Puisi: Gerimis (Karya Gunoto Saparie)

Puisi “Gerimis” karya Gunoto Saparie mengingatkan pentingnya kehati-hatian dalam menjalani hidup, tanpa kehilangan keyakinan pada perasaan yang ...
Gerimis

gerimis membasahi rambutku putih
ketika aku terlambat membuka payung 
dan berjalan dengan tertatih-tatih
hati-hati meniti jembatan pring

gerimis pun terus saja menderai
ketika aku ragu melintasi jalan licin
mungkin kisah cinta kita tak terlarai
makin menjadi-jadi—makin tak terpisahkan...

2021

Analisis Puisi:

Puisi “Gerimis” karya Gunoto Saparie menghadirkan gambaran sederhana tentang hujan rintik yang membasahi perjalanan seseorang. Namun, di balik kesederhanaan diksi dan situasi yang ditampilkan, puisi ini menyimpan refleksi mendalam tentang usia, keraguan, dan cinta yang tetap bertahan di tengah keterbatasan.

Gerimis dalam puisi ini bukan sekadar fenomena alam, melainkan simbol suasana batin.

Tema

Tema utama puisi ini adalah perjalanan hidup dan cinta yang tetap tumbuh meskipun waktu dan usia terus berjalan. Terdapat pula tema keraguan dan kehati-hatian dalam menjalani hidup.

Hujan gerimis menjadi latar yang memperkuat nuansa reflektif tentang pengalaman dan hubungan yang tidak mudah terurai.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang berjalan di bawah gerimis. Ia terlambat membuka payung, berjalan tertatih-tatih, dan dengan hati-hati meniti “jembatan pring” (jembatan bambu). Situasi ini menggambarkan kondisi fisik yang tidak lagi muda, ditandai dengan “rambutku putih”.

Di tengah perjalanan yang licin dan penuh kehati-hatian itu, muncul refleksi tentang kisah cinta:

“mungkin kisah cinta kita tak terlarai
makin menjadi-jadi—makin tak terpisahkan...”

Perjalanan fisik yang rapuh justru diiringi keyakinan bahwa cinta tetap kuat dan tidak terurai.

Makna Tersirat

Puisi ini berkaitan dengan perjalanan usia dan keteguhan cinta. Rambut putih menyiratkan usia senja, sedangkan jembatan bambu yang licin melambangkan fase hidup yang rapuh dan penuh risiko.

Gerimis yang terus “menderai” dapat dimaknai sebagai ujian atau cobaan yang datang perlahan namun terus-menerus. Meski demikian, cinta justru digambarkan semakin tak terpisahkan.

Dengan demikian, puisi ini menyiratkan bahwa waktu dan kesulitan tidak selalu melemahkan hubungan; justru dapat mempereratnya.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini cenderung sendu, tenang, dan reflektif. Tidak ada kepanikan atau kegelisahan berlebihan, melainkan kehati-hatian dan perenungan.

Gerimis menciptakan atmosfer yang lembut namun melankolis, selaras dengan kondisi fisik dan batin penyair.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang disampaikan puisi ini adalah bahwa dalam perjalanan hidup—bahkan ketika usia menua dan langkah menjadi tertatih—cinta dapat tetap bertahan dan menguat. Puisi ini juga mengingatkan pentingnya kehati-hatian dalam menjalani hidup, tanpa kehilangan keyakinan pada perasaan yang telah terbangun.

Puisi “Gerimis” adalah puisi reflektif yang memadukan lanskap alam dengan perjalanan batin. Gunoto Saparie menghadirkan hujan rintik sebagai latar yang mempertegas suasana usia senja dan kehati-hatian dalam melangkah.

Di tengah kerapuhan fisik dan kondisi yang licin, cinta justru digambarkan semakin tak terpisahkan. Puisi ini menjadi pernyataan bahwa waktu boleh menua, tetapi kesetiaan dan perasaan dapat tetap utuh.

Puisi Gunoto Saparie
Puisi: Gerimis
Karya: Gunoto Saparie

BIODATA GUNOTO SAPARIE

Gunoto Saparie lahir di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955. Pendidikan formal yang ditempuh adalah Sekolah Dasar Kadilangu, Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Pertama Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Ekonomi Atas Kendal, Akademi Uang dan Bank Yogyakarta, dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang. Sedangkan pendidikan nonformal Madrasah Ibtidaiyyah Islamiyyah Tlahab, Gemuh, Kendal dan Pondok Pesantren KH Abdul Hamid Tlahab, Gemuh, Kendal.

Selain menulis puisi, ia juga mencipta cerita pendek, kritik sastra, esai, dan kolom, yang dimuat di sejumlah media cetak terbitan Semarang, Solo, Yogyakarta, Surabaya, Jakarta, Brunei Darussalam, Malaysia, Australia, dan Prancis. Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Melancholia (Damad, Semarang, 1979), Solitaire (Indragiri, Semarang, 1981),  Malam Pertama (Mimbar, Semarang, 1996),  Penyair Kamar (Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Semarang, 2018), dan Mendung, Kabut, dan Lain-lain (Cerah Budaya Indonesia, Jakarta, 2019). Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004).  Novelnya Selamat Siang, Kekasih dimuat secara bersambung di Mingguan Bahari, Semarang (1978) dan Bau (Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, 2019) yang menjadi nomine Penghargaan Prasidatama 2020 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.

Ia juga pernah menerbitkan antologi puisi bersama Korrie Layun Rampan berjudul Putih! Putih! Putih! (Yogyakarta, 1976) dan Suara Sendawar Kendal (Karawang, 2015). Sejumlah puisi, cerita pendek, dan esainya termuat dalam antologi bersama para penulis lain.  Puisinya juga masuk dalam buku Manuel D'Indonesien Volume I terbitan L'asiatheque, Paris, Prancis, Januari 2012. Ia juga menulis puisi berbahasa Jawa (geguritan) di Panjebar Semangat dan Jaya Baya.

Ia menjabat Pemimpin Redaksi Kampus Indonesia (Jakarta), Tanahku (Semarang), Delik Hukum Jateng (Semarang) setelah sebelumnya menjabat Redaktur Pelaksana dan Staf Ahli Pemimpin Umum Koran Wawasan (Semarang), Pemimpin Redaksi Radio Gaya FM (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Faktual (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Otobursa Plus (Semarang), dan Redaktur Legislatif  (Jakarta).

Kini ia masih aktif menjadi Redaktur Pelaksana Majalah Info Koperasi (Kendal), Majalah Justice News (Semarang), dan Majalah Opini Publik (Blora).

Saat ini ia menjabat Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Jawa Tengah, Ketua III Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Jawa Tengah, dan Ketua Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah. Sebelumnya ia pernah menjabat Ketua Kelompok Studi Seni Remaja (KSSR) Kendal, Ketua Pelaksana Dewan Teater Kendal, Sekretaris Forum Komunikasi Studi Mahasiswa Kekaryaan (Fokusmaker) Jawa Tengah, Wakil Ketua Ormas MKGR Jawa Tengah, Fungsionaris DPD Partai Golkar Jawa Tengah, Sekretaris DPD Badan Informasi dan Kehumasan Partai Golkar Jawa Tengah, dan Sekretaris Bidang Kehumasan DPW Partai Nasdem Jawa Tengah. 

Sejumlah penghargaan di bidang sastra, kebudayaan, dan jurnalistik telah diterimanya, antara lain dari Kepala Perwakilan PBB di Jakarta dan Nairobi, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Pusat, Menteri Perumahan Rakyat, Menteri Penerangan, Menteri Luar Negeri, Menteri Lingkungan Hidup, Pangdam IV/ Diponegoro, dan Kepala Balai Bahasa Jawa Tengah. Selain itu, di tengah kesibukannya menulis, ia kadang diundang untuk membaca puisi, menjadi juri lomba kesenian, pemakalah atau pembicara pada berbagai forum kesastraan dan kebahasaan, dan mengikuti sejumlah pertemuan sastrawan di Indonesia dan luar negeri.
© Sepenuhnya. All rights reserved.