Puisi: Kuru (Karya Oka Rusmini)

Puisi “Kuru” karya Oka Rusmini menggambarkan pertarungan abadi antara cahaya dan waktu, cinta dan kehancuran, kehidupan dan kekekalan.
Kuru (1)

pernahkah kau kenal cinta anak bajang Betara Surya?
cinta yang tumpah dari persembunyian dunianya
pecahannya merobek setiap sudut wajah batuku

aku, putra Betara Kala
memahat cahaya tulang-tulangmu
dengan warna yang kutawarkan dari pola istana Kala
memandang pohon-pohon berdaun batu
memintal cahaya ayahandamu
menjelmakan setiap akar pohon dengan nyala batu
agar sempurna warna batu
menembus kekalaan dan kesuryaan
memakukan pada tangkai-tangkai
pohon berdaun batu

panahku berbusur runcing batu
mampu membunuh para Titan penjagamu
anak bajang Betara Surya
putra Kala, telah menyiapkan ladang batu
dari kekuatan warna batu
menembus ubun-ubun Tifon jadi batu

anak bajang betara Surya
nyalakan pedupaan pada pelinggih
teteskan pada setiap ujung kekuasaan batu

mari
tatah gua-gua batu
dengan kebersamaan dan rasa lapar
wujud Kamajaya-ku dan wujud Ratih-mu
pada dua rasa batu
memantulkan warna batu lain
dari warna batu yang pernah
disentuh batu-batu lain
agar sempurna warna batu

Kuru (2)

namaku Bajang Betara Surya
tempatku pada tangga awan dan garis langit
di mana para dewa memainkan pagelaran hidupnya
dengan percintaan warna surya
menitiskan roh Brahmana dan mpu

aku terima busurmu
wahai ksatria titisan Kala
dari renta persembunyian warna batu
yang memantul ragu-ragu
bahkan tidak teraba lipatan jubah cahayaku

Betara Kamajaya dan Betari Ratih
menitipkan lontar tulisanmu
kausuarakan kidung-kidung
yang membangunkan roh bunga

menghancurkan pedupaan
yang kuhidupkan setiap purnama dan tilem
menggigilkan tugu-tugu batu

namaku Bajang Betara Surya
memintalmu dalam benang-benang yang kulilitkan
di dua nafas tanganku
melepas busana genitri leluhur

kaukirim panah berbusur batu
merobek lukaku jadi batu
menjelmakan nafasku jadi tetesan batu
dari kebersamaan di gua-gua batu

seperti katamu:
"agar sempurna warna batu, anak bajang."

turunkan pementasanmu untukku
pagelarkan layar yang menutup mahkota keluarga Surya

ksatria, putra Kala
jelmakan aku jadi batu

1992

Sumber: Warna Kita (2007)

Catatan:
Tilem: bulan mati.
Genitri: sejenis biji-bijian yang dibuat untuk kalung pendeta adat.

Analisis Puisi:

Puisi “Kuru” merupakan karya yang sangat kaya simbolisme mitologis dan spiritual. Oka Rusmini membangun dunia puisi yang padat dengan referensi dewa-dewi Hindu-Bali, seperti Betara Surya, Betara Kala, Kamajaya, dan Ratih. Puisi ini juga sarat dengan citraan “batu” yang berulang, membentuk semacam kosmologi simbolik tentang kekuasaan, tubuh, cinta, dan transformasi.

Tema

Tema utama puisi ini adalah pertarungan kosmis antara kekuatan cinta, kekuasaan, dan transformasi spiritual dalam dunia mitologis.

Makna Tersirat

Puisi ini sangat kompleks dan multi-layer:
  • Konflik dualitas kosmis. Surya melambangkan cahaya, kehidupan, dan kesadaran; Kala melambangkan waktu, kehancuran, dan kematian. Puisi ini mempertemukan keduanya dalam satu medan.
  • Cinta sebagai kekuatan transformatif. Kamajaya dan Ratih sebagai simbol cinta sakral menunjukkan bahwa cinta tidak hanya lembut, tetapi juga mampu menghancurkan dan membentuk ulang realitas.
  • Tubuh sebagai material kosmik. Tubuh manusia dan dewa sama-sama dapat “menjadi batu”, menunjukkan hilangnya batas antara materi dan spiritual.
  • Ritual dan mitologi sebagai struktur dunia. Unsur “pedupaan”, “purnama”, “tilem”, dan “genitri” menunjukkan bahwa dunia puisi ini bergerak dalam logika ritual, bukan logika realitas biasa.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini bersifat:
  • Mistis.
  • Kosmis.
  • Sakral.
  • Intens dan dramatis.
  • Penuh ketegangan mitologis.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang disampaikan puisi ini dapat dipahami sebagai refleksi bahwa:
  • Kekuasaan, cinta, dan kehancuran adalah bagian dari satu siklus kosmis yang tidak terpisahkan.
  • Identitas manusia dalam dunia mitologis tidak tetap; ia dapat berubah menjadi simbol (batu, cahaya, ritual).
  • Pertentangan antara kekuatan hidup dan kehancuran menghasilkan keseimbangan spiritual.
Puisi “Kuru” karya Oka Rusmini adalah puisi mitopoetik yang membangun dunia kosmis penuh simbol, terutama “batu” sebagai pusat transformasi eksistensi. Dengan menghadirkan figur Betara Surya dan Betara Kala, puisi ini menggambarkan pertarungan abadi antara cahaya dan waktu, cinta dan kehancuran, kehidupan dan kekekalan.

Puisi ini menegaskan bahwa dalam dunia kosmis yang sakral, segala sesuatu—bahkan tubuh, cinta, dan nafas—dapat berubah menjadi bagian dari struktur semesta yang abadi: batu.

Oka Rusmini
Puisi: Kuru
Karya: Oka Rusmini

Biodata Oka Rusmini:
  • Oka Rusmini lahir di Jakarta pada tanggal 11 Juli 1967.
© Sepenuhnya. All rights reserved.