Mandara.
© Sepenuhnya. All rights reserved.