Puisi: Kembali (Karya Yudhistira A.N.M. Massardi)

Puisi “Kembali” karya Yudhistira A.N.M. Massardi adalah sajak reflektif tentang keterasingan akibat kesenjangan sosial dan mobilitas kelas.
Kembali

Kucari jalan kembali
Pada keluarga-keluarga tanpa atap
Sebab mereka tak tercatat dalam peta
Meski tiap warga tersesat di sana. Di tiap kota

Anak yang berontak telah kembali
Ke daerah tak tersangka-sangka

Bau yang dulu, kini tercium lebih menusuk
Selebihnya sisa suram reruntuhan

Bertahun-tahun lampau mereka kutinggalkan
Aku berhasil. Tapi mereka terbenam entah di mana

Bagai menghadapi belantara
Kususuri lagi jejak - antara lain - kakiku sendiri
Di balik pecahan genting dan timbunan sampah

Segala sukses di tangan
Seakan jadi lambang keserakahan
Aku bukan lagi bagian mereka
Aku terasing oleh kesempatan dan jarak

Di mana mereka sekarang?

(Mereka terkurung oleh beton
Sebagian tersingkir ke pinggir
Sebagian jadi hantu ruang tunggu)

Aku bukan lagi bagian mereka
Aku tak bisa kembali
Aku tak bisa kembali mengkhianati mereka!

Januari, 1982

Sumber: Rudi Jalak Gugat (1982)

Analisis Puisi:

Puisi “Kembali” karya Yudhistira A.N.M. Massardi merupakan refleksi sosial yang kuat tentang keterasingan, kesenjangan, dan rasa bersalah akibat keberhasilan pribadi. Sajak ini bergerak dari pengalaman individual menuju kesadaran kolektif tentang mereka yang terpinggirkan dalam pembangunan kota.

Dengan gaya naratif-reflektif, puisi ini menghadirkan pergulatan batin antara masa lalu dan masa kini.

Tema

Tema utama puisi ini adalah keterasingan sosial dan rasa bersalah terhadap kelompok marginal. Selain itu, puisi ini mengangkat tema kesenjangan sosial, perubahan identitas akibat mobilitas sosial, serta ketidakmungkinan untuk benar-benar “kembali” ke akar kehidupan semula.

Makna Tersirat

Puisi ini adalah kritik terhadap pembangunan kota yang meminggirkan masyarakat kecil. “Keluarga tanpa atap” melambangkan kaum miskin urban yang tidak diakui dalam sistem formal.

Keberhasilan tokoh lirik menjadi simbol mobilitas sosial yang menciptakan paradoks: sukses secara individu, tetapi terpisah dari akar sosialnya.

Kalimat “Segala sukses di tangan / Seakan jadi lambang keserakahan” menyiratkan bahwa keberhasilan dalam sistem yang timpang bisa terasa seperti pengkhianatan terhadap solidaritas awal.

Puisi ini juga menyiratkan bahwa waktu dan perubahan sosial dapat memutus keterhubungan emosional seseorang dengan komunitas asalnya.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini muram, reflektif, dan penuh kegelisahan batin. Terdapat nuansa penyesalan serta keterasingan yang mendalam. Nada puisinya kontemplatif dengan sentuhan kritik sosial yang tajam.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat puisi ini adalah:
  • Jangan melupakan akar sosial dan solidaritas terhadap kaum terpinggirkan.
  • Keberhasilan pribadi tidak boleh membuat seseorang kehilangan empati.
  • Pembangunan dan modernisasi harus mempertimbangkan keadilan sosial.
Puisi ini mengingatkan bahwa jarak sosial bukan hanya soal ruang, tetapi juga soal kesadaran dan tanggung jawab moral.

Puisi “Kembali” karya Yudhistira A.N.M. Massardi adalah sajak reflektif tentang keterasingan akibat kesenjangan sosial dan mobilitas kelas. Puisi ini menegaskan bahwa kembali ke masa lalu bukan sekadar soal langkah fisik, melainkan soal kesadaran moral—dan terkadang, kembali berarti menghadapi kenyataan bahwa jarak itu sudah terlalu jauh.

Yudhistira ANM Massardi
Puisi: Kembali
Karya: Yudhistira A.N.M. Massardi

Biodata Yudhistira A.N.M. Massardi
  • Yudhistira A.N.M. Massardi (nama lengkap Yudhistira Andi Noegraha Moelyana Massardi) lahir pada tanggal 28 Februari 1954 di Karanganyar, Subang, Jawa Barat.
  • Yudhistira A.N.M. Massardi dikelompokkan sebagai Sastrawan Angkatan 1980-1990-an.
© Sepenuhnya. All rights reserved.