Puisi: Jejak Pengembara (Karya Ngurah Parsua)

Puisi “Jejak Pengembara” karya Ngurah Parsua mengajak pembaca untuk merenungkan perjalanan hidup, mengenali diri, dan memahami bahwa setiap jejak ...
Jejak Pengembara

jejak di matahari; lagu seruling
meniup hutan belantara
siapakah

pagi ini, rerumputan terbakar
jadi abu tanpa debu
siapakah

dipetik nyanyian penghibur
tanpa lelah
getar angin
tak pernah berhenti
siapakah

penyeka darah, di balik
tangis tak pernah berhenti
rindu penyanyi di langit sendiri
menapak jejak
sunyi ditiup seruling abadi
siapakah

Denpasar, Juni 2004

Sumber: 99 Puisiku (Lembaga Seniman Indonesia Bali, 2008)

Analisis Puisi:

Puisi “Jejak Pengembara” karya Ngurah Parsua menghadirkan nuansa kontemplatif yang kuat melalui pertanyaan berulang dan simbol-simbol alam. Puisi ini tidak hanya menggambarkan perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan batin seorang pengembara dalam mencari makna kehidupan.

Tema

Tema utama puisi ini adalah pencarian jati diri dan makna hidup dalam perjalanan spiritual.

Puisi ini bercerita tentang sosok pengembara yang meninggalkan jejak dalam perjalanan panjangnya. Ia berinteraksi dengan alam—matahari, hutan, rerumputan, dan angin—yang seolah menjadi saksi perjalanan tersebut.

Pertanyaan “siapakah” yang terus diulang menunjukkan kegelisahan batin dan pencarian identitas. Pengembara tidak hanya berjalan secara fisik, tetapi juga menelusuri kedalaman dirinya sendiri.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa pencarian jati diri merupakan proses panjang yang penuh kesunyian, pertanyaan, dan perenungan.

Jejak pengembara melambangkan perjalanan hidup manusia, sementara suara seruling dan angin mencerminkan panggilan batin atau suara alam yang membimbing. Pertanyaan “siapakah” menjadi simbol ketidakpastian sekaligus kesadaran akan eksistensi diri.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi ini terasa hening, misterius, dan reflektif, dengan nuansa spiritual yang mendalam.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang dapat diambil adalah bahwa manusia perlu berani menghadapi pertanyaan tentang dirinya sendiri dan menjalani proses pencarian makna hidup dengan kesadaran penuh.

Puisi ini juga mengajarkan bahwa perjalanan hidup bukan hanya tentang tujuan, tetapi juga tentang proses memahami diri.

Imaji

Puisi ini menghadirkan imaji yang puitis dan simbolik, antara lain:
  • Imaji visual: jejak di matahari, hutan belantara, rerumputan terbakar.
  • Imaji suara: lagu seruling, getar angin.
  • Imaji suasana: kesunyian yang mendalam.
  • Imaji simbolik: abu tanpa debu sebagai kehampaan.
Imaji tersebut menciptakan pengalaman batin yang kuat.

Majas

Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini antara lain:
  • Repetisi: pengulangan kata “siapakah”.
  • Metafora: jejak sebagai simbol perjalanan hidup.
  • Personifikasi: angin yang bergetar dan tidak pernah berhenti.
  • Simbolisme: seruling sebagai suara batin atau panggilan jiwa.
  • Paradoks: “abu tanpa debu” sebagai gambaran kehampaan.
Puisi “Jejak Pengembara” karya Ngurah Parsua merupakan karya yang sarat makna filosofis. Dengan bahasa yang simbolik dan suasana yang hening, puisi ini mengajak pembaca untuk merenungkan perjalanan hidup, mengenali diri, dan memahami bahwa setiap jejak yang ditinggalkan adalah bagian dari pencarian makna yang tak pernah selesai.

Ngurah Parsua
Puisi: Jejak Pengembara
Karya: Ngurah Parsua

Biodata Ngurah Parsua:
  • Ngurah Parsua memiliki nama lengkap I Gusti Ngurah Parsua.
  • Ngurah Parsua lahir di Bondalem, Singaraja, Buleleng.
© Sepenuhnya. All rights reserved.