Kepada A (1)
ketika kubuka bajumu
dosa tersangkut di tengkorak
nafasku satu-satu
berahi yang rindu
terjatuh ke sepatu
sebuah puisi larut
jadi batu
selamat tinggal
sampai nanti di atap waktu.
Kepada A (2)
cinta saja belum cukup manis
cinta menuntut tempat tidur
kasur dan
segala tetek bengek dapur
1970
Sumber: Horison (Juli, 1974)
Analisis Puisi:
Puisi “Kepada A” yang ditulis pada tahun 1970 menghadirkan dua bagian yang saling berkaitan. Melalui diksi yang lugas, metaforis, dan cenderung provokatif, penyair mengupas relasi antara cinta, hasrat, dan realitas kehidupan. Puisi ini tidak hanya berbicara tentang perasaan, tetapi juga tentang konsekuensi dan dimensi material dari sebuah hubungan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah ketegangan antara cinta, hasrat, dan realitas. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema:
- Relasi tubuh dan moralitas.
- Kerapuhan puisi di hadapan nafsu.
- Cinta yang bersentuhan dengan kebutuhan praktis.
- Kritik terhadap romantisme yang ilusif.
Puisi ini bercerita tentang hubungan antara penyair dan sosok “A”. Di bagian pertama, suasana intim muncul sejak baris awal: “ketika kubuka bajumu”. Namun momen tersebut tidak hanya menghadirkan gairah, melainkan juga rasa bersalah: “dosa tersangkut di tengkorak”.
Hasrat (“berahi yang rindu”) justru digambarkan jatuh dan kehilangan kemuliaannya: “terjatuh ke sepatu”. Bahkan puisi yang semestinya indah “larut jadi batu”. Ada kesan bahwa idealisme atau romantisme berubah menjadi sesuatu yang beku dan berat.
Bagian kedua menghadirkan pernyataan tegas: “cinta saja belum cukup manis”. Cinta menuntut ruang konkret—“tempat tidur, kasur, dan segala tetek bengek dapur”. Artinya, cinta tidak hanya soal rasa, tetapi juga realitas domestik dan kebutuhan sehari-hari.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini cukup kompleks:
- Tubuh dan rasa bersalah. “Dosa tersangkut di tengkorak” menyiratkan konflik batin antara hasrat dan norma moral.
- Runtuhnya romantisme. Puisi yang “jadi batu” menunjukkan bahwa idealisme dapat membeku ketika berhadapan dengan realitas fisik.
- Cinta membutuhkan ruang material. Pernyataan bahwa cinta menuntut “kasur” dan “dapur” menyiratkan bahwa relasi tidak bisa hidup dari perasaan saja; ia membutuhkan fondasi ekonomi dan keseharian.
- Kritik terhadap cinta yang abstrak. Penyair seolah menolak cinta yang hanya bersifat puitis tanpa kesiapan tanggung jawab.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini terasa:
- Intens dan intim.
- Sinis dan reflektif.
- Realistis.
- Sedikit getir.
Nada puisinya berubah dari gairah personal ke kritik sosial yang lebih luas.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Amanat yang disampaikan puisi ini adalah bahwa cinta tidak cukup hanya dirayakan secara emosional atau puitis; cinta memerlukan tanggung jawab, kesiapan, dan realitas konkret.
Puisi ini mengingatkan bahwa:
- Hasrat tanpa pertimbangan moral dapat melahirkan konflik batin.
- Romantisme perlu diimbangi kedewasaan.
- Hubungan menuntut kesiapan praktis, bukan sekadar kata-kata indah.
Puisi “Kepada A” karya T. Mulya Lubis adalah refleksi tajam tentang cinta yang bersinggungan dengan hasrat dan kenyataan. Penyair menolak romantisme kosong dan menunjukkan bahwa cinta memiliki dimensi moral sekaligus material.
Dengan gaya metaforis yang kuat dan nada yang realistis, puisi ini mengajak pembaca memahami bahwa cinta bukan hanya perasaan, tetapi juga tanggung jawab dan kesiapan menghadapi kehidupan nyata.
Puisi: Kepada A
Karya: T. Mulya Lubis
Biodata T. Mulya Lubis:
- T. Mulya Lubis lahir pada tanggal 4 Juli 1949 di Tapanuli Selatan, Sumatra Utara.