Ditulis dalam Kelam
Jari-jari dalam diri
bagai akar yang tak pernah berhenti
menggali bumi, makin dalam
makin dalam dalam kelam
Jari-jari yang menulis kata
makin keras, makin keras
bagai pisau tajam
Mengoyak-ngoyak badan
Mimpi dalam urat-urat diri
mengalir berdebur-debur
bagai ombak, bagai gelombang
yang tak tahu pulang
Sumber: Horison (Juli, 1969)
Analisis Puisi:
Puisi “Ditulis dalam Kelam” karya Wing Kardjo merupakan karya yang kuat secara simbolik dan emosional. Dengan citraan yang intens dan metafora yang tajam, penyair menghadirkan pergulatan batin seorang individu yang menulis dari ruang gelap—baik gelap secara harfiah maupun gelap sebagai simbol kondisi jiwa. Puisi ini menampilkan hubungan erat antara proses kreatif, penderitaan, dan dorongan batin yang tak terbendung.
Tema
Tema utama puisi ini adalah pergulatan batin dan proses kreatif yang lahir dari kegelapan jiwa. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema pencarian makna diri, perjuangan batin, dan daya dorong mimpi yang tidak pernah padam meskipun berada dalam kondisi kelam.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang menulis dari kedalaman dirinya sendiri. “Jari-jari dalam diri” menjadi simbol dorongan batin yang terus menggali, seperti akar yang menembus bumi tanpa henti. Proses menulis digambarkan bukan sebagai aktivitas ringan, melainkan sebagai tindakan yang keras, bahkan menyakitkan.
Pada bait kedua, kegiatan menulis diibaratkan seperti pisau tajam yang “mengoyak-ngoyak badan”. Hal ini menunjukkan bahwa setiap kata yang ditulis lahir dari pergulatan, bahkan luka. Sementara itu, pada bait terakhir, mimpi digambarkan mengalir dalam urat-urat diri seperti ombak yang tak tahu pulang—sebuah dorongan yang terus bergerak dan tak menemukan titik henti.
Makna Tersirat
Puisi ini mengarah pada gagasan bahwa proses penciptaan—khususnya menulis—tidak terlepas dari penderitaan dan kegelisahan batin. “Kelam” tidak sekadar bermakna gelap secara fisik, tetapi juga melambangkan kondisi psikologis: kesunyian, kesedihan, atau tekanan eksistensial.
Ungkapan “makin dalam dalam kelam” menyiratkan bahwa semakin seseorang menggali dirinya sendiri, semakin ia berhadapan dengan sisi gelap yang tersembunyi. Namun justru dari kedalaman itulah lahir kata-kata yang bermakna.
Puisi ini juga menyiratkan bahwa mimpi dan hasrat kreatif bersifat tak terkendali. Ia mengalir deras, tidak bisa dibendung, bahkan tidak tahu “pulang”—menandakan kegelisahan yang terus-menerus.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini terasa intens, gelap, dan penuh tekanan batin. Ada nuansa muram sekaligus dinamis. Kelam yang dihadirkan bukan statis, melainkan bergerak—ditandai dengan kata-kata seperti “menggali”, “mengoyak-ngoyak”, dan “mengalir berdebur-debur”.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Amanat yang dapat dipetik dari puisi ini adalah bahwa proses kreatif sering kali lahir dari pergulatan terdalam dalam diri. Kegelapan dan penderitaan bukanlah penghalang, melainkan sumber energi untuk mencipta. Puisi ini juga menyiratkan bahwa manusia harus berani menyelami dirinya sendiri, meskipun itu berarti menghadapi sisi gelap yang menyakitkan.
Puisi “Ditulis dalam Kelam” karya Wing Kardjo adalah refleksi mendalam tentang hubungan antara kegelapan batin dan proses penciptaan. Melalui metafora yang kuat dan imaji yang tajam, puisi ini menunjukkan bahwa menulis bukan sekadar aktivitas teknis, melainkan pergulatan eksistensial yang melibatkan luka, mimpi, dan dorongan yang tak pernah berhenti. Kelam bukan akhir, melainkan ruang tempat kata-kata menemukan kekuatannya.
Karya: Wing Kardjo
Biodata Wing Kardjo:
- Wing Kardjo Wangsaatmadja lahir pada tanggal 23 April 1937 di Garut, Jawa Barat.
- Wing Kardjo Wangsaatmadja meninggal dunia pada tanggal 19 Maret 2002 di Jepang.
