Puisi: Harapan Rumah Petak Rojali (Karya Wahyu Prasetya)

Puisi “Harapan Rumah Petak Rojali” karya Wahyu Prasetya menggambarkan kehidupan masyarakat pinggiran kota yang terjepit oleh kemiskinan dan ...
Harapan Rumah Petak Rojali

tak ada apa-apa di sini. televisi, koran,
dan sarapan pagi maupun gelas kopi.
di depan meja kayu, kami biasa menguraikan
masa lalu dan masa depan di atas
telapak tangan masing-masing.
pagi hingga petang udara tak pernah
berganti, selain dengus itu saja.

tak ada pintu dengan nasi dan krupuk
hanya jari-jari tangan mengetuk-ngetuk
hari demi hari yang berlompatan itu.
bagai mengajak siang hari untuk memeras
pikirannya menjadi kepulan debu.
dan di sini pula kota besar, kota kecil
tumpah antara cinta dan benci.

hanya guratan-guratan huruf di benak,
mengantar nasib keluar pintu.
mengatakan pada diri sendiri, hari ini
iklan untuk hidup lebih manusiawi,
makan 3 kali sehari dan gizi dan kerja
buat ongkos bermimpi mencaci makimu!

tak ada siapa-siapa selain gerit jendela.
menciptakan musik dari kehampaan,
melukiskan kekasih dan mata pisau,
kami membayangkan manusia yang terbelah
seperti dinding dan atap seng ini,
betapa rapuhnya di hadapan buldozer,
di depan ketakberdayaan yang menakjubkan.

Tambak, 1992-1993

Sumber: Sesudah Gelas Pecah (1996)

Analisis Puisi:

Puisi “Harapan Rumah Petak Rojali” karya Wahyu Prasetya menghadirkan potret kehidupan masyarakat kelas bawah dalam ruang sempit yang sarat tekanan sosial dan ekonomi. Melalui diksi yang lugas namun simbolik, penyair membangun lanskap batin tentang keterbatasan, ketidakberdayaan, sekaligus harapan yang terus diperjuangkan.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kemiskinan struktural dan perjuangan hidup masyarakat kecil di tengah himpitan kota. Rumah petak menjadi simbol ruang hidup yang sempit, bukan hanya secara fisik tetapi juga secara sosial dan ekonomi.

Puisi ini bercerita tentang kehidupan orang-orang yang tinggal di rumah sederhana, menghadapi hari-hari yang stagnan, serta berjuang memenuhi kebutuhan dasar sambil tetap menyimpan harapan akan kehidupan yang lebih manusiawi.

Makna Tersirat

Secara eksplisit, penyair menggambarkan ketiadaan:

“tak ada apa-apa di sini. televisi, koran,
dan sarapan pagi maupun gelas kopi.”

Namun makna dari pengulangan frasa “tak ada” bukan sekadar kekosongan benda, melainkan kekosongan akses terhadap kesejahteraan dan martabat. Ketiadaan tersebut menandakan keterpinggiran sosial.

Baris:

“iklan untuk hidup lebih manusiawi,
makan 3 kali sehari dan gizi dan kerja”

menyiratkan ironi. Hal-hal yang seharusnya menjadi hak dasar manusia justru diposisikan seperti komoditas yang diiklankan. Hidup layak seolah menjadi produk yang sulit dijangkau.

Bagian akhir puisi:

“betapa rapuhnya di hadapan buldozer”

menunjukkan ancaman penggusuran dan kekuatan sistem yang dapat menghancurkan ruang hidup masyarakat kecil kapan saja. Buldozer di sini merupakan simbol kekuasaan dan pembangunan yang tidak berpihak.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi didominasi oleh nuansa muram, tertekan, dan getir. Ada rasa stagnasi dan pengap dalam kehidupan yang digambarkan:

“pagi hingga petang udara tak pernah berganti”

Namun di balik kemuraman tersebut tersimpan kegelisahan dan kesadaran kritis terhadap realitas sosial.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang disampaikan puisi ini adalah ajakan untuk menyadari realitas sosial yang timpang serta pentingnya memperjuangkan martabat manusia. Puisi ini mengkritik sistem yang membuat kebutuhan dasar terasa mewah dan menunjukkan bahwa di balik kesederhanaan hidup masyarakat kecil, terdapat daya tahan dan imajinasi yang terus bekerja.

Penyair seolah ingin menyampaikan bahwa harapan tetap ada, meski berada di ruang paling sempit sekalipun. Namun harapan itu tidak lahir dari kenyamanan, melainkan dari kesadaran akan ketidakadilan.

Puisi “Harapan Rumah Petak Rojali” merupakan puisi yang kuat secara sosial dan simbolik. Dengan bahasa yang sederhana tetapi penuh tekanan makna, Wahyu Prasetya menggambarkan kehidupan masyarakat pinggiran kota yang terjepit oleh kemiskinan dan pembangunan yang tidak ramah.

Puisi ini bukan hanya potret ruang fisik bernama rumah petak, melainkan representasi kondisi sosial yang rapuh—rapuh seperti “dinding dan atap seng” yang sewaktu-waktu dapat runtuh oleh buldozer kekuasaan.

Wahyu Prasetya
Puisi: Harapan Rumah Petak Rojali
Karya: Wahyu Prasetya

Biodata Wahyu Prasetya:
  • Eko Susetyo Wahyu Ispurwanto (akrab dipanggil Pungky) lahir pada tanggal 5 Februari 1957 di Malang, Jawa Timur.
  • Wahyu Prasetya meninggal dunia pada hari Rabu tanggal 14 Februari 2018 (pada umur 61).
© Sepenuhnya. All rights reserved.