Puisi: Di Selat Lombok (Karya Sindu Putra)

Puisi “Di Selat Lombok” karya Sindu Putra menegaskan bahwa di tengah kabut sejarah dan budaya, manusia harus berani menari dalam debu—menghadapi ...
Di Selat Lombok

Di mana tubuhmu!
seekor lembu hitam
gajah dengan taring patah
atau singa bersayap

dituntun seekor anjing,
badan yang berburu bahagia
memasuki air petunjuk ruang
api petunjuk waktu,
angin petunjuk arah
dan garam yang terbentuk
dalam kebekuan.
menghampar pantai laki-laki,
dihias layang-layang betina
perahu-perahu ulan taga
pohon-pohon yang berdaun seribu tahun
pohon yang ditumbuhi
sarang burung berkicau
burung yang membuat sarang
dari bunga benalu
perempuan kupu-kupu
tubuh-tubuh payau,
budak benda-benda mati

terdengar suara wajah remang
mengenakan topeng-topeng pajegan
dan menarikannya
mengetukkan paku kayu
ke seluruh tuhuhku. siapa!
tanya tua dan abadi itu
aku ucapkan kembali
balian yang meramal wajah
dan membaca garis tangan masa depanmu
arjuna yang menunggu
dibungkam panah ekalawya
lelaki yang menakik lirik magik
dan mengadu ayam jantan
istri-istri yang berdandan dan
berangkat menjadi men brayut
mempelaiku, dimana tubuhmu!
aku peziarah marah,
mari menari dalam kabut debu.

2017

Analisis Puisi:

Puisi “Di Selat Lombok” adalah puisi simbolik yang padat dengan citraan budaya, mitologi, dan lanskap alam. Sindu Putra membangun ruang puitik yang menggabungkan unsur hewan, laut, angin, api, serta figur-figur budaya seperti balian, Arjuna, dan Ekalawya.

Puisi ini bergerak seperti arus laut: dinamis, penuh lapisan, dan kadang terasa liar. Ada pertanyaan eksistensial yang berulang: “Di mana tubuhmu!” dan “siapa!” yang mempertegas pencarian identitas dalam ruang geografis sekaligus kultural.

Tema

Tema utama puisi ini adalah pencarian identitas di tengah lanskap budaya dan mitologi. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema keterasingan manusia dalam dunia yang sarat simbol dan sejarah.

Secara umum, puisi ini bercerita tentang seseorang yang mencari “tubuh”—yang dapat dimaknai sebagai jati diri, eksistensi, atau keutuhan makna—di wilayah Selat Lombok.

Puisi dipenuhi gambaran simbolik: lembu hitam, gajah bertaring patah, singa bersayap, hingga anjing penuntun. Unsur-unsur alam seperti air, api, angin, dan garam hadir sebagai petunjuk ruang dan waktu.

Selain itu, muncul figur budaya dan mitologis seperti balian (dukun), Arjuna, dan Ekalawya, yang memperkaya dimensi simbolis puisi. Di bagian akhir, penyair menyebut dirinya “peziarah marah,” menandakan perjalanan batin yang penuh gejolak.

Makna Tersirat

Makna Tersirat dalam puisi ini adalah kegelisahan manusia modern yang terjebak di antara warisan budaya, mitos, dan realitas kontemporer. “Tubuh” menjadi simbol identitas yang tercerai-berai di tengah topeng-topeng sosial dan tradisi yang membelenggu.

Ungkapan seperti “budak benda-benda mati” menyiratkan kritik terhadap materialisme. Sementara figur Arjuna dan Ekalawya menghadirkan simbol konflik antara keahlian, kuasa, dan ketidakadilan.

Puisi ini menyiratkan bahwa pencarian jati diri tidak mudah; ia penuh kabut, debu, dan pertanyaan abadi.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini kompleks: mistis, gelisah, dan penuh energi simbolik. Ada nuansa magis melalui kehadiran balian dan ritual, tetapi juga terasa getir dan marah melalui seruan “aku peziarah marah.”

Atmosfernya padat dan intens, seperti lanskap pesisir yang penuh angin dan gelombang.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat atau pesan yang disampaikan puisi ini adalah bahwa manusia perlu menyadari akar budaya dan sejarahnya dalam proses menemukan jati diri. Namun, ia juga harus berani menanggalkan topeng-topeng yang mengekang kebebasan batin. Puisi ini mengajak pembaca untuk tidak menjadi “budak benda-benda mati,” melainkan peziarah yang sadar dan kritis terhadap lingkungan sosial dan kulturalnya.

Puisi “Di Selat Lombok” karya Sindu Putra adalah puisi simbolik yang menggabungkan lanskap alam, mitologi, dan budaya dalam pencarian identitas yang gelisah. Melalui citraan yang padat dan metafora yang kuat, penyair menghadirkan perjalanan batin seorang peziarah yang marah dan mempertanyakan jati dirinya.

Puisi ini menegaskan bahwa di tengah kabut sejarah dan budaya, manusia harus berani menari dalam debu—menghadapi pertanyaan eksistensial dengan kesadaran dan keberanian.

Sindu Putra
Puisi: Di Selat Lombok
Karya: Sindu Putra
© Sepenuhnya. All rights reserved.