Puisi: Interlude Lazuardi (Karya Bambang J. Prasetya)

Puisi “Interlude Lazuardi” karya Bambang J. Prasetya mengajak pembaca memahami bahwa kesunyian dan cinta dapat saling bertaut, membentuk pengalaman ..
Interlude Lazuardi

Jika angin yang berhenti
usaplah wajahmu!
Pada langit kamar
dan dingin merapat
di matamu

Desah kerinduanmu
meninggalkan pecahan kaca di sprei
melukai jerit bocah-bocah malam
dibalut kabut

Tinggallah di sini, kekasih
merenda sunyi jadikan bebatuan
lalu taburkan bunga melati
biar aroma mulutmu mengusir resah
di timbun bercak lazuardi

1993

Sumber: Suluk Tanah Perdikan (Pustaka Pelajar, 1995)

Analisis Puisi:

Puisi “Interlude Lazuardi” menampilkan nuansa liris yang kuat dengan perpaduan antara kerinduan, kesunyian, dan keindahan yang samar. Melalui diksi yang puitis dan simbolik, penyair membangun suasana batin yang kompleks dan emosional.

Tema

Tema utama dalam puisi ini adalah kerinduan dan kesunyian dalam relasi cinta. Selain itu, terdapat pula tema tentang luka emosional dan upaya mencari ketenangan.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang berada dalam suasana hening dan dingin, merasakan kerinduan yang mendalam terhadap kekasihnya. Kerinduan tersebut tidak hanya indah, tetapi juga menyakitkan—digambarkan melalui pecahan kaca dan jerit yang terluka. Penyair kemudian mengajak sang kekasih untuk tetap tinggal, bersama-sama merenda kesunyian menjadi sesuatu yang lebih bermakna, bahkan menenangkan.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini antara lain:
  • “Angin yang berhenti” melambangkan keadaan hening atau kekosongan emosional.
  • Pecahan kaca menggambarkan luka batin akibat kerinduan atau hubungan yang tidak utuh.
  • “Merenda sunyi” menunjukkan usaha mengolah kesepian menjadi sesuatu yang lebih bermakna.
  • “Lazuardi” (warna biru) dapat melambangkan ketenangan, kedalaman, sekaligus kesedihan.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini terasa melankolis, sunyi, dan intim, dengan nuansa dingin yang menyelimuti seluruh pengalaman batin penyair.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang dapat ditafsirkan:

Kesunyian dan kerinduan adalah bagian dari pengalaman cinta yang tidak selalu menyenangkan.
Luka batin dapat diolah menjadi keindahan atau ketenangan jika dihadapi bersama.
Kehadiran orang yang dicintai dapat menjadi penawar kegelisahan.

Imaji

Puisi ini kaya akan imaji:
  • Imaji visual: “langit kamar”, “pecahan kaca di sprei”, “bunga melati”, “bercak lazuardi”.
  • Imaji sentuhan: “dingin merapat di matamu”.
  • Imaji perasaan: kerinduan, luka, dan kesunyian.
  • Imaji penciuman: “aroma mulutmu” yang memberi kesan kedekatan intim.

Majas

Beberapa majas yang digunakan:
  • Metafora: “merenda sunyi” sebagai simbol mengolah kesepian.
  • Personifikasi: “dingin merapat” seolah-olah memiliki gerak dan kehendak.
  • Simbolisme: lazuardi sebagai lambang suasana batin (tenang sekaligus sendu).
  • Hiperbola: “melukai jerit bocah-bocah malam” untuk menegaskan intensitas emosi.
Puisi “Interlude Lazuardi” karya Bambang J. Prasetya menghadirkan potret kerinduan yang kompleks—indah sekaligus menyakitkan. Dengan bahasa yang kaya imaji dan simbol, puisi ini mengajak pembaca memahami bahwa kesunyian dan cinta dapat saling bertaut, membentuk pengalaman batin yang mendalam dan penuh makna.

Puisi: Interlude Lazuardi
Puisi: Interlude Lazuardi
Karya: Bambang J. Prasetya

Biodata Bambang J. Prasetya:
  • Bambang Jaka  Prasetya (atau kadang disingkat Bambang JP) lahir di Yogyakarta pada tanggal 28 Oktober 1965.
© Sepenuhnya. All rights reserved.