Puisi: Hari ini Engkau Bernama Sri (Karya Iman Budhi Santosa)

Puisi “Hari Ini Engkau Bernama Sri” karya Iman Budhi Santosa menyampaikan pesan tentang kesadaran kolektif: masyarakat desa hidup dalam ikatan ...
Hari ini Engkau Bernama Sri
: Legenda Dewi Sri

Sehabis kelir, dalang dan wayang
membuang petaka pemali
mata dan hari pun memulai pagi
dan engkau mengintip di ujung bulir srikuning
menunggu kapan jemari tangan-tangan itu menyunting
usai menggelar sesaji sepanjang pematang
doa dan tembang warisan nenek-moyang

"Tertawalah sejenak anak-anak desa
karena kami, Sri – Sadana akan terus menjaga
bukit lembah tanah Jawa..."

"Bukankah padi dulu bunting
mengandung anakmu, Dewi?" Perawan-perawan bertanya
sambil mengelus perutnya
dan para perjaka hilir mudik
merasa perkasa karena keringatnya
engkau berkahi
serupa nasi beras
bersanding ikan teri
kulub daun pepaya
dan urap kelapa muda

Hari ini kusaksikan engkau, Sri
ketika sawah ladang menuai cerita
langit dan bumi menjalin cinta
laki perempuan memboyong puteri jelita
manja bercengkerama di punggung dan pundaknya

2006

Sumber: Ziarah Tanah Jawa (2013)

Analisis Puisi:

Puisi “Hari Ini Engkau Bernama Sri” karya Iman Budhi Santosa merupakan puisi yang mengangkat kembali mitologi agraris Nusantara, khususnya legenda Dewi Sri. Dalam tradisi Jawa, Dewi Sri dikenal sebagai dewi padi, dewi kesuburan, dan simbol kemakmuran.

Melalui perpaduan simbol wayang, sawah, sesaji, serta ritual desa, puisi ini menampilkan relasi spiritual antara manusia, alam, dan warisan leluhur.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kesuburan, kemakmuran, dan spiritualitas agraris dalam budaya Jawa. Puisi ini juga mengangkat tema hubungan sakral antara manusia dan alam, terutama dalam konteks pertanian dan tradisi turun-temurun.

Selain itu, terdapat tema penghormatan terhadap warisan budaya serta mitos yang hidup dalam keseharian masyarakat desa.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah bahwa kemakmuran tidak hanya lahir dari kerja keras, tetapi juga dari harmoni antara manusia, alam, dan doa. Dewi Sri bukan sekadar tokoh mitologi, melainkan simbol keseimbangan ekologis dan spiritual.

Ketika disebutkan:

“langit dan bumi menjalin cinta”

terdapat makna bahwa kesuburan tercipta dari perpaduan unsur kosmis (langit) dan unsur bumi (tanah). Relasi laki-laki dan perempuan yang “memboyong puteri jelita” juga mencerminkan siklus regenerasi kehidupan.

Puisi ini menyiratkan bahwa tradisi dan mitos memiliki fungsi menjaga kesadaran manusia agar tidak serakah terhadap alam.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini terasa sakral, hangat, dan penuh syukur. Ada nuansa perayaan panen sekaligus penghormatan terhadap kekuatan ilahi.

Dialog yang melibatkan anak-anak desa dan para perawan menciptakan suasana komunal yang hidup dan akrab, khas pedesaan Jawa.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang disampaikan puisi ini adalah pentingnya menjaga harmoni dengan alam dan menghormati warisan leluhur. Puisi ini mengingatkan bahwa hasil panen bukan semata-mata hasil kerja manusia, melainkan berkah yang harus disyukuri. Selain itu, puisi ini juga menyampaikan pesan tentang kesadaran kolektif: masyarakat desa hidup dalam ikatan tradisi, doa, dan kebersamaan. Nilai spiritual dan budaya perlu dijaga agar kehidupan tetap seimbang.

Puisi “Hari Ini Engkau Bernama Sri” adalah puisi yang menafsir ulang legenda Dewi Sri dalam konteks kehidupan desa. Iman Budhi Santosa menghadirkan mitos bukan sebagai dongeng masa lalu, melainkan sebagai bagian hidup dari kesadaran masyarakat agraris.

Puisi ini menegaskan bahwa kesuburan, cinta, dan kemakmuran lahir dari harmoni antara langit dan bumi, manusia dan alam, kerja dan doa. Dalam sosok Sri, penyair merayakan kehidupan yang tumbuh dari tanah, tradisi, dan rasa syukur yang tak pernah usai.

Iman Budhi Santosa
Puisi: Hari ini Engkau Bernama Sri
Karya: Iman Budhi Santosa

Biodata Iman Budhi Santosa:
  • Iman Budhi Santosa pada tanggal 28 Maret 1948 di Kauman, Magetan, Jawa Timur, Indonesia.
  • Iman Budhi Santosa meninggal dunia pada tanggal 10 Desember 2020 (pada usia 72 tahun) di Dipowinatan, Yogyakarta, Indonesia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.