Puisi: Kokok Ayam (Karya Remy Sylado)

Puisi “Kokok Ayam” karya Remy Sylado menghadirkan refleksi tentang kesadaran, waktu, dan tanggung jawab manusia terhadap kehidupan dan nilai-nilai ...
Kokok Ayam

Kukurukuk
kokok ayam adalah lonceng hari
semua tergopoh sebab alasan sendiri
Kelelawar-kelelawar takut rabun mata
nelayan-nelayan takut ditinggalkan ikan
kekasih-kekasih gelap takut kedapatan bermukah.

Kukurukuk
kokok ayam menyuruh matari datang
Ingat Petrus tergesa memutuskan bilang entah
saat gurunya merayakan pesta pertama derita
dan pesta kedua adalah hari ini: antara kita
yang tak peduli lagi suara-Nya memanggil.

Kukurukuk
kokok ayam setia mengimbau
Yang senang tidur tidak mengerti arti hidup
Yang senang tidur berpesta dalam gelap.

Sumber: Kerygma & Martyria (Gramedia Pustaka Utama, 2004)

Analisis Puisi:

Puisi “Kokok Ayam” merupakan karya yang memadukan simbol keseharian dengan makna religius dan kritik sosial. Melalui bunyi sederhana “kukuruyuk”, penyair menghadirkan refleksi tentang kesadaran, waktu, dan tanggung jawab manusia terhadap kehidupan dan nilai-nilai spiritual.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kesadaran manusia terhadap waktu dan panggilan moral/spiritual. Selain itu, terdapat tema pendukung berupa kelalaian manusia dan kritik terhadap gaya hidup yang tidak peduli pada nilai kebenaran.

Puisi ini bercerita tentang kokok ayam sebagai penanda datangnya pagi dan awal kehidupan baru. Namun, tidak semua makhluk meresponsnya dengan cara yang sama—ada yang tergesa karena kebutuhan hidup, ada yang takut ketahuan atas perbuatannya, dan ada pula yang tetap terlelap.

Puisi ini juga menyisipkan rujukan religius tentang Simon Peter (Petrus), yang mengingatkan pada momen penyangkalan terhadap gurunya. Hal ini memperkuat makna bahwa kokok ayam adalah simbol peringatan atau kesadaran.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini antara lain:
  • Kokok ayam melambangkan peringatan, kesadaran, dan awal perubahan.
  • Berbagai reaksi makhluk menunjukkan bahwa manusia memiliki kepentingan dan respons berbeda terhadap waktu dan tanggung jawab.
  • Rujukan pada Petrus menyiratkan bahwa manusia sering lalai, bahkan mengingkari kebenaran, meskipun telah diperingatkan.
  • “Yang senang tidur berpesta dalam gelap” menunjukkan bahwa sebagian orang memilih ketidaksadaran dan kenyamanan semu daripada menghadapi kebenaran.
  • Puisi ini mengkritik sikap manusia yang tidak peduli terhadap panggilan moral atau spiritual.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini terasa:
  • Reflektif dan simbolik.
  • Kritikal dengan nuansa sindiran.
  • Sedikit religius dan kontemplatif.

Amanat / Pesan

Pesan yang dapat diambil dari puisi ini antara lain:
  • Manusia harus peka terhadap “peringatan” dalam hidup, baik berupa waktu maupun suara hati.
  • Jangan terjebak dalam kelalaian atau kenyamanan yang membuat kita lupa akan tanggung jawab moral.
  • Kesadaran adalah kunci untuk memahami arti hidup yang sesungguhnya.
  • Kehidupan bukan sekadar rutinitas, tetapi juga panggilan untuk bertindak benar.

Imaji

Puisi ini menghadirkan imaji yang cukup konkret:
  • Imaji pendengaran: “kukurukuk” sebagai bunyi kokok ayam.
  • Imaji visual: aktivitas makhluk di pagi hari, suasana terang yang mulai muncul.
  • Imaji perasaan: kecemasan, ketergesaan, dan kelalaian.
Imaji suasana: peralihan dari gelap ke terang.

Majas

Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini antara lain:
  • Metafora: kokok ayam sebagai simbol kesadaran.
  • Simbolisme: pagi sebagai awal kehidupan baru.
  • Alusi: kisah Petrus dalam tradisi religius.
  • Satire/Sindiran: kritik terhadap manusia yang “senang tidur”.
  • Repetisi: pengulangan “kukurukuk” untuk menegaskan makna.
Puisi “Kokok Ayam” karya Remy Sylado mengangkat simbol sederhana menjadi refleksi yang mendalam tentang kehidupan manusia. Dengan memadukan unsur keseharian dan religius, penyair menyampaikan kritik terhadap kelalaian manusia dalam merespons panggilan moral. Puisi ini mengajak pembaca untuk lebih sadar, peka, dan tidak mengabaikan makna hidup yang sesungguhnya.

"Puisi Remy Sylado"
Puisi: Kokok Ayam
Karya: Remy Sylado
© Sepenuhnya. All rights reserved.