Puisi: Kotaku Sayang Wahai Kotaku (Karya Rusli Marzuki Saria)

Puisi "Kotaku Sayang Wahai Kotaku" karya Rusli Marzuki Saria menyajikan gambaran kota dengan berbagai aspek sejarah, perubahan, dan ....
Kotaku Sayang Wahai Kotaku

Kotaku sayang, wahai kotaku
Kota punggung kaki Merapi dan Singgalang kuingat namamu
Berselendang awan mayang tumpas girang
Kotaku sayang, atas namamu telah undang
: bencana perang saudara

Pada tahun-tahun pertama, ya pada tahun-tahun pertama
Lewat gang-gang kota, jalan Kumidi, Pasar bawah, los daging
    pasar Teleng, betapa sepinya.
Kiranya kutahu ia sedang hamilkan sesuatu
Seperti Merapi yang berasap
Singgalang bertelaga.

Dengan celana pendek bertambal tanpa alas kaki
Kujalani lagi jalanan dulu dengan rindu
Bendi-bendi mendaki pedati-pedati yang merangkak
Kuda dan kerbau sudah jadi tua
– Wahai, sudah pulang petualang
Muka keriput gigi ompong makin tua.

Dengan terima kasih yang dalam sehabis rinai
Kutegur jam gedang bertahan dalam limbubu waktu
Senyum empuknya tak kenalku lagi
Pukul satu.

Kukenal engkau kotaku, kukenal engkau
Barisan murid-murid sekolah, pawai kemenangan
Tugu dan Taman
Museum tak lagi bercerita seperti dulu:
Sitinjau laut
Sibayau-bayau
Rumah gedang penanti tamu.

Kotaku, kusebut namamu
Kota pendiam dalam sejarah
Bagai de Kock dulu bangun benteng
Dan Westenenck minta blasting anak negari
Pembeli mesiu
Tapi engkau lestari kotaku
Terlalu pemalu dan sangat maklum.

Izinkan aku, kota kesayangan
Menyebut namamu sebagai ibu tak pendendam
Terima kembali gundahan rinda perjaka
Salam…

Kukenal engkau kotaku, kukenal engkau
Di tahun-tahun terakhir ini juga aku bersamamu
Di tiap tikungan jalanmu tergantung slogan
Kita sudah mamah slogan itu?
Kita sudah ditidurkan slogan itu?

Kota peramah kota pendiam, kotaku sayang
Adakah ia catat mulut dibungkem senjata
Adakah sejarah menyuruh diam?

Ah, kotaku hamilkan sesuatu
Bagai ibu, kekasih sedang menunggu
Tapi, awan-awan bulu ayam pun bergantungan
Di tiap jendela dan pintu.

Kota peramah kota pendiam, kotaku sayang
Jalan menanjak jenjang-jenjang kota
Nafas kuda bendi tinggalkan kandang
Engkau telah maklum makin pendiam
Salam padamu dari wargamu yang kesekian...

1966

Sumber: Parewa (1998)

Analisis Puisi:

Puisi "Kotaku Sayang Wahai Kotaku" karya Rusli Marzuki Saria adalah sebuah penghormatan terhadap kota yang dicintai, dan dalam prosesnya, ia menyajikan gambaran kota dengan berbagai aspek sejarah, perubahan, dan hubungan emosional yang rumit dengan penulis. Puisi ini merenungkan eksistensi kota sebagai entitas yang memiliki lapisan sejarah, sosial, dan emosional yang kompleks.

Rasa Sayang pada Kota: Puisi ini terbuka dengan ungkapan rasa sayang yang mendalam terhadap kotanya. Penulis menyiratkan hubungan yang erat dengan kota, merujuk pada gunung-gunung sebagai titik referensi yang mengikat hubungan emosional dan geografis.

Bencana Perang Saudara: Penulis mengutip nama kota dalam konteks bencana perang saudara, menciptakan kontras antara rasa sayang dan kejadian tragis. Hal ini mengisyaratkan rasa keprihatinan terhadap perubahan yang terjadi di kotanya akibat konflik sosial.

Kenangan Masa Lalu: Puisi ini mengandung elemen nostalgia dengan menggambarkan kenangan masa lalu seperti jalan-jalan, pasar, dan tempat-tempat yang kini sepi. Penggambaran ini mengungkapkan rindu akan masa-masa yang lampau dan perubahan yang telah terjadi.

Simbolisme Budaya dan Sejarah: Penulis menggunakan istilah-istilah lokal dan sejarah dalam puisi untuk menggambarkan makna yang lebih dalam. Istilah seperti "Merapi" dan "Singgalang" bukan hanya mengacu pada gunung, tetapi juga memiliki konotasi budaya dan sejarah yang memberi kedalaman pada puisi.

Perubahan dalam Zaman: Puisi ini mencerminkan perubahan kota dari masa ke masa. Dalam garis-garis seperti "Barisan murid-murid sekolah, pawai kemenangan," penulis menunjukkan evolusi kota melalui peristiwa-peristiwa bersejarah yang dijalani bersama.

Pertanyaan tentang Keheningan Sejarah: Puisi ini mengangkat pertanyaan apakah sejarah yang menyuruh diam. Hal ini merujuk pada kecenderungan kita untuk melupakan dan mengabaikan sejarah serta mempertanyakan apakah sejarah pernah mengajarkan pelajaran kepada kita.

Perubahan dan Antisipasi: Puisi ini menggambarkan kota sebagai sesuatu yang dinamis dan terus berubah. Simbolisme awan-awan bergantungan di jendela dan pintu menggambarkan antisipasi terhadap perubahan dan masa depan yang belum terlihat.

Puisi "Kotaku Sayang Wahai Kotaku" menciptakan gambaran kompleks dan mendalam tentang hubungan penulis dengan kotanya. Dengan menggunakan metafora budaya, simbolisme, dan nostalgia, puisi ini mengajak pembaca merenungkan hubungan yang rumit antara individu, sejarah, dan tempat yang dicintai.

Rusli Marzuki Saria
Puisi: Kotaku Sayang Wahai Kotaku
Karya: Rusli Marzuki Saria

Biodata Rusli Marzuki Saria:
  • Rusli Marzuki Saria lahir di Kamang, Bukittinggi, pada tanggal 26 Februari 1936.
© Sepenuhnya. All rights reserved.