Puisi: Interogasi (Karya Soni Farid Maulana)

Puisi “Interogasi” karya Soni Farid Maulana menghadirkan dialog antara manusia dan Tuhan—sebuah proses penghakiman sekaligus pengakuan diri yang ...
Interogasi (1)

Pesakitan, berapa umurmu?
Kau habiskan untuk apa saja; nafas
Yang Aku berikan padamu? Pada kedua matamu
Aku temukan bayang-bayang kelam bagai

Jajaran pohon hitam yang tumbuh
Di dasar neraka. Orang bilang, suaramu
Juga tubuhmu sungguh indah di bumi;
Tapi di hadapanKu mengapa rupamu

Juga dagingmu; bagai tumpukan
Bangkai anjing yang busuk? Nyanyianmu
Lebih parau dari gagak yang tersesat

Di hutan gelap nilai-nilai. Pesakitan
Apa yang kau harap dari putusanKu setelah
Kau berulangkali mengkhianati cintaKu?

Interogasi (2)

Gusti, jangan tanya berapa umurku,
Kau lebih tahu dari aku. Bakarlah jiwaku
Dalam nyala api cintaMu; biarkan tubuh
Lilinku meleleh, hingga lenyap

Segala noda hitam yang melekat
Pada ruh dan dagingku, yang perlahan
Membusuk oleh nilai demi nilai kegelapan
Yang kerap menjelma cairan arak

Atau anggur keduniawian, yang kuteguk
Hingga mabuk. Sorga atau neraka
Bukan impian yang kudamba saat ini

Hanya satu pintaku janganlah Kau berpaling
Dari wajahku, walau meleleh dalam kobaran
ApiMu. Tajam alifMu nyata sudah adanya

1993

Sumber: Kita Lahir Sebagai Dongengan (2000)

Analisis Puisi:

Puisi “Interogasi” karya Soni Farid Maulana merupakan karya yang kuat secara spiritual dan reflektif. Disusun dalam dua bagian (“Interogasi 1” dan “Interogasi 2”), puisi ini menghadirkan dialog antara manusia dan Tuhan—sebuah proses penghakiman sekaligus pengakuan diri yang intens.

Tema

Tema utama puisi ini adalah pertanggungjawaban moral manusia di hadapan Tuhan. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema penyesalan, dosa, dan pencarian pengampunan.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini terletak pada kesadaran spiritual yang lahir dari pengakuan dosa.

Bagian pertama menunjukkan bahwa manusia sering kali tampak baik di mata dunia, tetapi rapuh dan penuh noda di hadapan Tuhan.

Bagian kedua menegaskan bahwa jalan menuju pemurnian bukanlah pembelaan diri, melainkan penyerahan total.

Simbol “api cinta” menunjukkan bahwa penderitaan atau hukuman dapat menjadi bentuk kasih Tuhan untuk membersihkan jiwa manusia.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi terbagi menjadi dua:
  • Bagian pertama: tegang, mencekam, dan penuh tekanan.
  • Bagian kedua: haru, pasrah, dan penuh pengharapan spiritual.
Perubahan suasana ini mencerminkan peralihan dari penghakiman menuju pertobatan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Puisi ini menyiratkan bahwa:
  • Manusia harus bertanggung jawab atas setiap tindakan dalam hidupnya.
  • Kesadaran akan dosa adalah langkah awal menuju pemurnian diri.
  • Pengampunan Tuhan dapat diraih melalui ketulusan, penyesalan, dan penyerahan diri sepenuhnya.

Imaji

Puisi ini kaya akan imaji yang kuat dan kontras:
  • Imaji visual: “pohon hitam di dasar neraka”, “tumpukan bangkai anjing”, “tubuh lilin meleleh”.
  • Imaji auditif: “suara parau seperti gagak”.
  • Imaji termal: “api cinta yang membakar jiwa”.
Imaji-imaji ini memperkuat kesan kehancuran moral sekaligus proses penyucian.

Majas

Beberapa majas yang dominan dalam puisi ini:
  • Metafora: “tubuh lilin”, “api cinta”, “nilai-nilai kegelapan”
  • Simile (perbandingan): “bagai jajaran pohon hitam”, “bagai bangkai anjing”
  • Personifikasi: nilai-nilai yang “menjelma” dan “membusuk”
  • Simbolisme: api sebagai penyucian, lilin sebagai kefanaan manusia
  • Kontras (antitesis): keindahan di dunia vs kebusukan di hadapan Tuhan
Puisi “Interogasi” adalah puisi yang menggambarkan perjalanan spiritual manusia dari penghakiman menuju penyerahan diri. Dengan bahasa yang keras namun puitis, puisi ini menegaskan bahwa dalam menghadapi Tuhan, manusia tidak bisa bersembunyi dari kebenaran—yang tersisa hanyalah kejujuran, penyesalan, dan harapan akan kasih Ilahi.

Soni Farid Maulana
Puisi: Interogasi
Karya: Soni Farid Maulana

Biodata Soni Farid Maulana:
  • Soni Farid Maulana lahir pada tanggal 19 Februari 1962 di Tasikmalaya, Jawa Barat.
  • Soni Farid Maulana meninggal dunia pada tanggal 27 November 2022 (pada usia 60 tahun) di Ciamis, Jawa Barat.
© Sepenuhnya. All rights reserved.