Episode Sore
Matahari jinggabagai belahan buah semangkamengapung di sebelahtugu Monasgedung-gedung tinggijadi terpulas rona emas.
Hujanyang mengguyur Jakartasiang tadimasih tersisa di ujung daun akasiakristal-kristal emastapi di tenggara sanakelabu dan suram.
Namun secara umumcuaca Jakarta baik-baik sajalangit mulai dinginudara masih basahkereta api listrik dari Kotamenuju Bogortampak kecapekandan sesak napasdijejali manusiadi luar kapasitas.
Kere-keremenodongkan aktingnyayang memelaspara pengamen menggenjreng gitar lalu menyanyisuara loyo dan pasrahmenyembur dari matanyalalu rokok disulutdan asap knalpot menghamburdari bis kota yang menderuentah menuju ke mana.
"Inikah sarang manusia itu?""Mereka bersarang di kubangan semen dan aspalyang keras dan gersang begini?""Mereka kawin di rumah-rumah petaklalu bininya beranak di rumah sakit beranak?""Apa yang mereka makan?""Pucuk pakis?""Daun nibung?""Mereka makan apa saja!""Manusia-manusia itu kalau mati dibuang ke mana?""Ke laut?""Tidak!""Ada yang ditaruh di dalam tanahada yang dibakar!""Dipanggang?""Tidak!""Dibakar jadi abu lalu abunya dibuang ke laut.Ada juga yang disimpan di rumah abu.""Mengapa manusia membuat sarang setinggi itu?Kalau ambruk bagaimana?""Itu kuat sekali.Tidak akan ambruk.""Di sini tidak ada binatang?""Ada.Ada anjing gemuk-gemukkarena tiap hari diberi daging.""Ada juga sapi dan kambingdan ayam yang dibawa kemari untuk disembelih.""Di sana, di Ragunan, ada bermacam-macam hewanyang dikerangkeng.Ada macan, badak afrika, ular,semua dikurung.""Di Taman Mini juga ada burung-burung yang dikurungdi kandang sangat besar.""Lo, di pasar Pramuka juga adabanyak sekali binatang yang dijual.""Untuk disembelih?""Bukan!Untuk dipelihara sebagai klangenan!""O!""Kalau begitu mari kita bebaskan mereka.""Ayo!""Jangan sekarang!Nanti malam saja!""Itu lebih baik. Lebih aman!"
Sorebau tanah basahyang lembap dan hangatbau hujan yang masih menempeldi daun-daunbau kebebasan yang hanya di angan-angandi sebuah rumah petakdi Kramat Sentiongseorang kakekmenyeruput teh tubrukdan dua potong kue pancongdi depannya pemuda tanggungmengepulkan asap keretekbiru dan harum tapi hangatdi luar sana becekdingin dan kumuh.
"Kemerdekaan itu memang mahal le!Mahal sekali!""Berapa juta mbah?""O, tidak bisa dihargai dengan uang!""Lalu? Dengan cek atau giro bilyet?""Opo kuwi? Mahal itu, artinya tidak semua orangbisa merdeka.""Jadi, yang bisa merdeka itu hanyayang kaya-kaya begitu?""Lo, tidak! Tidak begitu!Kaya, berpangkat, pinter, belum tentu bisa merdeka!""Merdeka saja kok susah Mbah!""Memang. Merdeka itu tidak mudah.Merdeka itu harus iklas.Tidak diikat oleh apapun.Oleh harta, oleh anak istri, oleh atasan, oleh pangkatoleh keinginan. Itu baru namanya merdeka.""La simbah kok terikat sama teh tubruk?""Tidak! Saya tidak minum teh tidak apa-apa.Kalau ada diminum, tidak ada tidak apa-apa.Itu namanya merdeka.Pantang 100%, itu namanya justru tidak merdeka!""Susah mbah ngomong sama sampeyan!""Susah dengkulmu itu. Yang susah yaotakmu sendiri!"
Jakartamatahari jinggaseragam kantor yang mulai lusuhbau keringat diguyur parfumditerpa debuterasa sulit menikmati kemerdekaandi metropolitan inimanusiamakhluk paling muliamakhluk berderajat tinggi ituternyata justru tunduk padabenda-benda ciptaannya sendirijamkartu absenprogram dietrokokpara badak terhenyakmenyaksikankubangan betonkubangan aspalrumpun besibatang-batang bajadan belukar kawat tembaga.
Di mana gemericik air Citerjun?ke mana gugusan kabut?ke mana gundukangunung Payung itu kau pindahkan?aliran sungai Cigenterdi sini kali Sunter tenang namun menghitampenuh sampah kaleng dan plastikdan daun-daun nipahyang tegak di kiri-kanannyatelah menjadi triplekdan dicat warna-warniharum kembang pinangwangi anggrek merpatidisekap di ketiak karpetdan matahari jinggabersiap-siap lengserdari langit.
"Inikah duri-duri rotan itu?mengapa keras dan dipasangmelingkar-lingkarmenghadang di pintu gerbangmelintang di jalanan?"
Lalu gemuruh lalulintas itu senyapdan gerombolan mahasiswadan massadatang dari arah sanamereka bergerakberteriak-teriakdan jaket-jaket merekaberkibaranrambut-rambut merekadihajar debu dan angintetapi warna jingga itumerata di wajah-wajah mereka.
"Anak-anak manusiamengapa Anda marah?mengapa Anda tidak tinggal saja di rumahnonton video pornoatau makan kacang gorengdan mendengarkan pop Amerikasambil memeluk guling?Mengapa wajah-wajah itumasih saja gundah?"
Dari depan sanapasukan anti huru-harabagai robotbergeraklalu dua gugus anak manusia itusaling berhadap-hadapan.Apakah ini versi terbaru dariBharatayuda Jayabinangun?Atau mereka hanyalahwayangyang digerak-gerakkan oleh dalang?"
Pasukan berseragam itubersenjata lengkapdan dikawal panser dan tankmereka menghadangpara mahasiswayang telanjanglaki-laki dan perempuanbagai adam dan hawayang bercengkerama di taman Edenmereka tidak tahu dosamereka belum sempat menyantapbuah pengetahuan baik dan jahatmereka bergerakmenyanyi dan bersorak-sorak.
"Padahal peluru-peluru ituterbuat dari logamdan sangat tajamdan pasti akan mengoyakdaging dan meremukkan tulangmengapa anak-anak muda itutidak ketakutan?"
Tiba-tiba badak itumuncul bagai panser gaibdi antara para mahasiswamereka bergerakbadak-badak itu menyerudukdan peluru-peluru ditembakkantetapi badak-badak ituterus saja bergerakdan mendesakmenyerudukmenginjak-injakmenggulingkan panserdan mendorongnya masuk got.
"Lari! Lari!Ada badak siluman!""Siluman badak!Para mahasiswa mengerahkan Siluman badak.""Mereka dibantu iblis Komunis!""Iblis?""Setan maksudnya!""Ya setan Zionis!""Hantu badak! Ayo kita lari!"
Para mahasiswa tertegunmereka heran"Dari mana datangnya badak-badak ini?""Dari Ujung Kulon?""Jangan-jangan dari Ionesco?""Dari mana itu Ionesco?""Mungkin dikirim Tuhan!""Hus! Jangan Tuhan dibawa-bawa!""Dasar IQ-nya jongkok!Badak-badak itu dikirim oleh Rahardi!""Siapa itu? Petugas Taman Safari atau KB Ragunan?""Bukan! Dia penyair! Sastrawan!""Lo, apa urusannya dengan badak?Apa urusannya dengan demo mahasiswa?Kok enak saja ikut nimbrung.Dasar pahlawan kesiangan!""Jangan diomeli.Nanti dia takut lalu lari masuk hutan!""Masuk hutan? Siapa? Badak-badak itu?""Ya, badak-badak itulah panser kitaTank kita. Hidup badak!""Ayo kita serbu Istana!""Istana presiden?""Ya! Istana presiden!Kita suruh dia mundur!Kita ganti dengan presiden baru yang lebih mudalebih gagah dan ganteng!""Hus! Presiden kita kan tidak berada di istana?Dia hilang diculik badak!""Kalau begitu kita serbu Markas Besar TNI!""Ayo!""Serbu!"
Matahari makin jinggaJakarta makin jinggapohon-pohon juga jinggalalu-lintas itukereta api listrikseluruh penumpangnya berangsurjinggadaun-daun akasiatajuk asokaderetan batang angsanaseluruhnya jadi silhuet jinggalalu matamu sendiriroh para badakmata para mahasiswa itumata para tentarakadang jinggakadang tak jelasapa warnanya.
Sumber: Negeri Badak (2007)
Analisis Puisi:
Puisi "Episode Sore" karya F. Rahardi menghadirkan gambaran Jakarta dalam suatu momen sore yang sarat akan kehidupan dan kontras antara keseharian dan peristiwa dramatis.
Deskripsi Pemandangan Sore: Puisi dibuka dengan deskripsi visual matahari jingga di Jakarta, dengan gambaran gedung-gedung tinggi yang dipulas rona emas. Ini menciptakan atmosfer sore yang hangat dan memberikan sentuhan indah pada gambar kota metropolitan.
Kontras Alam dan Kota: Puisi merujuk pada hujan yang baru saja mengguyur Jakarta, tetapi di tenggara sana masih kelabu dan suram. Ini menciptakan kontras antara keadaan cuaca di berbagai tempat, memperlihatkan keragaman dan kompleksitas Jakarta.
Keseharian dan Kelas Sosial: Dengan merinci suasana di jalanan Jakarta, puisi menggambarkan kehidupan sehari-hari yang melibatkan aktivitas keseharian, seperti kereta api penuh sesak, pengamen, dan asap knalpot bis kota. Ada pula pertanyaan sosial tentang di mana manusia bersarang dan bagaimana kehidupan mereka.
Dialog dan Pemikiran Kritis: Dialog antara tokoh-tokoh dalam puisi memberikan dimensi percakapan dan pemikiran kritis terhadap kondisi sosial. Pertanyaan-pertanyaan tentang tempat manusia bersarang, makanan mereka, dan tempat pembuangan jenazah memberikan wawasan kritis terhadap keseharian yang sering diabaikan.
Simbol Badak: Penyair menggunakan simbol badak yang muncul secara misterius dan membantu para mahasiswa dalam pertemuan dengan pasukan anti huru-hara. Badak-badak ini dapat diartikan sebagai kekuatan atau semangat keberanian yang mengatasi segala hambatan, serta mungkin mencerminkan keinginan untuk menjaga alam dan lingkungan.
Konfrontasi dan Protes: Puisi menggambarkan konfrontasi antara mahasiswa dan pasukan anti huru-hara. Konfrontasi ini memberikan pandangan terhadap suasana sosial dan politik Jakarta pada waktu itu, di mana keinginan untuk merdeka dan protes masih sangat kuat.
Ironi dan Humor: Puisi menggunakan elemen ironi dan humor dalam menggambarkan reaksi masyarakat terhadap peristiwa dan tuntutan mahasiswa. Pertanyaan-pertanyaan aneh dan reaksi yang tidak proporsional menyoroti absurditas beberapa pandangan dan tindakan.
Warna dan Atmosfer: Penyair menggunakan warna seperti jingga dan kontras antara kegelapan dan terang untuk menciptakan atmosfer sore yang terasa hidup dan dinamis. Ini memberikan dimensi visual pada pengalaman pembaca.
Penggunaan Bahasa: Gaya bahasa yang digunakan dalam puisi ini termasuk penggunaan bahasa sehari-hari dan dialog yang memberikan aksesibilitas dan kedekatan dengan realitas sosial.
Puisi "Episode Sore" bukan hanya merupakan pengamatan visual dan auditif tentang Jakarta di sore hari, tetapi juga merupakan kritik sosial yang menghadirkan berbagai aspek kehidupan dan peristiwa politik. Puisi ini mengundang pembaca untuk merenungkan dinamika kehidupan kota besar, serta peran dan tanggung jawab masing-masing individu di dalamnya.
Karya: F. Rahardi
Biodata F. Rahardi:
- F. Rahardi (Floribertus Rahardi) lahir pada tanggal 10 Juni 1950 di Ambarawa, Jawa Tengah.