Puisi: Gula (Karya Soni Farid Maulana)

Puisi “Gula” karya Soni Farid Maulana bercerita tentang seseorang yang mengalami gejala kadar gula darah tinggi—ditandai dengan sulit bangun pagi, ...
Gula

Kadar gula di alir darahnya
meninggi. Karena itu bila tidur
sukar bangun pagi.

Ia selalu bilang, hilang kesempatan
mendapatkan matahari pagi
mencium bebungaan, yang tidak jauh
dari kamar tidurnya.

Ia ingin benar melihat embun
berkilau lembut disentuh matahari,
ketika pagi tiba.

Tapi mimpi, selalu memeluknya
di ranjang. Tidak, itu bukan mimpi.
Itu kantuk berat, menghajar kepalanya.

Benarkah kadar gula meninggi
di alir darahnya? Kenapa ia selalu
sering keluar masuk kamar mandi
dan pipis selalu?
Ia ingin benar sembuh
seperti sediakala,
seperti dulu bisa makan
dan minum apa saja.

Ia kutuk segala penyakit
yang singgah di tubuhnya.

"Itu tanda, bahwa maut segera tiba.
Membawamu pergi ke alam lain,"
ujar seekor cicak di kamar tidurnya.

Ia sungguh tidak percaya
mendengar kata-kata itu, tapi tanda
yang ditebar-Nya tak bisa ia bantah.

2008

Sumber: Ranting patah (2018)

Analisis Puisi:

Puisi “Gula” karya Soni Farid Maulana menghadirkan potret reflektif tentang tubuh, penyakit, dan kesadaran akan kefanaan. Dengan bahasa naratif yang lugas, penyair mengangkat persoalan kesehatan—khususnya gejala kadar gula darah tinggi—sebagai pintu masuk menuju renungan yang lebih dalam tentang hidup dan kematian.

Puisi ini bergerak dari realitas medis menuju wilayah eksistensial dan spiritual.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kesadaran akan penyakit dan ketakutan terhadap kematian. Penyakit bukan hanya persoalan fisik, melainkan juga pemicu perenungan tentang batas hidup manusia.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang mengalami gejala kadar gula darah tinggi—ditandai dengan sulit bangun pagi, sering buang air kecil, serta tubuh yang mudah lelah. Ia merindukan kondisi tubuh yang sehat seperti dulu, ketika dapat menikmati hidup tanpa batasan. Namun, di tengah keluhan fisik, muncul bayangan tentang maut yang seakan memberi peringatan.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini bergerak dari ringan dan deskriptif menuju muram dan kontemplatif. Pada awalnya, pembaca diajak menyaksikan keluhan fisik yang hampir terasa biasa. Namun, ketika cicak “berbicara”, suasana berubah menjadi mencekam dan reflektif.

Ada rasa cemas, takut, sekaligus penyangkalan yang manusiawi terhadap kemungkinan akhir hidup.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang disampaikan puisi ini dapat dipahami sebagai:
  • Pentingnya menjaga kesehatan sebelum penyakit datang.
  • Kesadaran bahwa tubuh memiliki batas dan tanda-tanda yang tidak boleh diabaikan.
  • Ajakan untuk merenungkan hidup secara lebih spiritual, karena setiap penyakit bisa menjadi pengingat akan kematian.
Puisi ini tidak sekadar membahas “gula” sebagai zat, tetapi sebagai simbol kenikmatan hidup yang dapat berubah menjadi ancaman bila tak terkendali.

Puisi “Gula” karya Soni Farid Maulana adalah refleksi tentang tubuh yang rapuh dan manusia yang kerap lalai terhadap batasnya. “Gula” dalam puisi ini bukan sekadar kadar dalam darah, melainkan simbol kenikmatan hidup yang dapat berubah menjadi pengingat akan akhir perjalanan manusia.

Soni Farid Maulana
Puisi: Gula
Karya: Soni Farid Maulana

Biodata Soni Farid Maulana:
  • Soni Farid Maulana lahir pada tanggal 19 Februari 1962 di Tasikmalaya, Jawa Barat.
  • Soni Farid Maulana meninggal dunia pada tanggal 27 November 2022 (pada usia 60 tahun) di Ciamis, Jawa Barat.
© Sepenuhnya. All rights reserved.