Puisi: Kembara Kita Berdua (Karya Fridolin Ukur)

Puisi “Kembara Kita Berdua” karya Fridolin Ukur mengajarkan bahwa waktu yang panjang akan terasa singkat jika diisi dengan cinta dan kebersamaan.
Kembara Kita Berdua (1)
hari ulang tahun pernikahan kami yang ke-36

        Adalah hari ini
        6 x 6 tahun lalu
        ketika kau dan aku
        tak lagi sendiri-sendiri;

kini, peristiwa syandu mengulang bayang
setelah kita berdua
beranjak kian menua
berdiri anggun di ambang senja;

        debar jantung ini
        masih seperti dulu
        ketika cincin kawin kupasang
        di jari manismu,
        lalu jemarimu gemetar
        memasukkan cincin di jari manisku.

6 x 6 tahun
adalah kembara panjang yang singkat
karena yang kita alami
hanya cinta, tiada yang lain

        cintamu
        cintaku
        cinta Tuhan!


Kembara Kita Berdua (2)


        Kembara kita berdua
        dalam arung samudera kehidupan
        selalu mengasyikkan,
        tak pernah menjemukan;

untaian melati penghias sanggulmu
masih seharum yang dulu
ketika kita mengikat janji setia

        hari ini kita tambatkan biduk di pantai
        menghitung hari dan pekan
        menjumlah bulan dan tahun; tanpa terasa
        36 tahun terlewat sudah;

hari ini
kita nyalakan perapian tua
pertanda cinta yang tak pernah suram,

        kita peluk hari ini
        kita raih hari esok
        mengawali kembara baru
        menuju pantai emas
        dengan sebuah ucap:
        Terima kasih Tuhan!

Jakarta, 11 Juli 1995

Sumber: Wajah Cinta (2000)

Analisis Puisi:

Puisi “Kembara Kita Berdua” karya Fridolin Ukur adalah refleksi puitik tentang perjalanan panjang pernikahan yang dilandasi cinta dan iman. Ditulis dalam dua bagian, puisi ini merayakan 6 x 6 tahun (36 tahun) kebersamaan sebagai sebuah kembara—perjalanan hidup yang ditempuh bersama dalam suka dan duka, hingga tiba di ambang senja kehidupan dengan rasa syukur yang utuh.

Tema

Tema puisi ini adalah perjalanan cinta dalam pernikahan yang setia dan berakar pada spiritualitas.

Puisi ini bercerita tentang sepasang suami istri yang merayakan hari ulang tahun pernikahan mereka yang ke-36. Bagian pertama mengingatkan kembali momen sakral saat cincin kawin dikenakan—getar jemari, debar jantung, dan janji yang diikrarkan.

Waktu yang panjang—6 x 6 tahun—dipandang sebagai “kembara panjang yang singkat” karena yang dialami hanyalah cinta. Bagian kedua memperluas metafora perjalanan itu menjadi arung samudera kehidupan.

Biduk yang ditambatkan di pantai melambangkan fase refleksi setelah perjalanan panjang. Perapian tua yang dinyalakan menjadi simbol cinta yang tetap hangat. Puisi ditutup dengan ungkapan syukur kepada Tuhan sebagai fondasi cinta mereka.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa pernikahan bukan sekadar ikatan formal, melainkan perjalanan spiritual yang menyatukan dua insan dalam cinta Tuhan.

Metafora kembara dan samudera menunjukkan bahwa kehidupan rumah tangga penuh gelombang, tetapi dapat dinikmati jika dijalani bersama. “Pantai emas” di akhir puisi dapat dimaknai sebagai tujuan akhir kehidupan—kedamaian, kebahagiaan abadi, atau bahkan kehidupan setelah dunia.

Cinta yang disebut berulang—“cintamu, cintaku, cinta Tuhan”—menunjukkan hierarki cinta: relasi suami istri berpuncak pada cinta Ilahi.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini hangat, syahdu, dan penuh rasa syukur. Ada nuansa nostalgia yang lembut, sekaligus optimisme untuk melangkah ke hari esok.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang disampaikan puisi ini adalah bahwa kesetiaan, cinta, dan iman adalah fondasi utama dalam perjalanan pernikahan. Puisi ini juga mengajarkan bahwa waktu yang panjang akan terasa singkat jika diisi dengan cinta dan kebersamaan. Rasa syukur kepada Tuhan menjadi penutup sekaligus inti dari perjalanan itu.

Puisi “Kembara Kita Berdua” karya Fridolin Ukur adalah perayaan cinta yang matang dan spiritual. Tiga puluh enam tahun digambarkan sebagai perjalanan yang sarat makna, bukan sekadar hitungan waktu. Melalui metafora kembara, samudera, dan pantai emas, penyair menegaskan bahwa cinta sejati adalah perjalanan panjang yang dijalani bersama dalam iman dan syukur. Puisi ini menjadi pengingat bahwa pernikahan bukan hanya tentang bertahan, melainkan tentang terus melangkah bersama—menuju hari esok dengan hati yang tetap menyala.

Fridolin Ukur
Puisi: Kembara Kita Berdua
Karya: Fridolin Ukur

Biodata Fridolin Ukur:
  • Fridolin Ukur lahir di Tamiang Layang, Kalimantan Tengah, pada tanggal 5 April 1930.
  • Fridolin Ukur meninggal di Jakarta, pada tanggal 26 Juni 2003 (pada umur 73 tahun).
© Sepenuhnya. All rights reserved.