Puisi: Hidup Hanya Kekosongan (Karya Wayan Jengki Sunarta)

Puisi "Hidup Hanya Kekosongan" karya Wayan Jengki Sunarta menyampaikan pesan bahwa kesadaran akan kefanaan seharusnya membuat manusia lebih bijak ...
Hidup Hanya Kekosongan

kurelakan kau pergi
setelah cukup lama kita
bergandengan tangan
membentang hari
di taman melati

terbang kau bersama abu
membawa dunia milikmu
mengapa berduka?
akhirnya kita
mesti menerima maut itu

- hidup hanya kekosongan
di luar dan di dalam jagat ini -

tersenyumlah
sambutlah mentari baru
aku pun tersenyum melepasmu
bersama kidung ombak
menuju samudera.

1994

Sumber: Impian Usai (2007)

Analisis Puisi:

Puisi “Hidup Hanya Kekosongan” karya Wayan Jengki Sunarta merupakan refleksi liris tentang kehilangan, kematian, dan penerimaan. Dengan bahasa yang sederhana namun sarat makna filosofis, puisi ini menghadirkan perenungan mendalam mengenai kefanaan hidup dan sikap batin dalam menghadapi perpisahan.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kematian dan penerimaan atas kefanaan hidup. Selain itu, terdapat tema keikhlasan dalam melepaskan orang yang dicintai serta pandangan eksistensial tentang hidup sebagai kekosongan. Puisi ini juga menyentuh tema spiritual dan kontemplatif, terutama ketika menyatakan bahwa hidup hanyalah kekosongan “di luar dan di dalam jagat ini”.

Secara umum, puisi ini bercerita tentang seseorang yang merelakan kepergian seseorang yang dicintainya. Mereka pernah bersama, “bergandengan tangan” dan “membentang hari di taman melati”, tetapi akhirnya harus berpisah karena maut.

Kepergian itu digambarkan melalui simbol “terbang kau bersama abu”, yang mengisyaratkan kematian dan proses kembali menjadi debu. Meski ada kesedihan, penyair mengajak untuk tidak berduka berlebihan, melainkan menerima kenyataan bahwa maut adalah bagian dari takdir hidup.

Di akhir puisi, terdapat nada optimistis ketika penyair mengajak untuk tersenyum dan menyambut mentari baru, seolah menegaskan pentingnya melanjutkan kehidupan.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa hidup bersifat sementara dan pada akhirnya akan kembali pada kekosongan. Frasa “hidup hanya kekosongan” dapat dimaknai sebagai pandangan filosofis tentang kefanaan dan keterbatasan manusia.

Namun, kekosongan tersebut bukan berarti nihilisme total, melainkan kesadaran bahwa segala yang ada di dunia ini tidak abadi. Oleh karena itu, sikap yang tepat adalah menerima dan mengikhlaskan.

Penggambaran perjalanan “menuju samudera” menyiratkan kembalinya manusia pada asal yang luas dan tak terbatas, yang bisa dimaknai sebagai simbol keabadian atau penyatuan dengan semesta.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini cenderung sendu, tenang, dan reflektif. Ada nuansa kesedihan dalam perpisahan, tetapi tidak meledak-ledak. Sebaliknya, puisi ini dibalut ketenangan dan keikhlasan.

Bagian akhir menghadirkan suasana harapan dan penerimaan, terutama melalui ajakan untuk tersenyum dan menyambut mentari baru.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang dapat ditangkap adalah pentingnya menerima kematian sebagai bagian dari siklus kehidupan. Kesedihan adalah hal wajar, tetapi manusia perlu belajar mengikhlaskan dan melanjutkan hidup. Puisi ini juga menyampaikan pesan bahwa kesadaran akan kefanaan seharusnya membuat manusia lebih bijak dan lebih siap menghadapi kehilangan.

Puisi "Hidup Hanya Kekosongan" karya Wayan Jengki Sunarta merupakan puisi reflektif tentang kehilangan dan penerimaan atas kematian. Melalui tema kefanaan, makna tersirat yang filosofis, suasana tenang dan sendu, serta penggunaan imaji dan majas yang simbolik, puisi ini mengajak pembaca untuk memandang hidup secara lebih bijaksana.

Kehidupan mungkin fana dan kosong dalam perspektif tertentu, tetapi penerimaan dan keikhlasan menjadikannya tetap bermakna.

Wayan Jengki Sunarta
Puisi: Hidup Hanya Kekosongan
Karya: Wayan Jengki Sunarta

Biodata Wayan Jengki Sunarta:
  • Wayan Jengki Sunarta lahir pada tanggal 22 Juni 1975 di Denpasar, Bali, Indonesia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.