Kisah Dua Hari yang Lalu
Pagi menjelang siang
Sesuatu yang tidak diceritakan, dan akhirnya diceritakan
Lisan Petinggi Pusat menyentakkan hati, jiwa, dan ragaku
Ada rasa sesak di dalam dada... miris dan pilu
Ada rasa duka nestapa mendalam
Ada rasa down dan etos kerja turun
Sekelebat kenangan akan masa-masa yang telah berlalu
Duka lara mengiringi setiap langkahku
Duri terjal selalu menghalau lajuku
Karena kekurangan yang kumiliki
Anugerah dari Yang Maha Kuasa
Yang tidak bisa kutolak dan kuhindari
Maghrib menjelang malam
Kupacu motor bututku pelan-pelan menuju rumah
Menyusuri sepanjang Jalan Raya Bogor Jakarta
Terasa lama sekali antara cibinong – munjul
Membawa hati yang gundah gulana
Rasa pedih di hati yang tak terkira
Melipir sebentar di Giant Cimanggis
Membeli pernak-pernik kebutuhan rumah tangga
Tak sengaja bertemu dengan kawan lama
Yang sedang bercakap dengan temannya
23 tahun lamanya tidak bersua
Ceplas-ceplos kawanku bercakap
Dan kau selalu ingatkan siapa diriku
dan tak sungkan-sungkan kau kabarkan kepada temanmu
tentang siapa diriku di masa-masa lalu
"Kamu orang yang paling terkenal di masa-masa yang silam"
Ah.. begitukah???
Ucapanmu menghentakkan relung-relung jiwaku
Ternyata masih ada kawan lama yang tidak lupa
Akan kenangan-kenangan siapa diriku di masa-masa yang lampau
Ku hanya tersenyum kecut
Ah masa lalu, biar berlalu
Tergerus oleh ruang dan waktu yang trus berlalu
Tapi..
Terima kasih, kawan
Tak sengaja kau telah menghibur hatiku yang lara
Terima kasih, kawan
Dikau mengingatkan siapa diriku
Ah biarlah cerita itu, sebagai pengantar tidur bagi dua buah hatiku
Sekelebat bayangan dua buah hatiku, putri-putri kecilku yang imut-imut
Yang selalu menyapaku bila tiba di rumah
Suaranya jelas dan terang semenjak usia 1 tahun
Bicaranya tak kurang suatu apapun
Beda sekali dengan suara aku seorang ayahnya
Ada rasa syukur atas karunia-Nya...
11 Juli 2019
Analisis Puisi:
Puisi “Kisah Dua Hari yang Lalu” karya Riyanto merupakan sajak naratif yang memotret dinamika emosi dalam rentang waktu singkat: dari kekecewaan, kegundahan, hingga penghiburan dan rasa syukur. Dengan gaya tutur yang lugas dan personal, puisi ini menghadirkan pengalaman batin yang dekat dengan realitas kehidupan sehari-hari.
Tema
Tema puisi ini adalah pergulatan batin menghadapi luka harga diri, kenangan masa lalu, dan akhirnya menemukan kembali rasa syukur dalam keluarga.
Puisi ini bercerita tentang dua peristiwa dalam dua hari yang mengguncang emosi penyair.
Hari pertama ditandai oleh ucapan seorang “Petinggi Pusat” yang menyentakkan hati dan menimbulkan rasa sesak, pilu, serta turunnya semangat kerja. Penyair teringat pada kekurangan yang dimilikinya—yang disebut sebagai “anugerah dari Yang Maha Kuasa”—sesuatu yang tak dapat ditolak maupun dihindari.
Hari berikutnya, dalam perjalanan pulang menyusuri Jalan Raya Bogor Jakarta, ia bertemu kawan lama setelah 23 tahun tak bersua. Sang kawan justru mengingatkannya pada reputasi masa lalu: “Kamu orang yang paling terkenal di masa-masa yang silam.” Ucapan itu menjadi penghiburan tak terduga bagi hati yang sedang lara.
Pada akhirnya, perhatian penyair kembali tertuju pada dua putri kecilnya, yang menjadi sumber kebahagiaan dan rasa syukur.
Makna Tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah bahwa harga diri dan jati diri seseorang tidak ditentukan oleh satu peristiwa atau penilaian sesaat. Luka akibat ucapan orang berpengaruh dapat mematahkan semangat, tetapi kenangan baik dan pengakuan tulus dari sahabat mampu memulihkan kepercayaan diri.
Puisi ini juga menyiratkan penerimaan terhadap kekurangan sebagai bagian dari takdir Ilahi. Frasa “anugerah dari Yang Maha Kuasa” menunjukkan sikap spiritual dalam memaknai keterbatasan.
Pertemuan dengan kawan lama menjadi simbol bahwa masa lalu tidak sepenuhnya hilang; ia tetap hidup dalam ingatan orang lain. Namun, penyair memilih membiarkan masa lalu “tergerus oleh ruang dan waktu” dan memusatkan kebahagiaan pada keluarga.
Suasana dalam Puisi
Suasana puisi bergerak dari muram dan gundah menuju hangat dan penuh syukur. Ada transisi emosional yang jelas: dari sesak dada dan rasa pilu, menjadi senyum kecut, lalu berakhir pada ketenangan batin.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Amanat yang dapat ditangkap adalah:
- Jangan biarkan satu ucapan atau penilaian meruntuhkan harga diri.
- Kenangan baik dan dukungan sahabat dapat menjadi penguat jiwa.
- Keluarga dan rasa syukur adalah sumber keteguhan hidup yang sejati.
Puisi ini mengajak pembaca untuk memandang masa lalu secara bijak dan menempatkan kebahagiaan pada hal-hal yang lebih esensial.
Puisi “Kisah Dua Hari yang Lalu” karya Riyanto adalah refleksi personal tentang jatuh dan bangunnya emosi manusia dalam menghadapi penilaian sosial dan kenangan masa lalu. Melalui perjalanan sederhana dan pertemuan tak terduga, penyair menegaskan bahwa sumber kekuatan sejati terletak pada penerimaan diri, persahabatan, serta rasa syukur atas keluarga yang dimiliki.
Karya: Riyanto
Biodata Riyanto:
- Riyanto lahir pada tanggal 19 September 1977 di Jakarta.