Info Terbaru: Pidie Jaya kembali dilanda banjir. Aceh belum benar-benar pulih

Puisi: Di Pantai Badur (Karya D. Zawawi Imron)

Puisi “Di Pantai Badur” karya D. Zawawi Imron mengolah citraan alam—ombak, camar, karang, telaga—untuk menyampaikan kegelisahan sekaligus sikap ...

Di Pantai Badur

lidahmu kulukis dengan getah bayang-bayang
sebelum kau mulai bicara
dengan ribuan pipit yang merasa garuda
terimalah! mereka tak pernah berkaca
pada keruh airmatanya sendiri

kuantar engkau ke pantai
tempat gelisah mengekal diri pada ombak
dan apa yang kukira sudah selesai
disusul lagi satu persoalan
tentang camar yang tak pernah kenyang
dan mengaku pengasuh lautan

kalau kau mau mandi
jangan di sini!
mandilah nyanyian mawar yang kini jadi telaga
lalu pada telunjuk yang akan menuding kemahku
kuserahkan kejujuranku

karena pada karang aku berguru

Sumber: Segugus Percakapan Cinta di Bawah Matahari (2017)
Catatan:
Puisi ini pernah muncul di Horison edisi Desember 1983.

Analisis Puisi:

Puisi “Di Pantai Badur” karya D. Zawawi Imron menghadirkan lanskap pantai sebagai ruang refleksi sosial dan batin. Dengan gaya simbolik dan metaforis yang khas, penyair mengolah citraan alam—ombak, camar, karang, telaga—untuk menyampaikan kegelisahan sekaligus sikap moral yang tegas. Pantai dalam puisi ini bukan sekadar latar, melainkan medan perenungan tentang kejujuran, kesombongan, dan pencarian kebenaran.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kritik sosial dan pencarian kejujuran di tengah kepalsuan. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema keteguhan pendirian dan proses belajar dari alam.

Puisi ini bercerita tentang dialog simbolik antara penyair dengan “kau” yang dibawa ke pantai. Sejak awal, muncul gambaran tentang “ribuan pipit yang merasa garuda”, yakni kelompok kecil yang merasa diri besar dan berkuasa. Mereka “tak pernah berkaca pada keruh airmatanya sendiri”, menandakan ketiadaan introspeksi.

Di pantai, gelisah digambarkan “mengekal diri pada ombak”, seolah persoalan hidup tak pernah benar-benar selesai. Ada pula “camar yang tak pernah kenyang dan mengaku pengasuh lautan”, simbol pihak yang rakus namun merasa paling berhak.

Pada bagian akhir, penyair menegaskan sikapnya: jika ingin “mandi”, jangan di tempat yang keruh. Ia menyerahkan kejujurannya pada telunjuk yang menuding, sebab “pada karang aku berguru”—sebuah pernyataan tentang keteguhan dan ketahanan.

Makna Tersirat

Puisi ini adalah kritik terhadap kesombongan dan kemunafikan sosial. “Pipit yang merasa garuda” melambangkan orang-orang kecil yang merasa diri besar tanpa refleksi diri. “Camar yang tak pernah kenyang” menyiratkan kerakusan kekuasaan atau kepentingan.

Pantai menjadi simbol perbatasan antara darat dan laut—antara kepastian dan ketidakpastian. Ombak melambangkan persoalan hidup yang terus datang. Karang melambangkan keteguhan prinsip: keras, kokoh, dan tak mudah goyah meski diterpa gelombang.

Ungkapan “lidahmu kulukis dengan getah bayang-bayang” dapat dimaknai sebagai upaya membungkus kata-kata dengan kesadaran dan kehati-hatian sebelum berbicara.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini reflektif sekaligus kritis. Ada nada sindiran yang tajam, tetapi juga ketenangan batin yang muncul dari sikap tegas dan keyakinan pada kejujuran.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang dapat ditangkap adalah pentingnya introspeksi dan kejujuran. Manusia tidak seharusnya merasa besar tanpa bercermin pada dirinya sendiri. Selain itu, puisi ini menegaskan bahwa keteguhan prinsip—seperti karang yang tahan ombak—adalah pegangan dalam menghadapi tudingan dan persoalan hidup. Belajar dari alam menjadi simbol bahwa kebijaksanaan sering kali lahir dari perenungan, bukan dari ambisi.

Puisi “Di Pantai Badur” karya D. Zawawi Imron merupakan refleksi kritis tentang kejujuran, kesombongan, dan keteguhan hati. Melalui simbol-simbol alam yang kuat, penyair menyampaikan pesan moral agar manusia bercermin pada dirinya sendiri dan tetap teguh seperti karang di tengah gelombang persoalan. Puisi ini memperlihatkan bagaimana lanskap pantai dapat menjadi ruang kontemplasi sekaligus kritik sosial yang tajam.

Puisi D. Zawawi Imron
Puisi: Di Pantai Badur
Karya: D. Zawawi Imron

Biodata D. Zawawi Imron:
  • D. Zawawi Imron (biasa disapa Cak Imron) adalah salah satu penyair ternama di Indonesia, ia lahir di desa Batang-Batang, Kabupaten Sumenep, Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Ia sendiri tidak mengetahui dengan pasti tanggal kelahirannya.
© Sepenuhnya. All rights reserved.