Puisi: Ketika Langit dan Bumi tak Lagi Terbayangkan (Karya Leon Agusta)

Puisi “Ketika Langit dan Bumi tak Lagi Terbayangkan” karya Leon Agusta menggambarkan kondisi kehilangan total—baik identitas, ingatan, maupun makna ..
Ketika Langit dan Bumi tak Lagi Terbayangkan

Apakah aku terlihat siang atau kabut atau debu-debu
Tak tahulah. Sungguh tak lagi terbayangkan
Tapi barangkali ketika itu di suatu senja yang asing
Aku pernah punya wajah buat dikenal. Wajahku
Barangkali ketika itu aku hendak mengenangnya
Sebagai tanda dari perkenalan yang diterima
Sebagai tanda dari percintaan yang selesai buat mencipta
Atau barangkali pernah pula ada perkenalan yang lain
Namun segalanya jadi lupa. Tak lagi terpikirkan. Pula –
Bagaimana aku kan tahu sekiranya masih ada saat dan ketika
Masih meniti nafas dalam kesendirian yang lemas indera
Bahkan maut pun tak tersapa dan cinta pun tiada bangkit
Hanya topan perasaan kehilangan yang melaju. Melaju
Kehilangan di daerah pengasingan. Terhantar di sini
Dalam segala tak lagi punya warna atau ungkapan
Ketika langit dan bumi tak lagi terbayangkan

1967

Sumber: Gendang Pengembara (2012)

Analisis Puisi:

Puisi “Ketika Langit dan Bumi tak Lagi Terbayangkan” karya Leon Agusta menghadirkan pengalaman eksistensial yang dalam—tentang kehilangan identitas, ingatan, dan makna hidup. Dengan gaya bahasa reflektif dan alur kesadaran yang mengalir, penyair menggambarkan kondisi batin yang terasing dan terputus dari realitas.

Tema

Tema utama dalam puisi ini adalah krisis eksistensi dan kehilangan jati diri. Selain itu, terdapat tema tentang ingatan, kesepian, dan keterasingan manusia dari makna hidup.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang mempertanyakan keberadaannya sendiri—apakah ia masih memiliki identitas, wajah, atau bahkan kenangan. Ia mencoba mengingat masa lalu: perkenalan, cinta, dan pengalaman hidup, tetapi semuanya terasa kabur dan hilang. Penyair berada dalam kondisi keterasingan yang ekstrem, di mana bahkan konsep dasar seperti langit dan bumi pun tidak lagi dapat dibayangkan.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini antara lain:
  • Hilangnya “wajah” melambangkan hilangnya identitas diri.
  • Ketidakmampuan mengingat masa lalu menunjukkan keterputusan dari pengalaman hidup.
  • “Langit dan bumi tak lagi terbayangkan” menjadi simbol kehampaan total—kehilangan orientasi hidup.
  • Kehilangan dan keterasingan menggambarkan kondisi manusia yang terjebak dalam krisis makna.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini terasa sunyi, hampa, dan melankolis, dengan nuansa keterasingan yang sangat kuat.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang dapat ditafsirkan:
  • Manusia perlu menjaga kesadaran diri dan makna hidup agar tidak terjebak dalam kehampaan.
  • Ingatan dan pengalaman merupakan bagian penting dari identitas manusia.
  • Kehilangan makna hidup dapat membawa seseorang pada keterasingan yang mendalam.

Imaji

Puisi ini kaya akan imaji yang bersifat abstrak dan simbolik:
  • Imaji visual: “kabut”, “debu-debu”, “senja yang asing”.
  • Imaji perasaan: kehilangan, kesendirian, kehampaan.
  • Imaji konseptual: hilangnya langit dan bumi sebagai simbol disorientasi total.

Majas

Beberapa majas yang digunakan:
  • Metafora: “aku terlihat siang atau kabut atau debu-debu”.
  • Simbolisme: langit dan bumi sebagai lambang realitas dan orientasi hidup.
  • Repetisi: pengulangan gagasan kehilangan untuk menegaskan makna.
  • Paradoks: hidup tanpa rasa hidup (maut pun tak tersapa, cinta pun tiada bangkit).
Puisi “Ketika Langit dan Bumi tak Lagi Terbayangkan” karya Leon Agusta merupakan refleksi mendalam tentang krisis eksistensi manusia. Dengan bahasa yang puitis dan simbolik, puisi ini menggambarkan kondisi kehilangan total—baik identitas, ingatan, maupun makna hidup—sehingga mengajak pembaca untuk lebih memahami pentingnya kesadaran diri dalam menjalani kehidupan.

Leon Agusta
Puisi: Ketika Langit dan Bumi tak Lagi Terbayangkan
Karya: Leon Agusta

Biodata Leon Agusta:
  • Leon Agusta (Ridwan Ilyas Sutan Badaro) lahir pada tanggal 5 Agustus 1938 di Sigiran, Maninjau, Sumatra Barat.
  • Leon Agusta meninggal dunia pada tanggal 10 Desember 2015 (pada umur 77) di Padang, Sumatra Barat.
  • Leon Agusta adalah salah satu Sastrawan Angkatan 70-an.
© Sepenuhnya. All rights reserved.