Puisi Wahyu Prasetya

Puisi: Metafora Mata Hutan Mahang (Karya Wahyu Prasetya)

Metafora Mata Hutan Mahang Aku mulai menyukai tatapan mata mistik dari balik belukar Berada disekitar tepian atau tengah hutan yang menarikku kearahn…

Puisi: Menatap Bendera dalam Gerimis (Karya Wahyu Prasetya)

Menatap Bendera dalam Gerimis kelembutan waktu yang melahirkan seribu musim dan sejarah dalam masa lalu yang dicucuri airmata dari segala orang. saat…

Puisi: Harapan Rumah Petak Rojali (Karya Wahyu Prasetya)

Harapan Rumah Petak Rojali tak ada apa-apa di sini. televisi, koran, dan sarapan pagi maupun gelas kopi. di depan meja kayu, kami biasa menguraikan …

Puisi: Urbanisasi dari Meja Makan (Karya Wahyu Prasetya)

Urbanisasi dari Meja Makan bagi: goenawan muhamad anak-anakku menggelar peta dunia di wajahku mencari syair samudra dan reruntuhan perang juga meneba…

Puisi: Tarian Mer (Karya Wahyu Prasetya)

Tarian Mer ……"…susu yang inilah, susu yang itulah…" Syair lagu dangdut itupun memantul ke dinding kayu, ke jendela Berkelambu, gerit lantai…

Puisi: Anakku Menulis Merdeka atau Mati (Karya Wahyu Prasetya)

Anakku Menulis Merdeka atau Mati Dengan cat semprot anakku menulis di dinding-dinding rumah kalimat yang ia pilih dari buku tulis sejarah sekolah das…

Puisi: Lembaran (Karya Wahyu Prasetya)

Lembaran sisa kumandang suara takbir masih menghiasi hari kasih dan matahari ranum di belahan langit betapa lain sambutan dari ribuan tangan senyumku…

Puisi: Sesudah Gelas Pecah (Karya Wahyu Prasetya)

Sesudah Gelas Pecah sebelum kau selesaikan lagu terakhir telinga itu terlepas asap rokok yang membakar seorang teman dari kertas berhadapan dengan me…

Puisi: Bingkai Foto di Ruang Makan (Karya Wahyu Prasetya)

Bingkai Foto di Ruang Makan setelah agak lama berdiam dalam piring serta mangkuk kosong, aku bergegas untuk kembali pada anak-anakku yang mengeram. d…

Puisi: Wish You were Here (Karya Wahyu Prasetya)

Wish You were Here bagi: umbu landu paranggi dimana-mana tangan itu menggali jurang untuk kekosongan dengan lengan yang terkikis waktu, menyerahkan h…

Puisi: Memandang Anak-Anak Tak Bersepatu (Karya Wahyu Prasetya)

Memandang Anak-anak Tak Bersepatu hanya matahari yang tumbuh di telapak kaki kecil itu menuju sekolah atau tempat ibadah, kerikil menjelma kudis dan …

Puisi: Bendera Anak-Anak (Karya Wahyu Prasetya)

Bendera Anak-Anak ternyata kemerdekaan itu milik anak-anak. ternyata merdeka itu adalah anak-anak dari segala sudut dunia. ada jejak kecil yang berju…
© Sepenuhnya. All rights reserved.