Puisi: Junjungan (Karya Remy Sylado)

Puisi “Junjungan” karya Remy Sylado merupakan refleksi batin yang memadukan kritik terhadap kesombongan manusia dengan kesadaran spiritual akan ....
Junjungan

Belajarlah dari tarikh
tak dengar itu ramalan cuaca
terlambat datang matari pagi ini
awan hitam mogok seperti lagi ngambek
tak beri kesempatan sedikit untuk ngintip
dan kumarahi pikiranku yang jemawa
ingat, masih setia junjunganku
mengatur ini alam.

Aku bangkit bagai si bedebah
yang baru sium dari kepongahan akali
dilena dari panggilan memainkan tabiat ular
kuperhatikan kini, seperti cara ibuku yang lugu
bertemu jejak kebahagiaan dalam kemiskinannya
kalau mekar sesudah ini bunga di tamanku
makin ingat aku betapa junjunganku
setia juga mengatur aku.

Sumber: Kerygma & Martyria (Gramedia Pustaka Utama, 2004)

Analisis Puisi:

Puisi “Junjungan” karya Remy Sylado merupakan refleksi batin yang memadukan kritik terhadap kesombongan manusia dengan kesadaran spiritual akan kekuasaan Tuhan. Melalui bahasa yang santai namun tajam, penyair mengajak pembaca untuk belajar dari pengalaman hidup dan menyadari keterbatasan diri.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kesadaran spiritual dan kritik terhadap kesombongan manusia. Selain itu, terdapat tema tentang pembelajaran hidup, ketundukan kepada Tuhan, dan kesederhanaan.

Puisi ini bercerita tentang perjalanan batin seseorang yang awalnya diliputi kesombongan dan keangkuhan berpikir, lalu tersadar akan kekuasaan Tuhan sebagai “junjungan” yang mengatur alam dan kehidupan. Kesadaran itu muncul melalui pengalaman sehari-hari, termasuk refleksi terhadap kesederhanaan sosok ibu.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini antara lain:
  • Manusia sering terjebak dalam kesombongan intelektual dan merasa mampu mengendalikan hidupnya sendiri.
  • “Junjungan” melambangkan Tuhan sebagai pengatur segala hal, baik alam maupun kehidupan manusia.
  • Kesadaran spiritual sering kali muncul setelah manusia mengalami keterbatasan dan kegagalan.
  • Sosok ibu yang sederhana menunjukkan bahwa kebahagiaan sejati tidak selalu bergantung pada materi, tetapi pada sikap menerima dan bersyukur.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi ini cenderung reflektif dan introspektif, dengan peralihan dari nada sedikit sinis menjadi penuh kesadaran dan ketenangan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang dapat dipetik dari puisi ini adalah:
  • Manusia perlu menghindari kesombongan dan keangkuhan dalam berpikir maupun bertindak.
  • Belajar dari pengalaman hidup (tarikh) sangat penting untuk memahami diri sendiri.
  • Kesadaran akan peran Tuhan sebagai pengatur kehidupan harus selalu dijaga.
  • Kesederhanaan dan rasa syukur adalah kunci menemukan kebahagiaan sejati.
Puisi ini menunjukkan gaya khas Remy Sylado yang mampu memadukan bahasa sehari-hari dengan refleksi mendalam. Puisi “Junjungan” menjadi pengingat bahwa di balik segala kesombongan manusia, ada kekuatan yang lebih besar yang mengatur kehidupan, dan kesadaran akan hal tersebut adalah awal dari kebijaksanaan.

Puisi Remy Sylado
Puisi: Junjungan
Karya: Remy Sylado
© Sepenuhnya. All rights reserved.