Puisi: Kata (Karya A. Rahim Eltara)

Puisi “Kata” karya A. Rahim Eltara mengajak pembaca untuk menghargai kekuatan kata dan kreativitas sebagai bagian penting dari kehidupan.
Kata

Laparmu tak akan kenyang
Gusarmu tak akan reda
Cicitmu tak akan henti
Dahagamu tak akan hilang
Lambaimu tak akan sampai
Pelukmu tak akan erat
Pada hasrat
Bila kau tak akrab
Dengan imajiku.

Sumbawa, 1996

Sumber: Kepak Sayap Rasa (Kendi Aksara, 2011)

Analisis Puisi:

Puisi “Kata” merupakan puisi reflektif yang menempatkan bahasa—khususnya imaji—sebagai pusat makna. A. Rahim Eltara menyusun larik-larik pendek dengan repetisi struktur negatif (“tak akan”) untuk menegaskan ketidaklengkapan hidup tanpa keterhubungan dengan imaji atau dunia batin penyair.

Puisi ini sederhana secara struktur, tetapi sarat dengan tekanan filosofis tentang relasi antara hasrat, kebutuhan, dan kekuatan kata.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kekuatan imajinasi dan bahasa dalam memenuhi kebutuhan batin manusia. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema keterasingan—bahwa tanpa kedekatan dengan imaji atau kata, manusia akan tetap merasa lapar, gusar, dan dahaga.

Secara umum, puisi ini bercerita tentang kondisi manusia yang terus-menerus merasa kurang: lapar yang tak kenyang, gusar yang tak reda, dahaga yang tak hilang. Semua kebutuhan itu tampak tak terpenuhi.

Namun pada bagian akhir, penyair memberikan penegasan:

“Bila kau tak akrab
Dengan imajiku.”

Artinya, ketidakpuasan tersebut terjadi karena tidak adanya kedekatan dengan imaji—yang dapat dimaknai sebagai dunia puisi, gagasan, atau kedalaman batin.

Puisi ini bergerak dari daftar kegelisahan menuju satu sebab utama: keterputusan dari imajinasi atau makna.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa kebutuhan fisik dan emosional manusia tidak akan sepenuhnya terpenuhi tanpa sentuhan makna atau imajinasi. Lapar, dahaga, dan gusar dapat dibaca sebagai simbol kebutuhan eksistensial.

“Imaji” dalam puisi ini berfungsi sebagai simbol kreativitas, kesadaran, atau bahkan cinta yang bersifat batiniah. Tanpa kedekatan dengan imaji tersebut, hidup terasa hampa dan tak lengkap.

Puisi ini juga menyiratkan bahwa kata-kata memiliki daya untuk menghidupkan, menguatkan, dan memberi arti.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini cenderung reflektif dan sedikit gelisah. Repetisi frasa “tak akan” menghadirkan nuansa ketegangan dan ketidakpuasan. Namun, bagian akhir memberi kesan pencerahan—bahwa ada jalan keluar melalui kedekatan dengan imaji.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat atau pesan yang disampaikan puisi ini adalah bahwa manusia perlu akrab dengan dunia batin, imajinasi, dan makna agar hidupnya tidak terasa kosong. Bahasa dan imaji bukan sekadar hiasan, melainkan sumber pemenuhan batin. Puisi ini mengajak pembaca untuk menghargai kekuatan kata dan kreativitas sebagai bagian penting dari kehidupan.

Puisi “Kata” karya A. Rahim Eltara adalah refleksi tentang pentingnya imajinasi dan bahasa dalam kehidupan manusia. Melalui repetisi dan metafora sederhana, penyair menegaskan bahwa tanpa kedekatan dengan imaji, kebutuhan batin tidak akan pernah terpenuhi.

Puisi ini mengajarkan bahwa kata bukan sekadar bunyi, melainkan sumber makna yang memberi kedalaman pada hidup manusia.

A. Rahim Eltara
Puisi: Kata
Karya: A. Rahim Eltara
© Sepenuhnya. All rights reserved.