Puisi: Kuda (Karya Karno Kartadibrata)

Puisi “Kuda” karya Karno Kartadibrata mengajak pembaca untuk merenungi akhir kehidupan sekaligus mempertanyakan nilai-nilai yang ada di masa kini ...
Kuda

Kuda putih yang sekali muncul dalam mimpi
akan datanglah lagi di saat kematianku nanti?
Kakinya basah sampai ke lutut
di mulutnya basah sampai ke lutut

Entah ke mana dibawa mayatku nanti
di punggungnya

Bawalah aku ke kemah-kemah orang dulu
jauhkan dari orang-orang kini

1973

Sumber: Horison (Mei, 1975)

Analisis Puisi:

Puisi “Kuda” karya Karno Kartadibrata merupakan karya yang sarat simbol dan nuansa mistis. Dengan bahasa yang singkat namun padat, penyair menghadirkan gambaran tentang kematian, perjalanan terakhir, serta kerinduan terhadap masa lampau yang dianggap lebih bermakna dibanding masa kini.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kematian dan perjalanan menuju alam lain, serta disertai kerinduan terhadap kehidupan masa lalu.

Puisi ini bercerita tentang sosok “kuda putih” yang muncul dalam mimpi dan diasosiasikan dengan kematian. Kuda tersebut seakan menjadi kendaraan yang akan membawa penyair menuju perjalanan terakhirnya. Di bait selanjutnya, terdapat keinginan agar setelah kematian, ia dibawa kembali ke “orang dulu”, menjauh dari “orang-orang kini”.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini cukup mendalam. “Kuda putih” dapat dimaknai sebagai simbol kematian atau pembawa roh menuju alam baka. Warna putih sering diasosiasikan dengan kesucian atau akhir kehidupan.

Selain itu, keinginan untuk “dibawa ke kemah-kemah orang dulu” menunjukkan kerinduan terhadap masa lalu yang dianggap lebih murni, jujur, atau bermakna, sekaligus kritik terhadap kehidupan masa kini yang mungkin dirasa kehilangan nilai-nilai tersebut.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi ini terasa mistis, sunyi, dan kontemplatif, dengan sentuhan rasa pasrah terhadap kematian.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang dapat ditangkap adalah bahwa kematian merupakan bagian tak terelakkan dari kehidupan, dan setiap manusia memiliki refleksi pribadi tentang bagaimana ia ingin “kembali”. Puisi ini juga menyiratkan pentingnya menghargai nilai-nilai lama yang mungkin mulai hilang di zaman sekarang.

Imaji

Puisi ini menghadirkan imaji visual yang kuat dan simbolik, seperti:
  • “kuda putih” yang muncul dalam mimpi.
  • “kakinya basah sampai ke lutut”.
  • “mayat di punggungnya”.
Imaji tersebut menciptakan gambaran yang surreal dan memperkuat nuansa misterius dalam puisi.

Majas

Beberapa majas yang tampak dalam puisi ini antara lain:
  • Simbolisme: kuda putih sebagai lambang kematian atau perjalanan akhir.
  • Metafora: perjalanan dengan kuda sebagai representasi perpindahan dari kehidupan ke kematian.
  • Pertanyaan retoris: “akan datanglah lagi di saat kematianku nanti?” yang menegaskan perenungan penyair.
Puisi “Kuda” karya Karno Kartadibrata menawarkan refleksi mendalam tentang kematian dan makna kehidupan. Dengan simbol yang kuat dan suasana yang hening, puisi ini mengajak pembaca untuk merenungi akhir kehidupan sekaligus mempertanyakan nilai-nilai yang ada di masa kini dibandingkan dengan masa lalu.

Karno Kartadibrata
Puisi: Kuda
Karya: Karno Kartadibrata

Biodata Karno Kartadibrata:
  • Karno Kartadibrata lahir pada tanggal 10 Februari 1945 di Garut, Jawa Barat.
© Sepenuhnya. All rights reserved.