Puisi: Jatuh (Karya Soni Farid Maulana)

Puisi “Jatuh” karya Soni Farid Maulana merupakan refleksi kritis terhadap kondisi manusia yang sering kali merusak kehidupan, baik secara individu ...
Jatuh

Seperti burung kita bisa jatuh tersungkur
bila menghirup udara kotor. Bahkan bisa mati
seperti ikan di sungai
bila minum racun.
Tapi mengapa kita
begitu gemar bikin perkara
menodai kehidupan
dengan berbagai dalih
yang disangkanya
bisa bikin hidup
bahagia?

Dibikinnya segala jenis bom
yang disangkanya
bisa mendamaikan
antara kita, yang bernafsu
menghancurkan
rasnya sendiri
di bumi.

Semua itu mimpi buruk belaka.
Mimpi yang selalu datang berulang.
Sejarah amis darah
hanya dibaca sambil lalu;
setelah itu dilupa;
seperti tumpukan bon utang
atau berkas apa saja
yang layak dilupakan,
dibuang ke dalam tong
sampah.

Sungguh kita
seperti genting pecah
tak punya harga
kecuali yang berserah diri
sepenuh sujud kepadaNya,
yang bebas dari segala
tiada. Segala tiada.

2011

Sumber: Ranting Patah (2018)

Analisis Puisi:

Puisi “Jatuh” karya Soni Farid Maulana merupakan refleksi kritis terhadap kondisi manusia yang sering kali merusak kehidupan, baik secara individu maupun kolektif. Dengan bahasa yang lugas namun sarat makna, penyair menyampaikan kritik sosial sekaligus renungan spiritual tentang arah kehidupan manusia.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kehancuran moral manusia dan kritik terhadap perilaku destruktif. Selain itu, terdapat tema tentang kesadaran spiritual dan pentingnya kembali kepada Tuhan.

Puisi ini bercerita tentang manusia yang diibaratkan seperti makhluk rapuh—burung dan ikan—yang bisa mati karena lingkungan yang rusak, namun justru menjadi penyebab kerusakan itu sendiri. Manusia digambarkan gemar menciptakan konflik, bahkan senjata pemusnah seperti bom, dengan dalih menciptakan kedamaian.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini antara lain:
  • Manusia adalah penyebab utama kerusakan dunia, baik melalui konflik, peperangan, maupun pencemaran lingkungan.
  • Ada ironi besar ketika manusia menciptakan kehancuran dengan alasan demi kebaikan atau kedamaian.
  • Sejarah penuh kekerasan sering kali diabaikan dan dilupakan, sehingga kesalahan yang sama terus berulang.
  • Kesadaran sejati hanya dapat dicapai ketika manusia berserah diri kepada Tuhan.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi ini cenderung kritis, getir, dan reflektif, dengan nuansa keprihatinan yang mendalam terhadap kondisi manusia.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang dapat dipetik dari puisi ini adalah:
  • Manusia harus menghentikan perilaku destruktif yang merusak kehidupan dan sesama.
  • Penting untuk belajar dari sejarah agar tidak mengulang kesalahan yang sama.
  • Kesadaran spiritual dan penyerahan diri kepada Tuhan menjadi jalan untuk keluar dari kehancuran moral.
  • Kedamaian sejati tidak bisa dicapai melalui kekerasan.

Imaji

Puisi ini memanfaatkan berbagai imaji yang kuat, antara lain:
  • Imaji visual: “burung jatuh tersungkur”, “ikan di sungai mati”, “tumpukan bon utang”, “tong sampah”.
  • Imaji perasaan: keprihatinan, ironi, dan kegelisahan.
  • Imaji gerak: “jatuh”, “menghancurkan”, “dibuang”.
Imaji-imaji tersebut memperkuat kesan kehancuran dan ironi kehidupan manusia.

Majas

Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini meliputi:
  • Perumpamaan (simile): “seperti burung…”, “seperti ikan…” untuk menggambarkan kerapuhan manusia.
  • Ironi: Pembuatan bom yang dianggap dapat mendamaikan.
  • Metafora: “genting pecah” sebagai simbol manusia yang tak bernilai.
  • Repetisi: Pengulangan gagasan tentang mimpi buruk dan kehancuran untuk menegaskan pesan.
  • Simbolisme: “racun”, “bom”, dan “darah” sebagai lambang kehancuran.
Puisi ini merupakan kritik tajam terhadap kondisi manusia modern yang terjebak dalam siklus kehancuran. Soni Farid Maulana tidak hanya mengungkapkan keprihatinan, tetapi juga menawarkan refleksi spiritual sebagai jalan keluar, yakni dengan kembali kepada kesadaran ilahi dan meninggalkan nafsu destruktif.

Soni Farid Maulana
Puisi: Jatuh
Karya: Soni Farid Maulana

Biodata Soni Farid Maulana:
  • Soni Farid Maulana lahir pada tanggal 19 Februari 1962 di Tasikmalaya, Jawa Barat.
  • Soni Farid Maulana meninggal dunia pada tanggal 27 November 2022 (pada usia 60 tahun) di Ciamis, Jawa Barat.
© Sepenuhnya. All rights reserved.