Puisi: Kenali (Karya Fitri Yani)

Puisi “Kenali” karya Fitri Yani mengajak pembaca untuk menyaksikan—bahkan mengakui—realitas pahit yang dialami masyarakat Kenali, bukan sekadar ...
Kenali

kami hamparkan bunga-bunga sekala
dari hutan para moyang
kopi dan lada 
rumah dan kebun kami kerap terbakar
tubuh anak-anak kami 
dijadikan tumbal
dan pakaian wanita kami
dikoyak-koyak penyamun 
kami menarikan tarian sekura senantiasa
bagai ulat di dalam buah nangka
bagai ludah merah penyirih tua
agar kalian menyaksikan dari jauh
rumah-rumah panggung 
yang kehilangan tangga
ladang-ladang kopi 
yang kehilangan tanahnya sendiri.

2014

Sumber: Lampung Post (edisi 14 Desember 2014)
Catatan:
  1. Kenali: nama daerah di Lampung Barat.
  2. Sekala: tumbuhan hutan yang bunganya menjadi lambang mahkota pengantin perempuan.
  3. Sekura: pesta adat di bulan Syawal, saat orang-orang mengenakan topeng dari kayu atau kain.

Analisis Puisi:

Puisi “Kenali” karya Fitri Yani merepresentasikan suara kolektif masyarakat adat yang terpinggirkan. Dengan latar kultural Lampung Barat—khususnya Kenali sebagai nama daerah—puisi ini memadukan simbol budaya seperti sekala dan sekura dengan realitas sosial yang getir.

Tema

Tema puisi ini adalah perlawanan dan penderitaan masyarakat adat dalam mempertahankan identitas, tanah, serta martabat mereka. Penyair mengangkat persoalan kekerasan, perampasan ruang hidup, dan ancaman terhadap tradisi yang diwariskan leluhur.

Puisi ini bercerita tentang kehidupan masyarakat Kenali di Lampung Barat yang menghadapi berbagai bentuk ketidakadilan: rumah dan kebun terbakar, anak-anak menjadi korban, perempuan mengalami kekerasan, serta tanah dan ladang dirampas.

Di tengah situasi tersebut, mereka tetap mempertahankan simbol budaya seperti bunga sekala—tumbuhan hutan yang menjadi lambang mahkota pengantin perempuan—dan tarian sekura, pesta adat di bulan Syawal saat orang-orang mengenakan topeng kayu atau kain. Tradisi itu menjadi penanda identitas sekaligus bentuk pernyataan eksistensi.

Makna Tersirat

Puisi ini berkaitan dengan kritik sosial terhadap perampasan tanah dan kekerasan struktural yang dialami masyarakat adat. Larik “ladang-ladang kopi / yang kehilangan tanahnya sendiri” bukan sekadar gambaran literal, melainkan metafora tentang keterasingan masyarakat dari hak milik dan ruang hidup mereka.

Demikian pula frasa “rumah-rumah panggung / yang kehilangan tangga” menyiratkan terputusnya akses, baik secara ekonomi, sosial, maupun politik. Tangga sebagai simbol penghubung antara bawah dan atas dapat dimaknai sebagai jalan mobilitas atau harapan yang kini hilang.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini terasa getir, pilu, sekaligus penuh keteguhan. Ada nuansa duka akibat kekerasan yang dialami, tetapi juga semangat bertahan yang tercermin melalui pelestarian sekura dan sekala. Nada kolektif “kami” memperkuat kesan solidaritas dan kebersamaan dalam menghadapi penderitaan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat / pesan yang disampaikan puisi ini adalah pentingnya menjaga identitas budaya dan hak atas tanah leluhur. Penyair menegaskan bahwa meskipun masyarakat adat mengalami penindasan, mereka tetap memiliki martabat dan warisan budaya yang tidak dapat dirampas. Puisi ini juga mengajak pembaca untuk menyaksikan—bahkan mengakui—realitas pahit yang dialami masyarakat Kenali, bukan sekadar melihatnya dari kejauhan tanpa empati.

Puisi “Kenali” karya Fitri Yani merupakan karya yang sarat kritik sosial sekaligus penguatan identitas budaya. Melalui simbol sekala dan sekura, penyair menegaskan bahwa budaya bukan sekadar tradisi, melainkan benteng terakhir martabat masyarakat adat.

Puisi ini menghadirkan potret penderitaan sekaligus ketahanan masyarakat Kenali dalam mempertahankan tanah, budaya, dan harga diri mereka.

Fitri Yani
Puisi: Kenali
Karya: Fitri Yani

Biodata Fitri Yani:
  • Fitri Yani lahir pada tanggal 28 Februari 1986 di Liwa, Lampung Barat, Indonesia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.