Puisi: Kalau Mau Kalau Mau (Karya Slamet Sukirnanto)

Puisi “Kalau Mau Kalau Mau” karya Slamet Sukirnanto adalah sajak kritik sosial yang tajam terhadap realitas politik dan hukum Indonesia pada masa ...
Kalau Mau Kalau Mau

pisau-pisau jadi lembut
dalam darah
korban-korban
Mercy dan BMW
mengunyah permen.
Perut buncit
Jas kedodoran.
Menyeberangi simpang jalan.
Katanya
betapa nikmat
melukai sejarah!
Jam buru-buru berhenti.
mencabut detaknya
menolak jadi saksi.
hakim terkantuk-kantuk
undang-undang batuk darah.
siapa pesan bistik?
di ujung gang becek itu.
kibarkan bendera tinggi-tinggi
jangan kalah
dengan tetangga sebelah.
tanam jagung setiap hari
ubi rambat
luka parah.
kecoak dan tikus-tikus
boleh melawan sepihak
dipijak
kalau mau kalau mau

Jakarta, 1993-1996-1999-2000

Sumber: Gergaji (2001)

Analisis Puisi:

Puisi “Kalau Mau Kalau Mau” karya Slamet Sukirnanto merupakan sajak kritik sosial yang tajam dan satiris. Rentang tahun yang dicantumkan (1993–1996–1999–2000) menunjukkan konteks sejarah Indonesia menjelang dan sesudah Reformasi—periode yang ditandai krisis ekonomi, gejolak politik, dan transisi kekuasaan.

Puisi ini menghadirkan potret realitas sosial-politik dengan bahasa metaforis, fragmentaris, dan penuh ironi.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kritik terhadap kekuasaan, kemunafikan sosial, dan ketimpangan hukum. Selain itu, terdapat tema penyalahgunaan wewenang, ketidakadilan, serta sikap apatis atau sinis terhadap sejarah dan penderitaan rakyat.

Puisi ini bercerita tentang situasi sosial yang penuh paradoks. Kekerasan dan ketidakadilan digambarkan secara simbolik melalui larik-larik seperti:

“pisau-pisau jadi lembut / dalam darah / korban-korban”

Kekuasaan dan kemewahan ditampilkan melalui simbol “Mercy dan BMW”, “perut buncit”, dan “jas kedodoran”, yang menyiratkan elit berkuasa. Sementara itu, hukum digambarkan lemah dan tidak berdaya:

“hakim terkantuk-kantuk / undang-undang batuk darah.”

Sejarah dilukai, waktu berhenti menjadi saksi, dan rakyat kecil hadir dalam citraan “ujung gang becek”, “kecoak dan tikus-tikus”.

Judul sekaligus penutup, “kalau mau kalau mau”, menyiratkan sikap permisif atau tantangan sinis: semua bisa terjadi—asal mau.

Makna Tersirat

Puisi ini adalah kritik terhadap sistem yang korup dan tidak adil. Pisau yang “jadi lembut dalam darah” dapat dimaknai sebagai tumpulnya hukum terhadap pelaku kekuasaan.

“Jam buru-buru berhenti” dan “menolak jadi saksi” menyiratkan bahwa sejarah seolah dibungkam atau dimanipulasi. Hukum yang “batuk darah” menunjukkan sistem peradilan yang sakit.

Sementara itu, simbol kemewahan seperti Mercy dan BMW menunjukkan jarak antara elit dan rakyat kecil. Puisi ini secara tersirat menyoroti ironi nasionalisme kosong—“kibarkan bendera tinggi-tinggi / jangan kalah dengan tetangga sebelah”—di tengah realitas luka sosial.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini getir, sinis, dan penuh ironi. Ada nada satir yang kuat, tetapi juga terasa kemarahan terpendam terhadap ketidakadilan dan kerusakan moral.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat puisi ini adalah ajakan untuk menyadari ketimpangan dan kemunafikan sosial. Puisi ini secara implisit mengingatkan bahwa kekuasaan tanpa moral akan melukai sejarah. Selain itu, terdapat sindiran bahwa perubahan tidak akan terjadi tanpa kemauan—“kalau mau”—yang bisa dibaca sebagai kritik terhadap sikap pasif masyarakat atau penguasa.

Puisi “Kalau Mau Kalau Mau” karya Slamet Sukirnanto adalah sajak kritik sosial yang tajam terhadap realitas politik dan hukum Indonesia pada masa transisi Reformasi. Puisi ini menjadi refleksi pahit atas sejarah yang “dilukai”. Puisi ini menempatkan pembaca di tengah ironi: perubahan dan keadilan mungkin terjadi—tetapi hanya kalau mau.

Puisi Slamet Sukirnanto
Puisi: Kalau Mau Kalau Mau
Karya: Slamet Sukirnanto

Biodata Slamet Sukirnanto:
  • Slamet Sukirnanto lahir pada tanggal 3 Maret 1941 di Solo.
  • Slamet Sukirnanto meninggal dunia pada tanggal 23 Agustus 2014 (pada umur 73 tahun).
  • Slamet Sukirnanto adalah salah satu Sastrawan Angkatan 66.
© Sepenuhnya. All rights reserved.