Puisi: Gendang Pengembara (Karya Leon Agusta)

Puisi “Gendang Pengembara” karya Leon Agusta menegaskan bahwa cinta, doa, dan kesadaran akan penderitaan sesama menjadi satu-satunya cara untuk ...
Gendang Pengembara
: Soeryo Adiwibowo

Sudah sejauh mana pengembaraan kita, cintaku
Negeri-negeri tua sudah kita lintasi. Antara hamparan
rimba kita temukan gua-gua, seperti tertera pada peta
Kota-kota nenek moyang tak pernah tua, tak pernah tua
Selalu dipuja dalam lagu dan kenangan masa kanak

Gedung-gedung baru menggapai langit, ada pula sisa-sisa
pemusnahan. Cerita zaman, prahara berdatangan dan berlalu

Segera setelah senja, sayangku, kita bisa istirahat
Menjemput cerita baru, menyanyikan senandung pengembara

Kita berada di negeri yang sudah lama kehilangan malam
Mendung punya ceritanya sendiri, menghentak jantung
Langit tersedu dalam kesepian yang renta.

Saksikanlah
Orang-orang berkelompok, melupakan nama masing-masing
Mereka adalah kafilah, jemaah pengungsi kehilangan tujuan
Sepanjang perjalanan mereka bertemu berhala-berhala baja
Mereka tak henti mengutuknya, sampai ke dalam mimpi
Dalam kumandang lagu yang membuat mereka kesurupan

“Kami tak berani hidup lagi, ya Tuhan.
Berilah kami malam bagi segala malam
Biar mentari tak terbit lagi”
Mereka melolong, sampai jadi tuli, ada yang jadi buta

Mari berpuasa, cintaku, dan panjatkan doa buat mereka
Setiap berbuka kita makan tubuh sendiri sambil bercinta
Diiringi kumandang dukana lagu kafilah pengembara

“Bagaimana harus kupikul dosa pada rakyatku?”

Pertanyaan itu semata kegilaan
Igauan dalam kesurupan
Sebab seperti kau tahu, cintaku
Kita tak punya rakyat laiknya raja-raja atau pun penguasa
Kita sudah menyaksikan derita para jemaah
Kemudian jadi penghuni gua di tepi rimba dekat kota lama
Di mana kita bercinta dengan mimpi dan gema-gema

Sama seperti dulu, saat pertama kali kita berjumpa
Sebelum kita mendengar senandung pengembara dinyanyikan
Dengan mahaduka oleh kafilah yang putus asa
Sementara kita tak pernah berhenti bercinta, sayang
Masih akan terus berpuasa dan berdoa. Menjelang maut
Setiap berbuka kita makan lagi tubuh kita sendiri
Karena hanya dengan demikian kita merasakan hidup
dan cinta seadanya, sentana gendang pengembara

Jakarta, 2006

Sumber: Gendang Pengembara (2012)

Analisis Puisi:

Puisi “Gendang Pengembara” karya Leon Agusta merupakan karya yang kompleks dan simbolik, memadukan perjalanan fisik, spiritual, serta refleksi sosial dalam satu kesatuan narasi puitik. Dengan latar pengembaraan lintas ruang dan waktu, puisi ini tidak hanya berbicara tentang perjalanan, tetapi juga tentang krisis kemanusiaan, cinta, dan pencarian makna hidup.

Tema

Tema utama puisi ini adalah pengembaraan hidup dan krisis kemanusiaan. Selain itu, terdapat tema cinta yang hadir sebagai penopang di tengah kehancuran dunia dan penderitaan kolektif.

Puisi ini bercerita tentang dua sosok yang melakukan perjalanan panjang melintasi berbagai negeri—dari rimba, gua, hingga kota-kota tua dan modern. Dalam perjalanan itu, mereka menyaksikan perubahan zaman: kejayaan masa lalu, kehancuran, hingga munculnya peradaban baru.

Namun, perjalanan tersebut juga memperlihatkan penderitaan manusia lain—kafilah pengungsi yang kehilangan arah, hidup dalam ketakutan, bahkan kehilangan harapan. Mereka mengutuk “berhala-berhala baja” (yang bisa dimaknai sebagai simbol modernitas atau kekuasaan yang menindas).

Di tengah situasi itu, penyair dan pasangannya tetap menjalani cinta, doa, dan ritual simbolik yang intens—seolah menjadi cara mereka bertahan dalam dunia yang kacau.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini sangat kaya, di antaranya:
  • Kritik terhadap modernitas dan kekuasaan: “berhala-berhala baja” melambangkan sistem atau teknologi yang menguasai manusia.
  • Krisis identitas dan kemanusiaan: pengungsi yang kehilangan nama dan tujuan menunjukkan hilangnya jati diri.
  • Spiritualitas dalam penderitaan: doa, puasa, dan seruan kepada Tuhan mencerminkan pencarian makna dalam situasi ekstrem.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi didominasi oleh duka yang mendalam, mencekam, dan penuh keputusasaan, namun diimbangi dengan nuansa intim dan reflektif dari hubungan dua tokoh utama.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Puisi ini menyiratkan bahwa:
  • Dunia modern tidak selalu membawa kemajuan bagi kemanusiaan; justru bisa melahirkan penderitaan baru.
  • Manusia harus tetap mempertahankan nilai kemanusiaan, cinta, dan spiritualitas di tengah krisis.
  • Empati terhadap penderitaan orang lain adalah bagian penting dari perjalanan hidup manusia.

Imaji

Puisi ini kaya dengan imaji yang kuat dan berlapis:
  • Imaji visual: “rimba”, “gua-gua”, “gedung menggapai langit”, “kafilah pengungsi”.
  • Imaji auditif: “senandung pengembara”, “kumandang lagu”, “lolongan”.
  • Imaji kinestetik: “perjalanan panjang”, “menghentak jantung”.
  • Imaji simbolik: “berhala baja”, “makan tubuh sendiri”.
Imaji-imaji ini membangun dunia yang luas, sekaligus penuh tekanan emosional dan simbolisme.

Majas

Beberapa majas yang dominan dalam puisi ini:
  • Metafora: “berhala-berhala baja”, “makan tubuh sendiri”.
  • Hiperbola: penderitaan ekstrem yang digambarkan hingga kehilangan indera (tuli, buta).
  • Personifikasi: “langit tersedu”, “mendung punya cerita”.
  • Simbolisme: pengembara sebagai manusia, perjalanan sebagai kehidupan, gendang sebagai irama takdir.
Puisi “Gendang Pengembara” adalah puisi yang menghadirkan perjalanan sebagai metafora kehidupan manusia yang penuh ujian. Dalam dunia yang dipenuhi kehancuran dan kehilangan arah, puisi ini menegaskan bahwa cinta, doa, dan kesadaran akan penderitaan sesama menjadi satu-satunya cara untuk tetap merasa hidup dan manusiawi.

Leon Agusta
Puisi: Gendang Pengembara
Karya: Leon Agusta

Biodata Leon Agusta:
  • Leon Agusta (Ridwan Ilyas Sutan Badaro) lahir pada tanggal 5 Agustus 1938 di Sigiran, Maninjau, Sumatra Barat.
  • Leon Agusta meninggal dunia pada tanggal 10 Desember 2015 (pada umur 77) di Padang, Sumatra Barat.
  • Leon Agusta adalah salah satu Sastrawan Angkatan 70-an.
© Sepenuhnya. All rights reserved.