Puisi: Gunjing (Karya Rusli Marzuki Saria)

Puisi “Gunjing” karya Rusli Marzuki Saria menegaskan bahwa kehidupan bukan hanya tentang rutinitas religius, tetapi juga tentang menjaga hati, ...
Gunjing

Selalu kau bicara hidup bercermin air kulah
Datar jalan ke surau baginya hidup tak mengalah
Sebelum adzan bergema dari menara Mesjid kita
Kita sudah bekerja dan ingin mengenang cipta

Sebelum kita jadi tua untuk bertaubat, kenanglah
Perpisahan yang pernah dimengerti, buanglah
Jabat tanganku, sebab tersedu ini tiap kali datangnya
Angin senja reda makin mengirai rambut putihnya

Mengapa kita berjabatan tangan dalam kehidupan ini, manis
Kehidupan yang tak lagi tenggang-menenggang, sinis
Menapak kedukaan di bukit terjal kampung-halaman
Rumah gedang. Mesjid dan surau berjejeran

Limbubu terbangkan debu di sini
Ayuhlah! Kita berangkat dengan dada berat dinihari
Berkelana adalah ikan dan air tak berpisah
Harapan adalah rumah kita yang belum sudah

1963

Sumber: Horison (Oktober, 1969)

Analisis Puisi:

Puisi “Gunjing” karya Rusli Marzuki Saria menghadirkan lanskap kehidupan kampung yang sarat nilai religius dan sosial. Dengan latar surau, mesjid, rumah gadang, dan suasana senja, penyair membangun refleksi tentang perubahan nilai kebersamaan dalam masyarakat. Judul “Gunjing” sendiri mengarah pada percakapan atau pembicaraan yang bisa bermakna sindiran sosial terhadap kebiasaan berbicara tanpa tenggang rasa.

Puisi ini memadukan nada nostalgia, kritik sosial, dan perenungan spiritual.

Tema

Tema utama puisi ini adalah refleksi kehidupan sosial dan spiritual masyarakat yang mulai kehilangan tenggang rasa.

Puisi ini bercerita tentang kehidupan di kampung halaman yang religius—ditandai dengan jalan ke surau, azan dari menara mesjid, serta kerja sebelum fajar. Namun, di balik gambaran tersebut, muncul kesedihan atas kehidupan yang “tak lagi tenggang-menenggang, sinis.” Penyair mengajak berjabat tangan, mengenang, dan kembali pada nilai kebersamaan sebelum usia menua.

Makna Tersirat

Terdapat sejumlah makna dalam puisi ini:
  • Kritik terhadap lunturnya solidaritas sosial. Kehidupan yang “sinis” menunjukkan pergeseran nilai dalam masyarakat.
  • Kesadaran akan kefanaan waktu. “Sebelum kita jadi tua untuk bertaubat” menyiratkan urgensi memperbaiki diri sebelum terlambat.
  • Harapan sebagai rumah sejati. Larik “Harapan adalah rumah kita yang belum sudah” menunjukkan bahwa rumah bukan sekadar bangunan fisik, melainkan cita-cita dan nilai yang terus diperjuangkan.
Puisi ini mengajak pembaca merenungkan kembali makna kebersamaan, iman, dan harapan.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini cenderung reflektif dan melankolis. Gambaran “angin senja” dan “rambut putihnya” memperkuat nuansa usia yang menua dan waktu yang berlalu. Namun, di balik kesedihan itu, terdapat semangat ajakan: “Ayuhlah! Kita berangkat…”. Nada puisi bergerak dari renungan menuju harapan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang disampaikan puisi ini antara lain:
  • Jagalah nilai tenggang rasa dan kebersamaan dalam kehidupan sosial.
  • Jangan menunda pertobatan dan perbaikan diri.
  • Harapan harus terus dirawat meskipun kehidupan terasa berat.
  • Kebersamaan dan saling berjabat tangan adalah simbol rekonsiliasi dan persaudaraan.
Puisi ini mengingatkan bahwa kehidupan bermasyarakat memerlukan empati dan kesadaran spiritual.

Puisi “Gunjing” karya Rusli Marzuki Saria merupakan refleksi sosial dan spiritual tentang perubahan nilai dalam kehidupan masyarakat. Puisi ini menegaskan bahwa kehidupan bukan hanya tentang rutinitas religius, tetapi juga tentang menjaga hati, empati, dan harapan sebagai rumah sejati manusia.

Puisi Rusli Marzuki Saria
Puisi: Gunjing
Karya: Rusli Marzuki Saria

Biodata Rusli Marzuki Saria:
  • Rusli Marzuki Saria lahir pada tanggal 26 Februari 1936 di Kamang, Bukittinggi.
© Sepenuhnya. All rights reserved.